Fajar di Pantai

Aku bangun sekitar pukul 6 pagi pada tanggal 20 November. Bahkan pada jam itu, cahaya bulan masih bersinar indah. Matahari baru terbit sekitar pukul 7:30, membuat pagi itu masih terselimuti kegelapan.
Namun sejak pukul 5 pagi, para nelayan sudah berangkat melaut. Karena tendaku dipasang di tepi pantai tempat sebuah komunitas nelayan tinggal, aku menyaksikan puluhan perahu berangkat bersama-sama. Pemandangan begitu banyak perahu membelah air gelap terasa begitu kuat, hampir seperti sebuah upacara.
Hadiah Sarapan

Menjelang pukul 8 pagi, aku sudah siap berangkat. Pantai ini menjadi tempat berkemah yang sempurna. Tepat sebelum pergi, seorang pria dari warung makan terdekat menghampiriku dan memberikan sarapan. Gestur kecil itu memenuhiku dengan kebahagiaan. Makanan hangat itu mengangkat semangatku dan membuatku menantikan hari yang akan datang.
Aku juga berpamitan dengan kucing yang telah mengeong hampir sepanjang malam. Dengan mata mengantuknya, ia mengingatkanku betapa menyenangkannya jika suatu hari nanti aku punya teman hewan peliharaan. Mungkin di bagian akhir perjalananku aku akan bepergian bersama hewan peliharaan, meski aku tahu tantangan hotel dan penyeberangan perbatasan membuatnya sulit.
Memilih Jalan
Saat berangkat, aku bersyukur atas keputusan untuk tidak berkemah di dekat gunung malam sebelumnya. Hujan deras turun di sana, dan aku pasti akan masuk angin. Memilih tempat berkemah yang tepat lebih penting daripada yang terlihat.
Untuk sarapan, aku membeli seikat pisang—sekitar 20 buah hanya dengan 10 ringgit (kira-kira 346 yen). Itu artinya hanya 17 yen per pisang. Tawaran yang luar biasa. Aku memakannya satu per satu sambil terus bersepeda.
Istirahat dan Pemulihan
Meski begitu, tubuhku belum dalam kondisi terbaik. Setelah berhari-hari melakukan perjalanan tanpa henti, kelelahan akibat berkemah tampaknya masih membekas, jadi aku memutuskan untuk beristirahat lebih awal.
Di sebuah kedai makan kecil, aku bertemu seorang pemilik yang mencintai Jepang. Kami mengobrol, dan kebaikannya memberiku energi baru. Makanan yang ia sajikan lezat dan menyegarkan. Aku merasa bersyukur, seolah kemurahan hatinya membantu membawaku lebih jauh menyusuri jalan.
Kemudian, saat persediaan airku mulai menipis, aku berhenti di sebuah warung dan bertanya apakah aku boleh mengisi ulang botolku. "Tentu saja, di sini air melimpah—jangan khawatir," jawab pria itu dengan ramah. Hanya dengan 1 ringgit, aku mendapatkan air, dan ia menyarankan menambahkan jeruk nipis agar lebih menyegarkan. Ia mengiris satu buah ke dalam botolku, dan rasanya luar biasa segar. Tip sederhana itu membuatku tersenyum—aku merekomendasikan untuk mencobanya.
Tiba di Butterworth
Akhirnya, aku tiba di Butterworth. Dari sini, aku menuju terminal feri. Sudah tiga hari sejak feri terakhirku, di Langkawi. Aku berharap yang ini akan lebih mudah—tanpa perlu membongkar sepedaku.
Hari itu dipenuhi dengan perpisahan, tindakan-tindakan kecil kebaikan, dan kekuatan baru yang ditemukan di sepanjang jalan. Setiap pertemuan mengingatkanku bahwa perjalanan ini bukan hanya soal jarak—melainkan soal rasa syukur atas setiap momen yang dibagikan sepanjang jalan.
