← Cerita
Diary·Thailand·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇹🇭 Bersepeda Melewati Badai dan Kebaikan: Hari Perpisahan dan Pertemuan Baru

Hari Perpisahan, Mi, dan Pertemuan Tak Terduga

6 November dimulai dengan perasaan yang bercampur aduk di My Place Hotel. Rambutku sudah tumbuh lebih panjang, yang memberiku sedikit rasa puas, tetapi hari ini juga menjadi hari ketika tiga pesepeda yang kutemui—semuanya menginap di bawah atap yang sama—berangkat menuju perjalanan mereka masing-masing.

Melihat mereka bersiap untuk pergi adalah pemandangan yang tak terlupakan. Sejenak, aku berharap kami semua bisa berkumpul lagi di tempat yang sama, berpose untuk satu foto lagi, seolah membekukan kenangan pertemuan langka sesama musafir ini.

Perpisahan di Hostel

Yang pertama berangkat adalah pesepeda dari Norwegia. Perlengkapannya mengesankan—ringan, minimalis, dan efisien. Aku kagum melihat betapa cermatnya ia mengurangi barang bawaannya, membuat perjalanannya menjadi lebih ringan.

Berikutnya adalah musafir dari Vietnam. Berbeda dengan pesepeda Norwegia itu, ia membawa beban yang jauh lebih berat, namun tetap mampu menempuh lebih dari 100 kilometer setiap hari. Aku tak bisa menahan rasa hormat yang dalam kepadanya. Untuk diriku sendiri, aku bisa menempuh sekitar 70 kilometer pada hari yang penuh tekad, tapi 100? Daya tahan seperti itu sungguh luar biasa.

Lalu tiba giliranku. Targetku hari itu sekitar 80 kilometer. Aku menarik napas dalam-dalam, merasa tertantang sekaligus termotivasi.

Energi Pagi: Memilih Warung Kaki Lima

Sebelum berangkat, aku singgah di sebuah warung makan tak jauh dari sana. Aku punya aturan sederhana saat memilih tempat makan: jika pemiliknya menatap mataku dan tersenyum, aku akan masuk. Momen kecil terhubung seperti itu biasanya berarti makanannya enak, dan aku jarang kecewa.

Kali ini, itu adalah warung mi. Aku memesan mi yang dibuat dengan mi telur khas Tionghoa, dan yang mengejutkan, kuahnya berbasis cuka. Rasanya bukan benar-benar sup asam pedas, tapi punya kesegaran yang benar-benar baru bagiku. Setiap suapan terasa seperti menemukan sisi lain dari jajanan kaki lima Thailand.

Berbagi momen singkat dengan keluarga yang menjalankan warung itu menambah kepuasanku. Kehangatan mereka mengubah makan biasa menjadi kenangan yang membahagiakan.

Hari Penuh Mi dan Badai Tiba-Tiba

Setelah sekitar 60 kilometer bersepeda, aku berhenti lagi, kali ini di warung mi yang lain. Sepertinya hari itu memang ditakdirkan penuh dengan mi. Sup itu datang dengan bakso yang biasa ditemukan di Thailand—sederhana tapi selalu enak.

Namun saat aku makan, aku memperhatikan langit mulai gelap. Awan terlihat pekat, jenis yang menjanjikan lebih dari sekadar gerimis. Dalam hitungan menit, badai pun pecah. Hujan turun deras, jenis hujan yang tak menyisakan kesempatan untuk melanjutkan bersepeda.

Aku berteduh di bawah atap sebuah rumah warga. Sambil menunggu, keluarga di sebelah mengundangku untuk makan bersama mereka. Kebaikan mereka menyentuhku dalam-dalam. Sambil mengobrol, aku memperhatikan ada hewan panggang besar di latar belakang. Penasaran, aku bertanya apa itu, menggunakan Google Translate untuk menjembatani perbedaan bahasa. Jawabannya mengejutkanku—itu adalah armadillo.

Aku tidak mencobanya, tapi hanya dengan melihat sesuatu yang begitu asing mengingatkanku akan keberagaman tak terbatas yang dimiliki dunia ini. Setiap negeri punya cita rasa dan tradisinya sendiri, dan sekadar menyaksikannya pun terasa seperti sebuah hadiah.

Keramahan di Jalan

Saat hujan reda, aku melanjutkan perjalanan menuju etape terakhir ke hotel. Tak jauh dari tujuanku, aku bertemu sebuah keluarga yang sedang minum bersama. Mereka mengajakku bergabung dalam perayaan mereka.

Aku tak bisa menolak, meski perutku sudah kenyang dan aku sudah minum empat botol bir. Tawa mereka, suasana yang meriah, dan keramahan tulus mereka mustahil untuk ditolak. Pertemuan seperti ini, tak terencana dan spontan, adalah jiwa dari perjalanan.

Satu-satunya hal yang benar-benar kusyukuri saat itu adalah betapa dekatnya hotelku. Dengan begitu banyak makanan dan minuman di dalam tubuhku, rasanya aku tak akan sanggup bersepeda jauh lebih jauh lagi.

Anjing memenuhi jalanan di sekitar area itu, lebih banyak daripada yang kulihat sepanjang perjalanan hari itu di tempat lain. Rasanya seperti anjing-anjing itu adalah bagian dari karakter lingkungan tersebut, masing-masing menambah kenangan tersendiri.

Tiba di Hotel

Saat aku akhirnya tiba di hotel, malam sudah turun. Pemiliknya menyambutku dengan hangat, penuh kebaikan dan keramahan. Tempatnya sendiri indah, dan aku merasakan kelegaan dan rasa syukur yang meluap karena telah memilih menginap di sana.

Satu-satunya penyesalan adalah tiba begitu larut. Andai aku tiba lebih awal, aku bisa mengabadikan foto tempat itu di siang hari. Meski begitu, bahkan tanpa foto-foto itu, kenangan hari itu sudah begitu hidup dalam ingatanku.

6 November bukan sekadar 80 kilometer bersepeda—melainkan hari perpisahan, cita rasa baru, badai tiba-tiba, penemuan yang mengejutkan, dan kebaikan manusia yang membuat perjalanan ini semakin kaya.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan