← Cerita
Diary·Indonesia·23 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Dari Bekasi ke Bandung: Hari yang Berat Penuh Bersepeda dan Kebaikan

Keberangkatan dari Bekasi

8 Januari. Hariku dimulai lebih awal di Bekasi, meninggalkan pengalaman hotel yang jauh dari menyenangkan. Aku tak mau mengambil risiko tinggal lebih lama dan mendengar klaim ganjil seperti "waktu checkout sebenarnya jam 8 pagi" yang diikuti biaya tambahan. Jadi, aku berangkat jam 7 pagi, bertekad untuk terus maju menuju Bandung.

Ini akan menjadi hari yang panjang. Hampir 100 kilometer di depanku, dan jalannya menjanjikan pegunungan. Aku tahu aku butuh bahan bakar yang layak. Aku berhenti di sebuah kios buah kecil dan membeli pisang seharga hanya 10.000 rupiah—kurang dari seratus yen. Aku juga membeli persediaan minuman di Andmart, jaringan minimarket terkenal, mirip dengan Seven-Eleven di Jepang.

Jalanan membentang melalui pedesaan, udaranya bersih dan menyegarkan. Beberapa hari sebelumnya, aku bersepeda dari Jakarta ke Bekasi, di mana bau air yang membusuk terus mengikutiku. Hari ini, tak ada bau seperti itu—hanya udara segar yang menenangkan hati. Mungkin hidungku sudah menyerah saat itu, tapi aku lebih memilih percaya bahwa itu adalah berkah kenyamanan dari pedesaan.

Pertemuan di Jalan

Saat aku bersepeda memasuki sebuah kota, sekelompok anak laki-laki menghentikanku. Mereka menyukai game Jepang, dan ketika kukatakan, "Aku datang dari Jepang," kegembiraan mereka menyalakan jalanan itu. Sebelum aku pergi, mereka memberiku dua botol air. Gestur sesederhana itu, namun memberiku energi luar biasa. Aku melanjutkan perjalanan dengan hati penuh, berbisik, Terima kasih.

Kemudian, aku tiba di sebuah kawasan bernama Suryacipta. Aku baru tahu itu adalah zona industri, tapi jalannya ternyata mulus dan lebar. Mungkin dijaga dalam kondisi baik untuk para pekerja. Apa pun alasannya, itu adalah impian bagi seorang pesepeda.

Tak lama setelah itu, aku terjebak kemacetan parah di jalan pedesaan yang sempit. Menunggu akan memakan waktu selamanya, jadi aku menyelinap melalui celah-celah, bergerak maju perlahan. Kemacetan itu terbentang hampir 5 kilometer. Aku sadar saat itu bahwa dengan sepeda, terkadang pilihan terbaik hanyalah terus maju.

Pendakian Menuju Bandung

Lalu datanglah pegunungan. Sekitar jam 1 siang, aku mulai mendaki. Aku tidak memeriksa seberapa tinggi atau seberapa jauh jalannya. Aku sengaja menghindari mengetahuinya, karena melihat angka-angka itu mungkin akan menghancurkan semangatku sebelum aku bahkan memulai.

Rasa lapar datang dengan cepat, dan aku berhenti di sebuah warung pinggir jalan untuk makan sebelum melanjutkan pendakian. Jalannya seakan tak pernah berakhir, tapi pemandangannya menakjubkan. Udara sejuk Bandung mengingatkanku pada Karuizawa di Jepang, sebuah kota resor pegunungan.

Aku memperhatikan tanaman buah naga tumbuh di sepanjang lereng bukit—sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bahkan dalam kelelahanku, pemandangan itu memberiku secercah rasa penasaran dan kekaguman.

Waktu berlalu terlalu cepat. Matahari mulai tenggelam, dan tanpa lampu sepeda yang berfungsi, aku takut bersepeda dalam gelap. Mobil-mobil melaju dengan berbahaya dekat sekali, dan aku merasa rentan di jalan pegunungan itu.

Sekitar jam 8 malam, aku berhenti untuk makan malam. Satu-satunya menu yang ada adalah nasi goreng. Itu adalah makanan sungguhan pertamaku sejak pulih dari sakit, dan aku sempat ragu. Tapi aku butuh tenaga, dan nasi goreng itu ternyata aman sekaligus lezat.

Masalah di Hotel

Akhirnya, setelah 10 kilometer lagi, aku tiba di hotel yang sudah kupesan lewat OYO. Tapi pemiliknya berkata, "Kami sudah tidak lagi bekerja sama dengan OYO. Pembayarannya tidak pernah masuk." Bahkan ketika ia mencoba menelepon OYO, tak ada jawaban.

Untungnya, kamar itu hanya seharga sekitar 400 yen. Aku memutuskan untuk membayar tunai. Tapi ketika kuperiksa dompetku, aku sadar hanya punya sekitar 10.000 rupiah tersisa—nyaris tidak ada apa-apa. Sang pemilik menjelaskan bahwa minimarket terdekat sudah tutup, dan bank terdekat berjarak 10 kilometer, melalui jalan pegunungan. Hatiku langsung ciut.

Tepat saat itu, sekelompok wisatawan Indonesia yang juga menginap di hotel itu menawarkan diri untuk mengantarku ke bank. Di dalam mobil, aku terlalu lelah untuk banyak bicara, tapi aku terus mengulang kata-kata terima kasih. Di bank BRI, aku berhasil menarik uang, dan kelegaan pun menyelimutiku. Salah satu dari mereka bahkan berkata, "Kalau terlalu berat, kamu bisa menginap di tempatku." Kebaikan itu menopangku sepanjang malam.

Hari yang Tak Terlupakan

Ketika akhirnya aku berbaring untuk beristirahat, aku memeriksa angka-angkanya. Hampir 100 kilometer telah kutempuh. Lebih dari 1.100 meter kutanjaki dalam satu hari.

Aku berbisik pada diri sendiri, Kerja bagus, kawan. Kamu berhasil.

Jalanan itu telah menguras habis tenagaku, tapi juga telah mengisiku kembali—dengan rasa syukur atas orang-orang asing, dan dengan kekuatan lebih dalam yang tak kusadari kumiliki.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan