Awal Pagi dari Paper House

30 Oktober. Salam dari Paper House Guesthouse.
Target hari ini adalah 82 kilometer, jadi aku berangkat pagi-pagi pukul 7. Tapi bersepeda sejauh itu tanpa energi yang cukup tentu mustahil, jadi aku berjalan kaki hanya semenit dari guesthouse menuju sebuah warung makan untuk sarapan.
Waktu masih pagi, dan tempat itu masih sepi hanya untukku. Udaranya sejuk, jalanan sunyi, dan hidangan sederhana itu memberiku energi yang kubutuhkan untuk memulai. Setelah selesai, aku berkemas dan mulai mengayuh menuju jalan terbuka.
Tak lama kemudian, sebuah truk melintas, dan sopirnya menjulurkan badan sambil melambai dan berteriak lantang: "Semangat! Kamu pasti bisa!" Semangatnya begitu kuat, penuh kehidupan, dan langsung mengangkat suasana hatiku. Momen-momen seperti ini—gestur dukungan kecil dari orang-orang asing—membuat perjalanan terasa bermakna.
Pisang di Sepanjang Jalan

Lebih jauh di jalan, aku melihat sebuah tempat istirahat kecil di mana pisang-pisang tergantung dari langit-langitnya. Penasaran, aku berhenti dan menyapa pria yang tampaknya adalah penjaga tempat itu. "Boleh aku minta beberapa pisang?" tanyaku.
Ia dengan hati-hati menurunkannya satu per satu, menyerahkannya kepadaku dengan penuh perhatian yang tenang. Ketika aku merogoh dompetku, ia tersenyum dan menggelengkan kepala.
"No money," katanya dalam bahasa Inggris. "Just keep going with your journey."
Aku tersentuh. Hari masih pagi, tapi aku sudah diselimuti kebaikan orang-orang Thailand—mulai dari pemilik warung yang menyajikan sarapanku hingga pria yang memberikan pisang secara cuma-cuma. Dengan hadiah tak terduga ini, tiba-tiba aku punya cukup makanan untuk sepanjang hari.
Dengan semangat yang baru, aku melanjutkan perjalanan di bawah langit biru yang cerah, kayuhanku semakin kuat setiap kilometernya.
Jalan Lurus yang Panjang

Perjalanan hari itu membutuhkan pengaturan tempo yang hati-hati. Delapan puluh dua kilometer bukan jarak yang bisa dianggap enteng, jadi aku beristirahat setiap kali dibutuhkan. Pada salah satu perhentian, aku menghabiskan nasi putih polos yang kubeli pagi itu. Membawa sedikit makanan tambahan mungkin terdengar sederhana, tapi sering kali itu membuat perbedaan besar di peregangan panjang tanpa restoran.
Ketika aku meninggalkan Highway 4 dan memasuki Road 360, sesuatu berubah—perbukitan yang bergelombang menghilang. Jalan menjadi datar, mulus, dan lurus tanpa akhir. Itulah jenis jalan yang selama ini kunantikan.
Bersepeda menjadi lebih mudah, hampir tanpa usaha, dan aku merasakan kegembiraan kecepatan yang membawaku menuju Chumphon.
Percakapan dan Semangkuk Mi

Dengan kurang dari 10 kilometer lagi sebelum mencapai kota, aku berhenti untuk istirahat terakhir. Aku memesan semangkuk mi, menikmati kehangatan makanannya sekaligus kesempatan untuk duduk sejenak.
Seorang pria yang lebih tua, mungkin penasaran tentang diriku, mulai mengajakku bicara. Pertanyaan-pertanyaannya terus mengalir, dan meskipun bahasa kami berbeda, keramahannya mengisi waktu itu dengan tawa. Itu mengubah apa yang bisa saja menjadi istirahat yang sunyi dan lelah menjadi sesuatu yang ringan dan menyenangkan.
Berbekal tenaga baru, aku kembali melaju, menempuh jarak terakhir menuju guesthouse hari itu.
Tiba di Chumphon

Akhirnya, aku tiba di tujuanku. Tubuhku kelelahan setelah perjalanan panjang itu—dorongan jarak jauh sungguhan pertama sejak sekian lama—tapi hatiku merasa bangga. Aku berhasil melakukannya.
Chumphon adalah kota yang lebih besar, dan setelah istirahat sejenak, aku tidak bisa menahan diri untuk keluar menjelajah.
Hal pertama yang kutemukan adalah sebuah warung sushi. Tentu saja, pilihannya sangat berbeda dari apa yang bisa kau temukan di Jepang. Topping-topping yang aneh memenuhi nampan-nampannya, masing-masing terasa asing tapi menggoda. Aku mencoba sepotong salmon. Rasanya enak, tapi tidak memiliki kesegaran dan kelembutan rasa sushi di Jepang. Itu mengingatkanku: menyantap sushi yang benar-benar segar adalah sesuatu yang sangat istimewa, yang tidak boleh dianggap remeh.
Saat malam tiba, warung-warung jalanan menjadi hidup. Aku sudah melihat banyak jalan pasar di seluruh Asia Tenggara, tapi warung-warung malam Chumphon punya pesona tersendiri. Ikan, daging, hidangan mi, minuman—semuanya disiapkan segar dan penuh rasa. Tapi lebih dari sekadar makanannya, yang membuatnya istimewa adalah orang-orangnya. Para pedagang berbicara kepada pelanggan dengan keseimbangan yang pas antara keramahan dan rasa hormat, membuat seluruh pasar terasa mudah dan menyenangkan untuk disusuri.
Untuk malam pertama di Chumphon, itu adalah penutup yang sempurna. Aku merasa tenang, puas, dan bersyukur.
Yang paling utama, aku merasa bangga. Setelah menyelesaikan 82 kilometer, aku bisa berkata pada diriku sendiri: Hiro, kau berhasil. Kerja bagus.
