← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·2 menit baca

🇲🇾 Sehari di Kuala Lumpur: Pasar, Percakapan, dan Shisha di Malam Hari

Jalan-jalan Santai di Pasar

Pada tanggal 13 Desember, aku bangun sekitar tengah hari di Kuala Lumpur dan memutuskan untuk kembali menyusuri Chow Kit Market. Di pagi hari, pasar ini dipenuhi orang, tetapi menjelang siang suasananya terasa hampir tenang.

Kali ini, aku naik ke lantai atas, tempat beberapa restoran Tionghoa berkumpul menjadi satu. Sebuah hidangan bernama "Curry Ramen" menarik perhatianku—bagaimana mungkin aku menolaknya? Hanya dengan 9 RM (sekitar 315 yen), aku mendapatkan semangkuk mi hangat dengan tingkat kepedasan yang pas. Hidangan itu menghangatkan, mengenyangkan, dan sempurna sebelum melanjutkan perjalanan.

Mengobrol dengan Penjual Ikan

Setelah makan siang, aku berjalan-jalan ke bagian makanan laut. Beragamnya jenis ikan membuatku kagum, meski aku tidak bisa mengenali satu pun jenisnya. Harganya ternyata sangat murah: sekitar 15 RM (526 yen) per kilogram.

Saat aku memperhatikan seorang pedagang memotong dan membersihkan ikan, kami mulai mengobrol. Dia bilang dia berasal dari Indonesia, bekerja di Malaysia. Seperti orang-orang lain yang aku temui sehari sebelumnya, dia menjelaskan bahwa upah di sini dua sampai tiga kali lebih tinggi dibanding di kampung halaman. Bagi orang Indonesia, berkunjung ke Malaysia tidak memerlukan visa, dan bahkan untuk bekerja pun prosesnya jauh lebih mudah dibanding negara lain.

Banyak dari para pekerja itu berasal dari Sumatra, karena perjalanan dari Dumai ke Port Klang hanya memakan waktu beberapa jam dengan kapal feri. Mendengarkan cerita mereka memberiku wawasan dan gagasan baru. Setiap percakapan membuka pintu, membuatku ingin melihat lebih banyak tempat—seperti mengunjungi daerah-daerah asal mereka yang diceritakan dengan penuh kebanggaan.

Buah untuk Bekal Perjalanan

Sebelum pergi, aku singgah di sebuah kios yang direkomendasikan oleh para penjual ikan tadi. Aku membeli sekantong kecil campuran berbagai buah seharga 10 RM (sekitar 350 yen). Menyenangkan rasanya mencoba beragam buah, meski pada akhirnya hanya jeruk mandarin yang cocok dengan lidahku. Namun, itu tetap menjadi pelajaran kecil lainnya—terkadang menemukan sesuatu berarti mengetahui apa yang tidak cocok sama pentingnya dengan apa yang cocok.

Malam di Bar Shisha

Malam itu, rasa penasaran membawaku ke sebelah utara hotel, tempat aku melihat deretan bar shisha malam sebelumnya. Ketika aku bertanya soal harganya, pria di pintu masuk berkata, "18 RM (sekitar 450 yen)." Aku terkejut. Di Jepang, shisha biasanya berharga setidaknya tiga kali lipat dari itu, belum termasuk minuman.

Aku tidak mampir malam sebelumnya, tetapi malam ini terasa tepat. Bar itu dikelola oleh seorang pria asal Pakistan yang bekerja di meja resepsionis pada siang hari dan mengurus restoran shisha ini pada malam hari. Sambil mengobrol, aku bilang padanya bahwa mungkin suatu hari nanti aku akan bepergian ke Pakistan. Dia tersenyum dan berkata, "Kalau kamu datang, aku akan ada di sana untuk membantumu."

Mendengar kata-kata itu membuatku dipenuhi rasa syukur. Bertemu seseorang di negeri asing yang menawarkan persahabatan, bimbingan, atau bahkan sekadar janji dukungan, adalah sesuatu yang selalu kuhargai.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan