← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·1 menit baca

🇮🇩 Sehari Kuliner di Malang: Dari Panekuk hingga Durian

Pagi dengan Pisang Goreng

2 Februari, Malang. Hari ini adalah hari yang hampir seluruhnya kuhabiskan untuk makanan.

Aku bangun dan berjalan menuju ruang berkumpul yang sudah familier. Seseorang menyodorkan pisang goreng untuk sarapan. Manis dan hangatnya persis seperti yang kubutuhkan untuk memulai hari.

Tak lama setelah menghabiskannya, aku sudah menyantap Nasi Ayam—ayam empuk dengan nasi, hidangan yang selalu membuatku puas.

Panekuk di Pasar

Setelah sarapan, aku memutuskan pergi ke pasar untuk mencicipi panekuk Adi. Harganya hanya Rp 5.000—sekitar 47 yen. Sederhana, lembut, dan sedikit manis, panekuk itu membawa kenyamanan yang membuatmu tersenyum bahkan saat sedang jauh berkelana dari rumah.

Dalam perjalanan pulang, aku memperhatikan sebuah warung makan dengan papan tulisan tangan bertuliskan “Soto Ayam.” Aku ingat pernah melewatinya sekitar siang tadi dan tidak sempat mencobanya. Kali ini, aku berhenti.

Semangkuk Soto Ayam

Pemilik warung menyajikan Soto Ayam untukku hanya dengan Rp 10.000. Harganya luar biasa murah, tapi rasanya kaya dan menghangatkan. Kuah bening, ayam yang empuk, dan bihun berpadu sempurna.

Pria yang duduk di sampingku ramah dan baik hati, mengajak ngobrol begitu santai seolah kami sudah lama berteman. Itu kembali mengingatkanku betapa ramahnya orang-orang di Indonesia.

Kembali ke rumah, aku ditawari durian sekali lagi. Aku menerimanya tanpa ragu.

Sama seperti hari sebelumnya, rasanya mengingatkanku pada mentega yang dicampur bawang. Kuat, tak biasa, dan tak terlupakan. Meskipun aku tak bisa jatuh cinta pada rasanya, aku menghargai pengalaman berbagi durian itu bersama yang lain.

Ini adalah hari yang sederhana, tapi meninggalkan rasa syukur dalam diriku. Makanan di Malang lebih dari sekadar santapan—ia adalah kebaikan, kemurahan hati, dan ikatan antarmanusia.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan