← Cerita
Diary·Thailand·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Sehari di Malang: Makanan Hangat, Perjumpaan di Pasar, dan Cita Rasa Baru

Pagi Setelah Pertarungan

1 Februari, Malang. Malam sebelumnya, aku menghadapi pertarungan tak terduga dengan sepuluh ekor kecoa. Setelah itu, aku hanya berhasil tidur selama lima jam. Anehnya, ketika jumlahnya sudah sebanyak itu, justru muncul semacam ketenangan.

Di pagi hari, aku berjalan menuju ruang berkumpul seperti biasa. Kakak laki-laki Adi, Anan, dengan baik hati menyiapkan sarapan untukku: Nasi Goreng Ayam. Ia tersenyum dan berkata, “Ini simpel, aku bisa membuatnya kapan saja.” Bagi seorang pengembara sepertiku, kata-kata itu benar-benar menenangkan.

Berburu Pancake

Setelah sarapan, aku beristirahat sejenak, tapi tak lama kemudian teringat pancake buatan Adi. Penasaran, aku menanyakan alamatnya dan mengayuh sepeda sekitar sepuluh menit untuk sampai ke tempatnya.

Biasanya ia berjualan di sebuah lapak di pasar, tapi hari itu dagangannya begitu laris hingga ia sudah tutup. Aku tertawa dan berkata, “Ah, aku kehabisan!” Alih-alih membiarkanku pulang dengan tangan kosong, ia dengan baik hati merekomendasikan lapak lain di dekat situ.

Di sana, aku mencoba bakso ayam bakar, ditusuk dan berair. Hanya 10.000 rupiah—kurang dari satu dolar AS.

Di pasar yang sama, aku bertanya kepada seorang pria pemilik lapak apakah aku boleh memotretnya. Itu pertama kalinya aku meminta izin kepada orang asing tanpa ada hubungan apa pun sebelumnya, tapi ia setuju dengan hangat. Momen itu memberiku keberanian yang tak terduga.

Perjumpaan di Pasar

Saat aku berjalan kembali menuju area sepeda, aku memperhatikan sebuah pohon di dekat situ. Di dalam batangnya, lapisan-lapisan material yang terhimpit rapat memberinya tampilan yang tak biasa, hampir misterius.

Lalu tibalah waktunya untuk berbelanja. Aku menuju Respiro, toko perlengkapan luar ruang lokal. Di sana aku menemukan tas tahan air berukuran besar seharga sekitar 4.000 yen, dan sebuah jaket pelindung UV. Totalnya sekitar 6.000 yen. Harga-harga terjangkau di Indonesia tak pernah gagal membantuku sebagai pengembara.

Tepat saat aku hendak pergi, seorang pemuda di atas motor melambai dan bertanya, “Bisa kita foto bareng?” Kami pun berpose, meski aku lupa memotret motornya yang keren itu. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengendarai motor seperti itu juga.

Di toko itu, staf yang ramah juga memotretku. Itu adalah kedua kalinya hari itu aku meminta seseorang untuk berfoto—sesuatu yang nyaris tak pernah kulakukan.

Kembali ke Tempat yang Terasa Seperti Rumah

Saat aku kembali, tempat itu sudah terasa seperti rumah kedua. Bersantai di sana memberiku rasa memiliki.

Malam harinya, Anan menawarkanku Nasi Ayam. Makanan hangat selama perjalanan bukan sekadar makanan—ia adalah hadiah yang menyentuh hati.

Kemudian, aku bahkan ditraktir Indomie, mi instan kesayangan Indonesia. Dan akhirnya, sebagai pencuci mulut, aku mencicipi durian untuk pertama kalinya. Rasanya seperti mentega yang dicampur bawang putih—aneh pada awalnya, tapi tak terlupakan.

Saat hari itu berakhir, aku kembali merasa bersyukur. Di Malang, aku bukan sekadar seorang pengembara yang lewat. Aku disambut, diberi makan, dan diperlakukan layaknya keluarga.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan