← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·2 menit baca

🇲🇾 Hari Ketika Seorang Asing Memberiku Kartu Yu-Gi-Oh

Memulai Hari dengan Tujuan

16 Desember, Kuala Lumpur. Aku duduk di sebuah warung makan tepat di bawah hotelku, makan sambil menulis, mencoba menyusun kerangka bukuku. Asrama tempatku menginap bukanlah jenis tempat di mana ide-ide mengalir dengan mudah—terlalu sempit, terlalu tertutup. Untuk berpikir jernih, aku butuh ruang, jadi aku memilih keterbukaan sebuah warung makan, dikelilingi suara dan aroma jalanan.

Buku ini selalu menjadi alasan terbesarku untuk melakukan perjalanan ini. Namun aku terus mencari alasan: "Harus mulai dari mana? Ada begitu banyak tugas lain…" Keraguan itu terus membayangiku selama berbulan-bulan. Tapi saat aku menatap buku catatanku yang masih kosong, aku sadar aku tidak bisa terus menunda-nunda. Aku harus mulai, bahkan jika tidak sempurna. Itulah momen ketika aku memaksa diriku sendiri untuk mengambil langkah pertama.

Pertemuan di Chinatown

Menjelang malam, aku berencana bertemu seorang pelancong yang sudah kukenal dari kunjungan sebelumnya. Sekitar pukul enam, kami berkumpul di Chinatown untuk makan malam.

Harga-harganya kembali mengingatkanku pada perbedaan antara Malaysia dan Jepang. Sebotol bir berharga 21 RM (sekitar 739 yen), tidak murah menurut standar lokal. Nasi gorengnya, seharga 10 RM (sekitar 352 yen), sederhana tapi lezat—nasinya dimasak dengan pas, setiap butirnya ringan dan terpisah. Persis seperti yang diharapkan dari hidangan di Chinatown.

Setelah makan, kami berjalan-jalan menyusuri jalanan, menikmati suasana malam yang ramai. Saat itulah kami menemukan sekelompok kecil orang berkumpul di sekitar sebuah meja.

Hadiah Kejutan

Mereka adalah kolektor kartu Yu-Gi-Oh. Aku tidak percaya ketika melihat kartu-kartu tua generasi pertama—Blue-Eyes White Dragon, Marshmallon—kartu-kartu yang belum pernah kulihat lagi sejak masa kecilku. Pemandangan itu memenuhiku dengan nostalgia, seperti tiba-tiba ditarik kembali ke masa lain.

Kami mengobrol selama sekitar sepuluh menit, berbagi tawa. Lalu, salah satu dari mereka menyerahkan sebuah kartu kepadaku. Kartunya adalah Inspector Boarder. Ia tersenyum dan berkata setengah bercanda, "Simpan ini di paspormu supaya kamu tidak tertangkap di perbatasan."

Aku tahu aku tidak akan sering menerima hadiah seperti ini di jalan. Kartu itu, yang diberikan begitu santai, menjadi sesuatu yang akan kuhargai selamanya.

Kembali ke Asrama

Larut malam itu, aku kembali ke asrama. Bangunannya sendiri sama sekali tidak terlihat seperti rumah—tampaknya dulu ini adalah garasi parkir sebuah pusat perbelanjaan, kini dialihfungsikan menjadi ruang hunian.

Aku mengagumi idenya. Alih-alih membangun sesuatu yang sepenuhnya baru, mereka mengubah apa yang sudah ada menjadi sesuatu yang berguna. Ini membuatku berpikir tentang keberlanjutan dan bagaimana kreativitas sering kali dimulai dari apa yang sudah kita miliki.

Asrama itu bahkan menyediakan sepeda untuk para penghuninya, gratis digunakan kapan pun dibutuhkan. Detail kecil, tapi cukup membuatku tersenyum.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan