Pagi yang Penuh Kejutan

29 Oktober. Salam lagi dari sebuah guesthouse di Thailand.
Ketika bercermin pagi ini, aku memperhatikan betapa panjangnya rambutku sejak memulai perjalanan ini hampir dua bulan lalu. Kini lebih panjang, menyentuh leherku, dan aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak memotongnya sampai perjalananku selesai. Itu berarti aku akan membiarkannya tumbuh selama tujuh tahun. Aku tak bisa menahan diri membayangkan sepanjang apa nanti—pikiran kecil namun menyenangkan yang menghubungkanku dengan masa depan.
Sebelum berangkat, aku baru tahu bahwa guesthouse ini menyediakan sarapan. Itu tak terduga, jadi aku pergi melihat seperti apa. Ternyata, lebih baik dari yang kubayangkan: prasmanan dengan roti, semangka segar dan buah-buahan lain, serta kopi isi ulang tanpa batas. Selain itu, ada hidangan utama yang termasuk—baik berbasis nasi maupun mi. Porsinya tidak besar, tapi rasanya enak, dan sekadar disediakannya sarapan saja sudah cukup membuatku merasa bersyukur.
Semua ini seharga sekitar 400 baht, sekitar 1.800 yen. Untuk harga segitu, aku bahkan tak berharap akan ada sarapan sama sekali, jadi aku merasa berterima kasih atas kemurahan hati yang tak terduga ini.
Setelah makan, aku mengemasi barang-barangku dan bersiap berangkat. Para staf dengan baik hati mengizinkanku menyimpan sepedaku di dalam hotel semalaman, aman dan kering. Kebaikan hati itu terus terngiang saat aku mendorong sepedaku keluar ke udara pagi.
Kembali ke Jalan

Perjalanan hari ini tidak terlalu jauh—sekitar 53 kilometer. Bukan jarak yang besar, tapi tanjakan-tanjakan akan membuatnya lebih berat. Selain itu, November semakin dekat, dan aku tahu pantai selatan dekat Teluk Thailand akan segera diguyur hujan lebat. Bayangan hujan deras yang datang tiba-tiba membuatku tetap waspada.
Meski begitu, jalannya terlihat sempurna untuk bersepeda. Mulus, lebar, dan bersih. Sejak memasuki Thailand, aku selalu takjub betapa bagusnya jalan-jalan di sini dibanding negara-negara tetangga. Di Vietnam, setidaknya di Ho Chi Minh City, motor memenuhi setiap sudut jalan, membuatnya menegangkan untuk mengendarai sepeda dengan seluruh barang bawaanku. Di Kamboja, jalannya beraspal tapi tidak semulus ini. Thailand, di sisi lain, sering terasa lebih mudah untuk dikendarai dibanding Jepang sendiri.
Sambil terus mengayuh, sesuatu menarik perhatianku: sebuah monumen gajah raksasa di sisi kiri jalan. Aku pernah melihat patung-patung sebelumnya, tapi tak ada yang sebesar ini sejak memasuki Thailand. Monumen itu berdiri tinggi dan gagah, pengingat betapa dalamnya gajah tertenun dalam identitas negara ini.
Minuman Sederhana, Kebahagiaan Kecil

Sedikit lebih jauh, aku melihat sebuah kedai yang sudah membuatku penasaran selama berhari-hari. Sepertinya setiap kota memilikinya, dan aku sudah berjanji pada diri sendiri bahwa ketika ada waktu, aku akhirnya akan berhenti. Hari ini adalah harinya.
Aku memesan soda jeruk seharga hanya 25 baht—sekitar 113 yen. Minumannya sederhana, disajikan dalam gelas plastik bening berisi es, tapi setelah bersepeda di bawah terik matahari, rasanya luar biasa. Rasa jeruknya kuat, mungkin terlalu kuat jika tidak diaduk dengan baik, tapi tetap menyegarkan.
Aku tertawa sendiri ketika sadar bahwa aku meninggalkan sebagian besar esnya tak tersentuh di dasar gelas, yang membuat rasanya semakin pekat. Lain kali, aku akan lebih tahu. Tapi tetap saja, aku tak bisa menahan diri berpikir: di mana di Jepang aku bisa menemukan sesuatu yang begitu memuaskan, begitu menyegarkan, hanya dengan 25 baht?
Pemeriksaan Jalan

Kembali di jalan, aku melihat kemacetan di depan. Biasanya, dengan sepeda, aku akan menyelinap di antara mobil-mobil dan melewatinya. Tapi kali ini, bahkan motor-motor pun menunggu dengan sabar di belakang truk-truk. Aku memutuskan untuk melakukan hal yang sama.
Tak lama, alasannya menjadi jelas: pos pemeriksaan polisi. Belakangan aku tahu bahwa di Thailand selatan, dekat Songkhla, ada masalah dengan kelompok pemberontak. Karena itu, pos-pos pemeriksaan diperketat di wilayah ini.
Sambil mengamati para petugas bekerja, aku tak bisa menahan diri berpikir bahwa aku cocok dengan ciri-ciri seseorang yang mungkin akan diperiksa dengan cermat—seorang turis asing sendirian dengan tas-tas besar, bepergian ke selatan. Aku diam-diam berharap tak akan terjadi sesuatu yang merepotkan selama aku di sini.
Aroma Hujan

Tak lama setelah melewati pos pemeriksaan, aku merasakan perubahan di udara. Angin, aroma awan, rasa berat di udara—semuanya menandakan hujan. Aku memutuskan lebih baik bergegas.
Tapi aku sudah bersepeda sejak sarapan tanpa berhenti, jadi aku menepi untuk istirahat terakhir. Aku membeli sebotol air seharga 10 baht, meregangkan kaki, dan memikirkan makan siang.
Lalu aku teringat: guesthouse tempatku menginap malam ini berada di daerah pedesaan. Tak akan banyak tempat makan di sekitarnya. Lebih baik membeli makan siang di sini.
Di sebuah warung pinggir jalan kecil, seorang wanita baik hati menyiapkan makanan untukku. Ia memberiku lebih banyak makanan dari yang kuminta, sambil tersenyum berkata, "Segini baik untukmu." Kebaikan hatinya menyentuhku. Inilah momen-momen yang kubawa jauh melampaui jalanan itu sendiri.
Tiba di Guesthouse

Setelah 30 menit lagi bersepeda, aku akhirnya tiba di guesthouse hari ini. Sayangnya, kafe di sebelahnya tutup untuk hari itu. Meski begitu, guesthouse-nya sendiri indah.
Halaman luas menyambutku, dan di baliknya berdiri rumah putih yang menawan dengan suasana lembut dan nyaman. Di dalamnya, kamar-kamarnya luas—hampir terlalu besar untuk satu orang. Terasa seperti tempat yang dibuat untuk dibagi bersama, tapi hari ini, tempat itu hanya untukku sendiri.
Sang pemilik dengan baik hati membantuku memarkir sepeda di bawah atap, sambil berkata, "Mungkin nanti akan hujan." Tindakan kecil penuh perhatian itu mengangkat semangatku.
Aku duduk dengan makan siang yang kubeli sebelumnya. Rasanya lezat, jauh lebih baik dari yang kuduga. Terkadang street food mengejutkanmu dengan rasa yang lebih kaya dari restoran mana pun. Meski kesalahan bisa saja terjadi, lebih sering daripada tidak, warung-warung kecil ini menciptakan makanan yang menyehatkan tubuh sekaligus hati.
Tidak banyak yang bisa dilakukan di sekitar sini, dan ada pekerjaan yang menunggu. Jadi aku tinggal, makan, dan membiarkan ketenangan guesthouse menyegarkanku. Besok, jalanan akan memanggil lagi.
