Pagi di Sragen

27 Januari, di Sragen. Aku memutuskan untuk menginap satu malam lagi. Setelah bangun, aku berencana sarapan di warung terdekat. Di perjalanan, aku bertemu seorang pria yang pernah belajar di Jepang pada tahun 2000. Dia dengan ramah mengundangku ke rumahnya.
Di dalam rumahnya, aku melihat sebuah boneka berpakaian kimono yang dia beli semasa tinggal di Jepang. Dia bercerita, "Setiap kali aku melihat ini, aku teringat masa-masaku di sana." Sungguh mengharukan melihat betapa berartinya kenangan itu baginya hingga sekarang.
Kejutan lain datang ketika aku menyadari ada banyak burung di dalam rumahnya. Penasaran, aku bertanya soal harganya. Jawabannya membuatku terkejut—24 juta rupiah, sekitar 230.000 yen. Aku sama sekali tidak menyangka burung bisa semahal itu.
Saat aku menunggu di rumahnya, pemuda yang kutemui kemarin datang. Bersama-sama, kami menuju warung makan yang direkomendasikannya.
Cita Rasa Sragen

Kami menikmati satay, sate yang dipanggang dengan gaya mirip yakitori ala Jepang. Selain itu, kami juga makan krupuk, camilan renyah yang sepertinya ada di mana-mana di Indonesia. Berbagi makanan bersama terasa alami dan hangat.
Setelah itu, kami berangkat menuju Gunung Lawu. Aku jarang bepergian naik motor, jadi hari ini terasa istimewa. Kami mendaki semakin tinggi, dan dari jalan, aku bisa melihat desa-desa yang tersebar di kaki gunung. Mencari sudut-sudut tersembunyi dunia seperti ini selalu membuatku bersemangat.
Di Gunung Lawu

Di dekat Gunung Lawu, kami berhenti untuk beristirahat. Seperti biasa, aku menikmati segelas susu manis, minuman susu khas daerah setempat. Ada juga sebuah candi di dekat sana. Biaya masuknya 15.000 rupiah untuk warga lokal dan 50.000 untuk turis asing, tapi karena aku bersama teman-teman lokal, mereka mengizinkanku masuk dengan harga lokal.
Sebelum masuk, para pengunjung melilitkan kain hitam-putih di pinggang mereka, sebagai tanda penghormatan kepada gunung. Dari pintu masuk, pemandangannya tertutup kabut sepenuhnya. Meski begitu, kami tetap masuk.
Di dalamnya, candi ini memanjang dan sempit, hanya cukup lebar untuk satu orang berjalan melewatinya. Saat kami menjelajah, muncul dua area khusus—keduanya memerlukan biaya tambahan untuk masuk. Meski tubuhku lelah, aku bersyukur temanku telah membawaku ke sini.
Salah satu area didedikasikan untuk sebuah patung perempuan. Konon, jika hatimu murni, kamu bisa melihat bayangan pasangan masa depanmu. Aku tidak melihat apa-apa—mungkin hatiku masih perlu banyak berbenah. Di dekatnya, area lain menghormati energi maskulin, dengan ritual melempar koin dan mencuci tangan. Ini mengingatkanku pada praktik-praktik di kuil Jepang.
Area suvenirnya penuh kejutan. Beberapa harga terasa tinggi, terutama bagi warga lokal, tapi bagiku, semuanya terasa baru dan memikat. Jika aku langsung kembali ke Jepang setelah perjalanan ini, aku pasti sudah membeli banyak.
Hujan dan Kebaikan Hati

Ketika kami mulai kembali, cuaca berbalik melawan kami. Hujan deras membuat sulit untuk maju, dan hawa dingin cepat merasuk ke tubuhku. Di sebuah tempat istirahat, aku menggigil kedinginan ketika temanku meminjamkan jas hujan motornya. Dia pasti juga kedinginan, tapi tetap memberikannya padaku. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan hatinya itu.
Sambil menunggu, aku mencoba mi cup lokal. Berharap rasanya seperti ramen, aku malah terkejut menemukan sesuatu yang lebih mirip yakisoba. Bahkan kejutan-kejutan kecil seperti ini menambah keseruan dalam perjalanan.
Malam Bersama Teman-Teman

Dalam perjalanan pulang, kami singgah di rumah teman lamanya. Senapan berburu tergeletak berserakan di sekitar, pengingat akan gaya hidup yang sangat berbeda dari milikku. Setelah satu jam, kami kembali ke kota.
Malam itu, kami keluar makan malam lagi. Kali ini, istrinya ikut bergabung karena sedang libur kerja. Baru hari kedua aku mengenal mereka, tapi rasanya sudah seperti sahabat dekat.
Sragen, terima kasih. Aku akan kembali suatu hari nanti.
