← Cerita
Diary·Indonesia·23 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Pagi di Lumbir: Keramahan, Perjalanan, dan Sambutan Hangat di Kebumen

Pagi di Lumbir

Pada 13 Januari, aku bangun di rumah ayah angkatku di Lumbir. Pada pukul 7 pagi, aku merasakan tepukan lembut di kakiku. Itu adalah ayah angkatku, memberitahuku bahwa ia telah menyiapkan sarapan. Gestur sederhana itu memenuhiku dengan kebahagiaan. Rasa kantuk pun langsung lenyap.

Sementara aku makan, ia bahkan menyalakan kipas angin agar aku tetap nyaman. Aku tersentuh oleh perhatiannya dan bertanya-tanya mengapa orang-orang di sini menunjukkan keramahan yang begitu tak terbatas. Itu lebih dari sekadar kebaikan—itu adalah perhatian yang menyentuh hati.

Seiring pagi berlanjut, para tetangga datang untuk mendoakan kelancaran perjalananku. Aku membayangkan ayah angkatku telah menyebarkan kabar, membagikan kisahku. Ayahnya juga menyerahkan sebotol air kepadaku, bersikeras agar aku menerimanya. Setiap anggota keluarga memancarkan kemurahan hati.

Sebelum berangkat, aku menulis surat ucapan terima kasih dan menyerahkannya kepada mereka. Dengan penuh rasa syukur, aku berangkat menuju kota berikutnya.

"Terima kasih, semuanya. Sampai kita bertemu lagi dalam keadaan sehat."

Bersepeda Menembus Alam dan Semangat

Jalan dari Lumbir dikelilingi oleh pegunungan, namun anehnya cukup landai. Ini memungkinkanku bersepeda dengan nyaman, dikelilingi oleh kehijauan.

Di sepanjang jalan, anak-anak sekolah melambaikan tangan dan menyapa saat mereka pulang. Itu mengingatkanku sekali lagi bahwa tanpa semangat dari orang-orang asing, mungkin aku sudah menyerah dalam perjalanan ini sejak lama.

Karena butuh istirahat, aku berhenti di sebuah kafe bernama Jumbo. Hari itu panas, dan aku memesan Es Tea. Aku akhirnya mengetahui bahwa "Es" berarti "ice." Kini masuk akal mengapa pemilik kafe selalu bertanya, "Es Tea?"

Kemudian, di jalan, aku melewati para pekerja unggas yang menyeimbangkan muatan mereka dengan keterampilan yang menakjubkan. Sepersis apa pun terlihat genting, tak ada yang tampak jatuh. Aku menggelengkan kepala penuh kekaguman.

Dua jam kemudian, kelelahan, aku berhenti di kafe lain. Mengejutkanku, salah satu staf di sana bisa berbicara bahasa Jepang. Ia memberitahuku bahwa ia sedang mempelajari bahasa itu, berharap suatu hari bisa mengunjungi Jepang. Percakapan singkat itu mengingatkanku bagaimana perjalanan membangun jembatan antarmanusia.

Santapan Bersama, Mimpi Bersama

Menjelang siang, aku menemukan sebuah rumah makan kecil yang menyajikan mi. Di sana, aku bertemu seorang pesepeda lain, seorang pelancong sepertiku. Melihat sesama pengendara sepeda langsung mengangkat semangatku.

Seperti biasa, aku memesan Bakso. Keseimbangan antara harga, rasa, dan nilai gizinya menjadikannya hidangan andalanku di Indonesia.

Pemilik rumah makan itu bertanya ke mana tujuanku. Aku menjelaskan bahwa aku sedang bersepeda mengelilingi dunia. Matanya berbinar, dan ia berkata, "That's awesome, brother!" Semangatnya terasa seperti bahan bakar bagi perjalananku.

Malam di Kebumen

Menjelang malam, aku tiba di Kebumen dan menginap bersama tuan rumah Warmshowers. Ia adalah seorang guru bahasa Inggris, dan ia mengundangku untuk bergabung makan malam bersama murid-muridnya agar mereka bisa berlatih berbicara.

Mengejutkanku, murid-murid itu berbicara bahasa Inggris dengan lancar, mungkin lebih baik daripada aku. Aku merasa seperti orang yang belajar malam itu, bukan yang mengajar. Berbagi makanan dan percakapan dengan mereka menjadi pengingat bagaimana perjalanan membuka pintu-pintu yang tak terduga.

Malam itu, aku merenungkan hari yang telah kulalui. Dari sarapan yang disiapkan dengan penuh perhatian, hingga sorak-sorai dari orang-orang asing, hingga percakapan dengan para murid—setiap momen meninggalkan rasa syukur dalam diriku. Bersepeda mungkin berat, tetapi hari-hari seperti ini memberiku kekuatan untuk terus melangkah maju.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan