← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇲🇾 Perjalanan Panjang ke Sitiawan: Perjuangan, Kebaikan, dan Menginap di Hotel yang Mengejutkan

Malam Tanpa Tidur di Taman

Selamat pagi dari Taiping, 23 November. Tak ada hantu maupun monyet yang muncul semalam, seperti yang telah diperingatkan kepadaku, tapi sebagai gantinya aku menghadapi hal lain: anak-anak muda yang balapan sepeda motor di sekitar taman sampai larut malam. Yang lebih buruk lagi, sekitar pukul 2 pagi, lampu jalan di dekat tendaku mulai memutar nada dering LINE berulang-ulang. Bunyinya terus sampai pagi. Karena suara itu, aku nyaris tidak tidur setelah pukul 2 pagi. Meski begitu, itu adalah kesalahanku sendiri karena tidak memperhatikan lampu itu sebelum mendirikan tenda.

Ketika orang-orang mulai berkumpul di sekitar taman pada pagi hari, aku berkemas dan berangkat. Tujuan hari ini adalah Sitiawan, sebuah kota pelabuhan. Ini akan menjadi perjalanan pertamaku yang mendekati 100 km sejak memulai perjalanan ini. Hari yang berat menanti di depan, tapi aku bertekad untuk terus maju.

Sarapan dan Kesalahan di Jalan

Sepuluh kilometer setelah mulai bersepeda, aku singgah di sebuah warung untuk sarapan. Aku memesan nasi lemak, hidangan yang namanya mulai kuingat. Sederhana, lezat, dan persis yang kubutuhkan. Tapi keringat yang mengucur deras hanya setelah 10 km mengingatkanku betapa panjangnya hari yang akan terasa. Sembilan puluh kilometer lagi terasa menakutkan, tapi tak ada pilihan selain terus mengayuh.

Lalu datanglah kesalahan terbesarku sejauh ini: aku mendapati diriku bersepeda di jalan tol. Awalnya, aku memperhatikan seorang pria berseragam resmi berteriak, tapi aku tidak menyangka itu ditujukan padaku—sampai aku sadar dia melambaikan tangan menyuruhku keluar dari jalan itu. Sepeda tidak diperbolehkan lewat sana. Bagian terburuknya adalah harus mengayuh kembali 10 km, hampir kembali ke titik awalku, kehilangan waktu dan energi yang berharga.

Meski begitu, memulai kembali perjalanan itu memberiku pertemuan baru. Aku bertemu beberapa anak laki-laki yang sedang memancing di pinggir jalan. Kami mengobrol, dan ketika kutanya media sosial apa yang mereka gunakan, mereka cepat menjawab: YouTube dan TikTok. Itu mengingatkanku bahwa aku seharusnya memperbarui kanal-kanalku sendiri. Di akhir percakapan itu, aku bertekad untuk segera mulai mengunggah video TikTok dan Instagram, dan memulai YouTube pada Desember. Bagaimanapun, tindakan adalah langkah pertama menuju perubahan.

Perjuangan Melawan Kelelahan

Pada titik 50 km, kelelahan menghantamku dengan keras. Keletihan dari kemarin, ditambah melewatkan makan siang, membuatku benar-benar terkuras. Aku beristirahat di dekat tempat yang menyediakan air, meregangkan tubuh, dan memaksa diriku untuk terus melanjutkan. Tapi tubuhku dengan cepat menyerah lagi. Setiap kayuhan pedal terasa seperti mengangkat beban berat.

Berbeda dengan di Jepang, tempat makanan dan minimarket ada di mana-mana, di sini restoran bisa langka atau tutup tanpa peringatan. Aku belajar secara langsung bahwa membeli makanan saat tersedia adalah hal yang penting. Untungnya, setelah 10 kilometer lagi, aku menemukan sebuah restoran. Meski warung itu dipenuhi lalat—begitu banyak sehingga kebanyakan orang mungkin akan pergi menjauh—aku memakan setiap suapan. Kelelahan mengubah makanan apa pun menjadi pesta. Aku meminumnya bersama "OREN," jus jeruk, yang sering kuminum selama di Malaysia. Minuman bersoda, aku sadari, hanya menguras tenagaku lebih cepat, jadi aku sudah mulai menghindarinya.

Pisang, Hujan, dan Kebaikan Hati

Tak lama kemudian, aku menemukan apa yang telah kucari: pisang. Di Malaysia, kebanyakan yang dijual masih hijau, tapi akhirnya, aku menemukan yang kuning matang. Dengan 10 ringgit (sekitar 346 yen), aku membeli sekitar 20 pisang—cukup untuk dua hari, meskipun cepat busuk di bawah terik matahari.

Pemilik toko dan putranya tampak senang bertemu seorang pelancong. Mereka menawarkanku kopi dan kata-kata semangat, tindakan-tindakan yang mengangkat semangatku. Tapi tepat ketika aku merasa hari itu semakin membaik, hujan deras turun tiba-tiba. Aku menunggu selama 20 menit di bawah tempat berteduh, memilih kesabaran daripada frustrasi.

Saat menunggu, seorang pria menghampiri dan menyerahkan sebungkus gel energi kepadaku. Saat kami mengobrol, aku tahu bahwa dia telah melihatku sebelumnya—berjuang di jalan tol itu. Dia mengajakku ke restoran India favoritnya, mengatakan dia mengagumi para pesepeda dan selalu ingin mendukung mereka. Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa bersyukur atas kesalahanku sebelumnya; itu membawaku pada kebaikan yang tak terduga ini.

Tiba di Hotel yang Mengejutkan

Setelah berpisah dengannya, aku menembus sisa 30 km terakhir aSetelah berpisah dengannya, aku menembus sisa 30 km terakhir dan tiba di akomodasiku malam itu: sebuah hotel OYO. Di Google Maps, properti-properti OYO sering mendapat ulasan buruk, terkadang dipenuhi komentar yang mengkhawatirkan. Tapi aku menemukan satu dengan hanya satu ulasan dan memutuskan untuk mencobanya.

Di luar dugaan, hotel itu luar biasa. Wi-Fi di lantai dua memang lemah, tapi selain itu semuanya bersih, terjangkau, dan nyaman. Lebih dari segalanya, staf-nya—satu keluarga penuh—hangat dan ramah. Menyadari masalah Wi-Fi itu, mereka menawarkan untuk memindahkanku ke kamar di lantai satu jika aku menginap semalam lagi. Sang suami bahkan berbagi makan malam denganku, menyiapkan hidangan agar aku merasa seperti di rumah sendiri.

Itu mengingatkanku pada sebuah kebenaran penting: ulasan di internet tidak bisa mengungkap cerita yang sebenarnya. Kau hanya bisa memahami sebuah tempat, atau seseorang, dengan mengalaminya sendiri. Reputasi negatif, baik itu tentang hotel, negara, atau orang, bisa menyesatkan. Melalui pengalaman dan komunikasi langsung, perspektif-perspektif baru terbuka.

Renungan Penutup

Hari ini adalah salah satu hari tersulit sejauh ini—hampir tanpa tidur, menguras fisik, dipenuhi hambatan. Namun ini juga hari penuh pelajaran, kebaikan, dan penemuan. Setiap tindakan kemurahan hati dari orang asing mengingatkanku mengapa aku terus melanjutkan perjalanan ini.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan