← Cerita
Diary·Thailand·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇹🇭 Bersepeda Melalui Kebaikan: Perjalanan Penuh Makanan, Badai, dan Pertemuan Hangat

Pagi di Guesthouse Hutan

7 November dimulai di sebuah guesthouse hutan yang tenang. Kamarku kecil namun nyaman, jenis ruang yang secara alami membuat pikiran melambat dan menemukan kedamaian. Setelah berhari-hari di jalan, ini terasa seperti hadiah—kesempatan untuk bernapas, mengisi ulang tenaga, dan merasa dipeluk oleh ketenangan alam.

Rumah itu sendiri luar biasa. Bukan sekadar bangunan; ia adalah mimpi para pemiliknya yang diwujudkan menjadi nyata. Pria itu dan istrinya, yang berasal dari Skotlandia, membangun tempat ini dengan tangan mereka sendiri. Di tanah mereka, enam atau tujuh rumah kecil buatan tangan berdiri tersebar seperti sebuah desa tersembunyi. Masing-masing unik, dibuat dengan penuh perhatian, memancarkan kehangatan dan imajinasi.

Melihat sekeliling, aku merasakan gelombang semangat. Ini mengingatkanku pada hari-hariku di Jepang, ketika dulu aku pernah berpikir, "Suatu hari nanti, aku ingin tinggal di lingkungan seperti ini." Kini, di sinilah aku, berdiri tepat di dalam gambaran mimpi itu. Sulit rasanya meninggalkan tempat seperti ini, tapi jalan sudah memanggil.

Perpisahan dengan Tuan Rumah yang Hangat

Saat mengemasi barang-barangku, aku mencoba menenangkan pikiranku yang berpacu dan fokus pada perjalanan yang akan datang. Ketika tiba waktunya untuk pergi, sang pemilik berjalan bersamaku menuju jalan utama. Jalan setapak di luar guesthouse dipenuhi anjing-anjing, dan ia ingin memastikan aku bisa memulai perjalanan dengan aman.

Kebaikannya menyentuhku begitu dalam. Meski aku hanya menginap sebentar, kehangatannya meninggalkan bekas yang abadi. Ini bukan sekadar soal keramahtamahan—ini adalah cara ia peduli, cara ia diam-diam menuntunku ke jalan, seolah berkata, "Semoga perjalananmu baik."

Kejutan Gorengan di Jalan

Tak lama kemudian, aku singgah di warung pinggir jalan untuk membeli apa yang kukira adalah ayam goreng. Namun ketika kugigit, rasanya mengejutkanku. Alih-alih daging gurih, rasanya manis—hampir seperti pisang. Awalnya, aku merasa sedikit kecewa, karena aku sedang mengidamkan sesuatu yang mengenyangkan. Tapi rasanya lama-lama membuatku suka, dan hanya dengan 10 baht (sekitar 45 yen), rasanya lezat dengan caranya sendiri.

Perjalanan sering membawa kejutan-kejutan kecil seperti ini—momen ketika ekspektasi tidak terpenuhi namun digantikan oleh sesuatu yang menyenangkan secara tak terduga.

Semangat dari Orang Asing

Saat aku terus bersepeda, seorang pria penjual tiket lotre tiba-tiba berlari kencang ke arahku. Aku bersiap-siap, tidak yakin apa yang ia inginkan. Namun alih-alih mencoba menjual sesuatu, ia hanya menatapku dan berkata, "Ganbare"—"Lakukan yang terbaik."

Usahanya berlari sejauh itu, hanya untuk berbagi beberapa kata semangat, menyentuhku begitu dalam. Ini mengingatkanku betapa kuatnya sebuah gestur kecil. Aku membalasnya dalam hati: "Terima kasih. Dan semoga sukses juga dengan usahamu."

Percakapan di Pinggir Jalan

Tidak lama setelahnya, aku bertemu para pekerja konstruksi yang sibuk dengan sebuah proyek. Mereka melambaikan tangan memanggilku, dan aku berhenti untuk mengobrol. Penasaran, aku bertanya apa yang sedang mereka bangun. Salah satu dari mereka tersenyum lebar dan menjawab, "Toko ganja."

Ia berbicara dengan bangga, menjelaskan bagaimana ini adalah bagian dari mimpinya, bagian dari masa mudanya. Di belakangnya, aku memperhatikan tongkat-tongkat panjang yang digunakan untuk merokok, dan semuanya jadi masuk akal. Yang membekas dalam ingatanku bukan hanya tokonya, tapi gairahnya. Di mana pun kau berada di dunia ini, orang-orang dengan impian bersinar dengan cara yang sama.

Makan Siang, Kesabaran, dan Cita Rasa

Menjelang siang, perutku mulai keroncongan. Aku berhenti di warung makan lain untuk makan. Waktu tunggunya lebih lama dari perkiraan, dan sejenak aku bertanya-tanya apakah pesananku terlupakan. Namun tak lama, sepiring hidangan yang masih mengepul tiba, disiapkan segar dengan penuh perhatian.

Hidangan seperti ini—dimasak perlahan, dengan penuh pertimbangan—tidak pernah mengecewakanku selama di Thailand. Setiap suapan sepadan dengan penantiannya.

Namun saat makan, aku melirik ke luar. Awan hujan gelap berkumpul di atas, tebal dan mengancam. Rute perjalananku menuju arah berlawanan, tapi awan-awan itu tampak bergerak searah denganku. Aku tak punya pilihan lain—aku harus tetap berada di depan mereka.

Berpacu dengan Hujan

Dengan hanya lima kilometer tersisa, aku mengira telah lolos dari badai. Merasa sedikit lebih santai, aku berhenti di kafe luar ruangan untuk istirahat sebentar. Namun saat menyeruput minumanku, aku menyadari awan hujan mulai menyebar kembali ke jalur perjalananku.

Hatiku ciut—namun keberuntungan berpihak padaku. Aku terus mengayuh dan tiba di Cozy Rabbit Hotel tepat sebelum langit benar-benar tumpah. Logo hotel itu, ironisnya, menampilkan kelinci yang sama sekali tidak "cozy" atau lucu. Meski begitu, sambutannya tetap hangat.

Gestur Kecil, Kenyamanan Besar

Staf hotel memperhatikan sepedaku dan dengan baik hati memindahkanku ke kamar tempat aku bisa menyimpannya di dalam. Ini detail kecil, tapi artinya sangat besar bagiku. Kamarku cukup luas untuk meregangkan tubuh dan beristirahat, persis seperti yang kubutuhkan setelah bersepeda sejauh 80 kilometer.

Kemudian, ketika aku menyebutkan namaku—Hiro—staf itu tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, kamar ini cocok sekali untukmu." Kepekaan di balik gestur sederhana ini membuatku merasa diperhatikan.

Meski hotel ini memiliki rating rata-rata di Google hanya 3,5, aku tidak mengerti mengapa. Bagiku, setiap bagian dari pengalaman ini terasa positif.

Makan Malam dengan Kejutan

Mengikuti rekomendasi staf, aku mengunjungi warung makan di dekatnya. Satu hidangan menarik perhatianku: nasi kari ikan lele. Penasaran, aku memesannya.

Rasa ikan lele itu terasa asing bagiku, tapi karinya kaya rasa—meski lebih pedas dari yang kuperkirakan. Sejak tiba di Thailand selatan, aku memperhatikan cita rasa di sini jauh lebih pedas dan lebih kuat dibandingkan di utara. Ini menjadi tantangan, tapi juga bagian dari petualangan.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan