← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Sehari di Pronojiwo: Persahabatan, Makanan, dan Keimanan

Mengiyakan Hal yang Tak Terduga

7 Februari, Pronojiwo. Pagi itu, Chandra bertanya padaku, "Aku perlu menemui seorang teman. Mau ikut?" Perjalanan ini mengajarkanku satu hal: ketika aku mengatakan ya, pintu-pintu baru terbuka. Jadi aku setuju.

Kami berkendara dengan motornya selama sekitar dua puluh menit dan tiba di sebuah kota kecil yang dikelilingi gunung. Sementara Chandra menemui temannya, aku punya waktu untuk berkeliling. Jalanannya sepi, dipenuhi toko-toko kecil—bahkan ada bengkel sepeda yang terselip di antaranya.

Merasa sedikit lapar, aku membeli beberapa camilan. Saat aku berdiri di sana, sekelompok siswi tiba-tiba muncul, penasaran dan tersenyum. Orang asing jarang mengunjungi daerah ini, jadi kehadiranku menarik perhatian. Kami tertawa dan mencoba mengobrol, dan meski kadang kata-kata gagal menyampaikan maksud, Google Translate menjembatani celah itu. Keramahan mereka kembali mengingatkanku betapa terbukanya orang-orang di negara ini.

Penemuan-Penemuan Manis

Ketika pertemuan Chandra selesai, ia mengusulkan, "Ayo mampir makan es krim favoritku." Aku tidak ragu sedikit pun. Ternyata bukan sekadar es krim—hidangannya dilengkapi buah, jeli, bahkan roti dengan rasa yang unik. Manis, dingin, menyegarkan. Setiap sudut Indonesia tampaknya menyimpan rasa-rasa baru yang belum pernah kukenal.

Kembali di rumah, tibalah waktu untuk menepati janji yang sudah kubuat sebelumnya: membantu membersihkan kolam koi. Koi-koi itu, kudengar, diimpor dari Jepang. Aku tahu betapa berharganya ikan koi, jadi aku bekerja dengan hati-hati, menyikat bebatuan sambil berusaha tidak mengganggu ikan-ikan itu. Tugas yang sederhana, tapi membuatku merasa menjadi bagian dari keluarga itu.

Mengenakan Tradisi

Saat matahari terbenam, Chandra berkata, "Malam ini, kita akan ikut makan malam gratis." Aku tidak yakin apa maksudnya. Tak lama kemudian, aku mendapati diriku disodori pakaian tradisional. Sambil mengenakannya, aku bercermin dan berpikir, Ini cocok untukku lebih dari pakaian apa pun yang pernah kukenakan. Mungkin aku memang ditakdirkan berada di sini.

Kami berjalan menuju tempat berkumpul, dan aku sadar bahwa itu adalah acara keagamaan Islam malam Jumat. Orang-orang berdoa bersama, suara mereka tenang dan mantap. Selama kurang lebih empat puluh menit, aku duduk di antara mereka, kaki terlipat, hingga rasa kesemutan mulai menjalar. Pada akhirnya, aku merasa lega sekaligus bersyukur—ini bukan sesuatu yang bisa dialami seorang pelancong begitu saja.

Setelah doa, camilan ringan dihidangkan—kudapan berbahan singkong yang lumer di mulut. Akhirnya, semangkuk Nasi Rawon, sup daging sapi yang kaya rasa, pun tiba. Menikmati hidangan ini bersama warga menjadi penutup hari itu.

Hari itu penuh kejutan: siswi-siswi yang dipenuhi rasa ingin tahu, camilan penutup baru, ikan koi dari Jepang, pakaian tradisional, dan malam yang diisi doa. Sekali lagi, mengatakan ya memberiku hari yang penuh kehangatan dan rasa syukur.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan