Pagi Penuh Kemurahan Hati

Pada 15 Februari, di bagian selatan Banyuwangi, aku terbangun oleh suara host-ku: "Hiro, ayo sarapan."
Aku berjalan menuju area makan di properti itu, dan yang mengejutkanku, hidangan cumi-cumi dalam jumlah besar sudah menanti. Rasanya hampir terlalu banyak untuk sarapan, tapi aku bersyukur atas kelimpahan dan sambutan yang diwakilinya. Setelah selesai makan, Devin bilang ia akan mengajakku berkeliling kota Banyuwangi. Kami pun naik mobilnya dan memulai perjalanan.
Sebuah Pawai dan Jalan di Depan

Saat kami berkendara keluar, kami berpapasan dengan sebuah kelompok pawai. Aku sudah melihat beberapa hal semacam ini selama perjalananku. Yang membuatku terkesan di sini adalah anak-anak diizinkan berlatih pawai mereka di tengah jalanan kota. Itu memberi kota ini rasa bangga dan kebersamaan.
Setelah tiga puluh menit di jalan, pemandangan mulai berubah. Kota berganti menjadi hutan lebat. Aku mengangkat pandangan ke pohon-pohon tinggi dan tiba-tiba merasakan betapa berbedanya dunia bisa terlihat hanya dengan sedikit pergeseran sudut pandang. Itu membuatku sadar bahwa apa yang biasa kulihat dalam kehidupan sehari-hari hanyalah sepotong kecil dari keseluruhan.
Mencari Satwa Liar

Tujuan pertama kami adalah kawasan lindung. Aku diberi tahu bahwa sapi, rusa, dan hewan-hewan liar lainnya hidup bebas di balik pagar. Namun pada hari itu, aku hanya melihat seekor rusa dari kejauhan.
Penjaga yang mengelola pagar itu meminta maaf, katanya, "Maaf, hari ini tidak banyak." Tapi aku sama sekali tidak merasa kecewa. Justru, kupikir ini lebih baik. Hewan-hewan liar tidak seharusnya selalu terlihat atau dikendalikan demi kenyamanan manusia. Ketidakhadiran mereka mengingatkanku pada tatanan alami segala sesuatu, bahkan membangkitkan rasa penasaran—"Mungkin mereka ada di suatu tempat di dekat sini." Itu pun terasa seperti sebuah anugerah alam.
Pandangan Pertama ke Laut

Kami melanjutkan perjalanan, dan tak lama kemudian pemandangan terbuka menuju laut—pemandangan laut pertama dalam perjalananku melintasi Indonesia.
Ombaknya jauh lebih kuat dari yang kubayangkan, deras dan menderu. Aku bertanya kepada Devin apakah ada makanan tidak biasa dari daerah ini, dan ia mengatakan bahwa orang-orang di sini terkadang makan belalang.
Pantainya juga dipenuhi monyet-monyet yang bergerak bebas. Karena mereka tidak menyerang, aku merasa menyenangkan untuk menonton mereka. Berjalan di atas pasir, aku mengetahui bahwa daerah ini tidak aman untuk berenang karena arus kuat yang bisa menyeret orang ke laut. Tapi hanya dengan berdiri di sana, menyaksikan ombak, sudah cukup menakjubkan.
Menyeberang ke Pulau Suci

Perhentian kami berikutnya terjadi saat air surut, yang memungkinkan kami berjalan melintasi pasir menuju sebuah pulau suci. Di Jepang, banyak tempat seperti ini yang tertutup bagi umum, tapi di sini, aku diperbolehkan berjalan ke sana.
Aku merasa beruntung, karena siapa tahu—tahun depan tempat ini mungkin sudah dibatasi.
Dari kejauhan, pulau itu tampak dekat, tapi berjalan ke sana memakan waktu lebih lama dari yang kuduga. Akhirnya, aku tiba. Hutan di pulau itu berdiri dalam simetri yang hampir sempurna, menciptakan kesan misteri dan kekhidmatan.
Kejutan-Kejutan Kecil di Sepanjang Jalan
Selama perjalanan, Devin bilang aku boleh beristirahat kalau lelah. Aku menutup mata, dan ketika terbangun, ia bahkan sudah selesai berbelanja. Di dalam mobil, ia membagikan sebuah kudapan berbahan beras kepadaku, manis dan lezat.
Menjelang malam, hujan turun deras, dan kami pulang untuk makan malam. Aku memesan minuman bernama "SUSU sesuatu." Karena "susu" berarti susu, aku pikir itu akan sederhana. Tapi minuman itu datang dengan tambahan cairan berwarna aneh dan tampak seperti pewarna buatan yang membuatku ragu.
Ketika kucicipi, rasanya terasa anehnya familier. Tiba-tiba aku teringat—rasanya seperti soda Calpis rasa anggur, dengan sentuhan bahan kimia tambahan. Awalnya, aku merasa was-was karena tidak tahu apa yang kuminum, tapi kegembiraan dan rasa penasaran mencoba sesuatu yang baru dengan cepat mengalahkan rasa itu.
