← Cerita
Diary·Indonesia·4 September 2026·2 menit baca

Gema Kesultanan: Perjalanan Singkat Menyusuri Kota Benteng Baubau

Pagi yang Berkelas dan Kediaman Agung Sang Sultan

Pada tanggal 4 September, aku bangun di The Galton Hotel. Karena waktuku di Baubau sangat terbatas, aku memutuskan untuk menghabiskan seharian penuh menjelajahi sebanyak mungkin jejak sejarah kota ini. Meski sedikit lebih mahal dibandingkan pilihan lokal lainnya, tarif kamar yang melebihi 4.000 yen (sekitar $27 USD) sudah termasuk sarapan prasmanan yang melimpah. Hidangannya menampilkan aneka makanan pokok khas daerah: nasi, sayur, telur, dan ayam. Setiap hidangan menjadi bukti nyata betapa kayanya warisan kuliner Indonesia, memberikan bekal yang sempurna untuk hari panjang yang menanti.

Satu piring sarapan prasmanan berisi nasi, sayur, telur, dan daging di The Galton Hotel

Tujuan pertamaku adalah Istana Malige, kediaman tradisional Sultan, pemimpin tertinggi bekas Kesultanan Buton. Bangunan empat lantai yang megah ini masih memancarkan kesan agung yang begitu terasa.

Gerbang masuk Istana Malige dengan lambang mahkota nanas Tampak luar Istana Malige, istana kayu empat lantai

Di dalam, aku bertemu dengan orang-orang yang masih tinggal di sana, generasi yang mengabdikan diri untuk menjaga dan merawat istana ini. Sebuah pengingat yang tenang bahwa sejarah di sini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kelanjutan yang masih hidup dan bernapas. Di lantai dasar, sebuah lambang nanas yang khas menarik perhatianku. Nanas, yang hanya menghasilkan satu buah per batang, melambangkan Sultan sebagai pemimpin tunggal yang tak tertandingi dalam kerajaan.

Detail sulaman lambang nanas di dalam Istana Malige Swafoto bersama penghuni yang tinggal dan merawat Istana Malige Menggunakan aplikasi penerjemah untuk mempelajari sepatah kata dalam bahasa Wolio setempat Foto bersama warga lokal yang ramah di dekat Istana Malige

Benteng Terbesar di Dunia dan Persimpangan Para Musafir

Selanjutnya, aku mengunjungi Benteng Kraton, kompleks benteng yang luas ini. Jauh lebih dari sekadar benteng militer, tempat ini adalah kota yang masih berfungsi di dalam tembok kuno, menaungi rumah-rumah warga, museum, dan masjid. Diakui sebagai salah satu benteng terbesar di dunia, tempat ini berdiri sebagai bukti monumental atas skala dan kekuatan kesultanan bersejarah ini.

Meriam tua yang menghadap ke kota dan teluk dari tembok Benteng Kraton

Dipandu oleh seorang warga lokal yang ramah, aku tiba di sebuah bangunan besar di depan masjid, yang kini berfungsi layaknya pusat konvensi modern. Di plaza terbuka di dekatnya, aku berpapasan dengan sekelompok pesepeda yang telah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta. Berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing membawa rasa kebersamaan yang singkat namun mendalam. Di tengah reruntuhan kuno ini, plaza tersebut berubah menjadi persimpangan hangat bagi para musafir modern, menambah lapisan kedalaman lain pada penjelajahan hari itu.

Swafoto bersama pemandu lokal yang ramah di tangga batu Benteng Kraton Paviliun kayu tradisional yang megah di dalam Benteng Kraton, kini digunakan sebagai pusat konvensi modern Foto bersama sesama musafir di plaza dalam Benteng Kraton

Garis Pantai yang Memukau dan Kelezatan Kuliner Baubau

Dalam perjalanan kembali ke hotel menjelang sore, aku terpukau oleh garis pantainya. Air biru toska yang memukau membangkitkan pesona tenang yang nyaris menyerupai Hawaii, dan suara ombak yang berirama perlahan menghanyutkan lelahnya tubuh setelah seharian penuh.

Deretan warung makan tepi laut di sepanjang garis pantai biru toska Baubau

Untuk makan malam, aku mencari warung makan lokal dan memesan cumi-cumi. Disajikan segar dari etalase yang mencolok di depan warung, cumi bakar utuh ini menawarkan rasa gurih yang kaya, cukup untuk meredakan rasa laparku.

Makan malam cumi-cumi bakar utuh dengan nasi, sambal, dan sup

Sebelum beristirahat malam itu, aku membeli gogos bakar, camilan tradisional khas daerah berupa ketan yang diisi suwiran ikan dan dibakar dalam daun. Sambil menikmati kehangatannya yang sederhana namun menenangkan, aku merenungkan padatnya pengalaman tak terlupakan hari itu, menutup dengan tenang waktu singkatku di Baubau.

Sepiring gogos bakar, ketan yang dibakar dalam daun pisang, di warung lokal Matahari terbenam berwarna merah muda dan jingga di atas jalanan Baubau yang dipenuhi pohon kelapa

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan