Pagi yang Berkelas dan Kediaman Agung Sang Sultan
Pada tanggal 4 September, aku bangun di The Galton Hotel. Karena waktuku di Baubau sangat terbatas, aku memutuskan untuk menghabiskan seharian penuh menjelajahi sebanyak mungkin jejak sejarah kota ini. Meski sedikit lebih mahal dibandingkan pilihan lokal lainnya, tarif kamar yang melebihi 4.000 yen (sekitar $27 USD) sudah termasuk sarapan prasmanan yang melimpah. Hidangannya menampilkan aneka makanan pokok khas daerah: nasi, sayur, telur, dan ayam. Setiap hidangan menjadi bukti nyata betapa kayanya warisan kuliner Indonesia, memberikan bekal yang sempurna untuk hari panjang yang menanti.

Tujuan pertamaku adalah Istana Malige, kediaman tradisional Sultan, pemimpin tertinggi bekas Kesultanan Buton. Bangunan empat lantai yang megah ini masih memancarkan kesan agung yang begitu terasa.

Di dalam, aku bertemu dengan orang-orang yang masih tinggal di sana, generasi yang mengabdikan diri untuk menjaga dan merawat istana ini. Sebuah pengingat yang tenang bahwa sejarah di sini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kelanjutan yang masih hidup dan bernapas. Di lantai dasar, sebuah lambang nanas yang khas menarik perhatianku. Nanas, yang hanya menghasilkan satu buah per batang, melambangkan Sultan sebagai pemimpin tunggal yang tak tertandingi dalam kerajaan.

Benteng Terbesar di Dunia dan Persimpangan Para Musafir
Selanjutnya, aku mengunjungi Benteng Kraton, kompleks benteng yang luas ini. Jauh lebih dari sekadar benteng militer, tempat ini adalah kota yang masih berfungsi di dalam tembok kuno, menaungi rumah-rumah warga, museum, dan masjid. Diakui sebagai salah satu benteng terbesar di dunia, tempat ini berdiri sebagai bukti monumental atas skala dan kekuatan kesultanan bersejarah ini.

Dipandu oleh seorang warga lokal yang ramah, aku tiba di sebuah bangunan besar di depan masjid, yang kini berfungsi layaknya pusat konvensi modern. Di plaza terbuka di dekatnya, aku berpapasan dengan sekelompok pesepeda yang telah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta. Berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing membawa rasa kebersamaan yang singkat namun mendalam. Di tengah reruntuhan kuno ini, plaza tersebut berubah menjadi persimpangan hangat bagi para musafir modern, menambah lapisan kedalaman lain pada penjelajahan hari itu.

Garis Pantai yang Memukau dan Kelezatan Kuliner Baubau
Dalam perjalanan kembali ke hotel menjelang sore, aku terpukau oleh garis pantainya. Air biru toska yang memukau membangkitkan pesona tenang yang nyaris menyerupai Hawaii, dan suara ombak yang berirama perlahan menghanyutkan lelahnya tubuh setelah seharian penuh.

Untuk makan malam, aku mencari warung makan lokal dan memesan cumi-cumi. Disajikan segar dari etalase yang mencolok di depan warung, cumi bakar utuh ini menawarkan rasa gurih yang kaya, cukup untuk meredakan rasa laparku.

Sebelum beristirahat malam itu, aku membeli gogos bakar, camilan tradisional khas daerah berupa ketan yang diisi suwiran ikan dan dibakar dalam daun. Sambil menikmati kehangatannya yang sederhana namun menenangkan, aku merenungkan padatnya pengalaman tak terlupakan hari itu, menutup dengan tenang waktu singkatku di Baubau.

