← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Sehari di Yogyakarta: Perlengkapan Outdoor, Pertemuan dengan Warga Lokal, dan Jajanan Kaki Lima

Rencana Pagi di Yogyakarta

22 Januari, Yogyakarta. Aku memulai hari dengan sarapan di tempat biasa, menikmati makanan sederhana yang sudah menjadi rutinitas. Hari ini aku punya rencana—mengunjungi toko-toko outdoor untuk melihat perlengkapan camping dan bersepeda apa saja yang bisa kutemukan.

Hanya dua menit dari hotelku berdiri CONSINA, toko khusus perlengkapan outdoor. Aku masuk untuk melihat-lihat sleeping bag dan pisau survival. Di Australia nanti, aku memperkirakan akan banyak berkemah, jadi aku ingin menyiapkan perlengkapan yang tepat dari sekarang.

Setelah selesai di toko pertama, aku menuju toko outdoor lainnya, tetapi ternyata tutup. Di sini, toko-toko tampaknya sering tutup tergantung suasana hati pemiliknya, jadi aku tidak terlalu kecewa. Aku memutuskan untuk kembali ke CONSINA nanti membeli apa yang kubutuhkan.

Mampir ke Toko Sepeda

Selanjutnya, aku pergi ke toko sepeda. Rencanaku sederhana: membeli kunci pedal. Tapi saat melihat-lihat, aku menemukan rak depan yang dijual dengan harga sangat terjangkau. Aku membelinya bersama kunci pedal itu, dan memasang raknya hanya sekitar 100 yen. Rasanya menyenangkan bisa menambah satu lagi perlengkapan berguna untuk sepedaku.

Anak-Anak dan Pertemuan Tak Terduga

Dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah jalan kecil yang tampak menarik dan memutuskan untuk menjelajahinya. Tak lama kemudian, sekelompok anak-anak berlarian ke arahku sambil menyanyikan lagu pop Jepang yang kuingat dari bertahun-tahun lalu. Tawa dan energi mereka langsung menarikku.

Mereka membawaku ke pusat lingkungan mereka, tempat aku bertemu seorang sesepuh yang dihormati di komunitas itu. Saat kami mengobrol, ia tiba-tiba bertanya, “Apakah kamu kenal Misaki?” Belakangan aku tahu bahwa Misaki yang dimaksud adalah seseorang yang ia temui 35 tahun lalu. Tentu saja, itu bukan orang yang sama dengan yang kukenal, tapi kebetulan itu membuat kami tertawa.

Yang lebih berarti adalah kehangatan pertemuan itu. Sebelum pergi, mereka memberiku secarik kertas berisi alamat dan data pribadi mereka, dan aku pun membagikan nomor teleponku. Siapa tahu—suatu hari nanti pelancong Jepang lain akan lewat sini dan ditanya, “Apakah kamu kenal Hiro?” Dan jika iya, kemungkinan besar itu memang aku.

Penemuan-Penemuan Kecil di Jalan

Saat aku melanjutkan perjalanan, aku melihat seekor belalang kuning cerah di pinggir jalan. Momen seperti ini—melihat hewan atau serangga baru di tempat yang belum kukenal—selalu membuatku senang. Setiap daerah baru sepertinya menawarkan kejutan kecilnya sendiri.

Ketika akhirnya aku kembali, aku mampir ke kedai jus yang sudah akrab denganku. Segelas jus campur harganya hanya 10.000 rupiah (sekitar 95 yen). Rasanya menyegarkan, dan senyum ramah penjualnya selalu membuatku merasa diterima.

Makan Malam dan Kelezatan Jajanan Kaki Lima

Untuk makan malam, aku mampir ke warung makan di dekat sana. Makanannya hanya seharga 13.000 rupiah (sekitar 124 yen). Jajanan kaki lima Indonesia tidak hanya murah tetapi juga penuh cita rasa, menjadikannya teman yang sempurna bagi pelancong sepertiku.

Setelahnya, aku masuk ke sebuah minimarket dan memperhatikan sesuatu yang lucu—kemasan deterjen dengan karakter kartun yang mirip Luffy dan Usopp dari One Piece. Mereka terlihat lemah dan canggung, seperti sepupu jauh dari karakter aslinya. Lucu, dan entah kenapa menggemaskan.

Masih merasa lapar setelah makan malam, aku mampir ke warung lain dan memesan hidangan bernama Capcay. Itu adalah tumisan sayuran dengan saus khas lokal, dan rasanya benar-benar lezat. Dengan harga hanya 15.000 rupiah (sekitar 143 yen), harganya pun terjangkau. Makanan di sini ramah di kantong sekaligus kaya rasa, benar-benar berkah bagi perjalanan panjang ini.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan