← Cerita
Diary·Singapore·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇸🇬 Bersepeda Berpamitan dengan Singapura, Menyambut Indonesia

Bersepeda Pagi Sebelum Keberangkatan

Pada 27 Desember, aku bangun di Singapura dengan kesadaran bahwa hari ini aku akan berangkat menuju Indonesia. Namun sebelum berpisah, teman yang telah menemaniku berkeliling kota kemarin mengusulkan, "Ayo kita bersepeda bersama sekali lagi sebelum kamu pergi." Kata-katanya membuatku merasakan kehangatan yang tenang—aku belum benar-benar pergi.

Kami berangkat bersama, mengayuh melewati jalanan yang sudah kukenal hingga tiba di sebuah pusat perbelanjaan besar: Decathlon. Sepeda lipatnya memungkinkannya membawa sepeda itu masuk ke dalam, sesuatu yang belum pernah banyak kulihat sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa di Singapura, banyak pesepeda menggunakan sepeda lipat karena bisa dibawa naik kereta, membuat aktivitas berangkat kerja dan bersepeda menjadi lebih mudah. Aku membeli beberapa barang yang kubutuhkan untuk perjalanan ke depan, dan kami melanjutkan mengayuh.

Menyusuri Taman-Taman di Sepanjang Pesisir

Kami menuju taman pesisir Singapura yang panjang. Taman itu membentang seolah tanpa akhir di sepanjang laut, dipenuhi para pelari, pemain skateboard, dan sesama pesepeda. Suasananya begitu santai hingga aku menyadari diriku berpikir, "Aku benar-benar bisa hidup di sini." Orang-orang tampak bergerak sesuai ritme mereka sendiri, menjalani hidup dengan bebas tanpa terburu-buru. Ia memberitahuku bahwa berkemah bahkan diizinkan di sini dengan izin tertentu.

Mengayuh sambil merasakan angin laut, aku merasa bersyukur—bukan hanya karena keindahan tempat itu, tetapi juga karena kebersamaan yang membuatnya terasa lebih kaya.

Makan Siang di Dekat Bandara

Setelah sekitar dua jam mengayuh, kami menuju tempat makan siang di dekat bandara. Di tengah jalan, sebuah monumen dinosaurus besar tiba-tiba muncul. Awalnya aku bertanya-tanya, "Apa maksud tanda dinosaurus ini?" Kemudian aku menyadari itu dipasang secara jenaka untuk menyampaikan pesan, "Jangan masuk ke area ini—terlarang." Bahkan peringatan di sini pun tampak dirancang dengan sentuhan yang jenaka dan menghibur.

Akhirnya, kami tiba di sebuah kafe, tempat aku mencoba rekomendasinya: chicken rice. Harganya sekitar 20 dolar Singapura—mahal dibandingkan Malaysia—tapi rasanya lezat, sepadan dengan setiap suapan. Pada titik ini, bersepeda dan berbagi makanan bersama terasa seolah kami sudah saling mengenal selama bertahun-tahun, meskipun persahabatan kami baru saja dimulai.

Perpisahan di Terminal Feri

Dari sana, kami mengayuh menuju terminal feri tujuan Pulau Batam. Tiket tersedia langsung di tempat, jadi aku membeli tiketku. Kami masih punya waktu sebelum keberangkatan, jadi kami duduk di sebuah kafe, berbincang tentang perjalanan, tentang hidup, tentang hal-hal sederhana.

Seperti biasa, perpisahan selalu terasa sulit. Rasa syukur membuncah dalam diriku, dan perpisahan itu memunculkan rasa sakit di dadaku. "Terima kasih," hanya itu yang bisa kuucapkan, meski terasa kecil dibandingkan dengan apa yang ingin kusampaikan. Ia telah memberiku lebih dari sekadar petunjuk arah—ia telah memberiku kenyamanan dan kebersamaan di negeri asing.

Kemudian, waktunya tiba. Aku check-in, menunggu, dan akhirnya naik ke atas feri. Hanya ada sekitar sepuluh penumpang, yang membuat perjalanan itu tenang dan nyaman.

Tiba di Batam, Indonesia

Sebelum naik ke feri, aku telah menukarkan sekitar 20.000 yen ke rupiah Indonesia. Karena aku akan masuk menggunakan Visa on Arrival (VOA), aku ingin memastikan sudah siap dengan uang tunai untuk biayanya. Benar saja, begitu tiba, aku langsung melihat loket VOA. Biayanya 500.000 rupiah, dan prosesnya berjalan lancar.

Dari atas feri, pandangan pertamaku terhadap Indonesia terbentang—pemandangan tropis yang terasa akrab, dengan suasana yang agak mirip Malaysia. Bahasanya pun mirip, mengisyaratkan akar yang sama.

Namun Batam terasa sibuk. Dengan populasi Indonesia yang lebih dari 270 juta jiwa, kemacetan lalu lintas yang padat pun masuk akal, dan sepeda motor tampak mendominasi jalanan.

Kesan Pertama tentang Negeri Baru

Setelah menyusuri jalanan, aku tiba di hotel tempatku menginap malam itu. Di tengah jalan, seorang pria tiba-tiba menghampiriku, bersikeras menuntunku ke "hotelku" namun meminta bayaran sebagai imbalannya. Penampilannya biasa saja, tapi sikap memaksanya membuatku resah. Aku menolak dan melanjutkan perjalanan sendiri, menyadari bahwa negeri baru ini mungkin akan membawa petualangan sekaligus tantangan yang tak terduga.

Hotel yang kupesan bernama Redoorz, sebuah jaringan hotel ramah kantong di Indonesia. Wi-Fi-nya kurang bisa diandalkan, tapi harganya masuk akal, dan aku senang memiliki tempat untuk beristirahat. Setelah menyimpan barang-barangku, aku keluar untuk makan malam.

Semangkuk mi berharga sekitar 200 yen, dan minuman yang menyertainya diisi penuh hingga ke bibir gelas, sama seperti di Malaysia. Kemudian, aku membeli bir dengan harga yang serupa. Keterjangkauan harga ini mengingatkanku betapa berbedanya kehidupan di sini dibandingkan dengan Singapura.

Menatap ke Depan

Jadi di sinilah aku sekarang—akhirnya tiba di Indonesia, negara keenam dalam perjalanan ini. Hari ini membawa perpisahan, persahabatan yang hangat, dan cita rasa pertama dari sebuah negeri baru. Besok, aku akan naik feri lagi, kali ini menuju Jakarta, dan melanjutkan jalan yang masih terbentang di depan.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan