← Cerita
Diary·Thailand·23 Agustus 2025·5 menit baca

🇹🇭 Perjalanan ke Surat Thani: Kebaikan, Seni, dan Pasar Malam

Perpisahan dan Awal yang Baru

Pagi ini dimulai dengan perpisahan yang menyentuh hati. Pemilik guesthouse, yang telah memperlakukanku dengan begitu baik, berdiri di ambang pintu sambil tersenyum saat aku bersiap untuk pergi. Kehangatan mereka terus menyertaiku saat aku menaiki sepeda dan mengarahkannya menuju Surat Thani, kota yang lebih besar yang akan menjadi tujuanku hari ini.

Langit cerah, udara lembut, dan semangatku tinggi. Rasanya seperti hari yang sempurna untuk bersepeda. Tapi sebelum perjalanan benar-benar dimulai, ada satu ritual penting: sarapan.

Sarapan Penuh Kebaikan

Sebuah warung kaki lima kecil menarik perhatianku, dan wanita yang menjaganya menyambutku dengan senyum yang bisa mencerahkan pagi siapa saja. Dia merekomendasikan hidangan khas setempat, dan aku langsung memercayainya. Makanan itu datang panas dan harum, penuh dengan rasa yang seolah menenangkan sekaligus memberi energi.

Ini bukan sekadar soal mengisi perut—ini tentang menerima secuil kebaikan lokal. Kehangatan itu tetap terasa saat aku terus mengayuh, bersyukur atas kemurahan hatinya dan caranya orang-orang asing bisa menerangi perjalanan.

Jalan Menuju Surat Thani

Dengan sekitar 30 kilometer tersisa, aku mengingatkan diriku sendiri tentang trik mental yang biasa kupakai. Jarak di atas 30 atau 40 kilometer terasa tak berujung, tetapi begitu angkanya turun ke dua puluhan, aku hampir bisa merasakan kedatangan. "Satu jam lagi," kataku pada diri sendiri, "dan angkanya akan jadi satu digit."

Meski begitu, aku menghindari melihat angka-angka itu terlalu sering. Terpaku pada jarak hanya akan mencuri kebahagiaan. Sebagai gantinya, aku fokus pada ritme kayuhan, angin yang menyapu wajahku, dan janji tentang apa yang ada di depan.

Pertemuan Kebetulan

Sekitar tanda 20 kilometer, aku berhenti di sebuah toko kecil yang terasa lebih seperti kios pinggir jalan. Seorang pemuda periang menyapaku, penasaran dengan perjalananku. Kami mengobrol tentang perjalananku, dan tak lama kemudian kami saling bertukar kontak.

Yang paling mengejutkanku adalah mengetahui dia punya lebih dari sepuluh ribu pengikut di dunia maya. Namun ketika kutanya bagaimana caranya, dia hanya mengangkat bahu: "Aku cuma orang biasa." Di Asia Tenggara, aku sering memperhatikan hal ini terjadi—orang-orang yang menjalani hidup yang tampak sederhana, tetapi membawa pengaruh yang tak terduga. Pertemuan seperti ini mengingatkanku betapa beragam dan tak terduganya dunia ini.

Tanda-Tanda Kota

Saat aku terus melaju, monumen-monumen mulai bermunculan di pinggir jalan—patung batu, gerbang hias, dan tengara artistik. Bagiku, ini selalu menjadi tanda bahwa sebuah kota sudah dekat. Rasanya seperti bisikan halus yang berkata, "Kamu hampir sampai."

Akhirnya, Surat Thani menyambutku dengan tangan terbuka, dan aku pun menuju penginapanku malam itu: sebuah hostel bernama My Place.

Tiba di My Place Hostel

Hostel itu menjulang empat lantai, tetapi tanpa lift, mengangkut enam tasku ke lantai paling atas terasa seperti mendaki gunung kecil. Saat aku sampai di lantai empat, aku sudah bermandikan keringat, tetapi pemandangan kamarnya membangkitkan semangatku kembali.

Hanya dengan 200 baht (sekitar 9 dolar), ruangannya lebih dari yang kuharapkan—luas, bersih, dan sejuk secara mengejutkan, berkat kipas angin langit-langit yang bekerja lebih baik dari yang kubayangkan. Di luar, bahkan ada ruang khusus untuk sepeda. Pemiliknya menjelaskan bahwa belakangan ini semakin banyak pesepeda yang lewat, jadi mereka menambahkan tempat parkir sepeda. Aku mengagumi itu—mendengarkan kebutuhan para pelancong dan memperbarui hostel sedikit demi sedikit.

Menjelajahi Kota

Setelah mandi yang menyegarkan, aku berangkat untuk melihat-lihat kota. Surat Thani terletak di sepanjang sungai, dan pemandangannya mencerminkan aliran itu—perairan yang luas, jembatan-jembatan, dan kehidupan yang berlangsung di sepanjang tepiannya.

Kali ini, aku akhirnya mengunjungi sebuah kuil. Biasanya aku menghindarinya saat bersepeda karena banyak yang menjadi tempat tinggal anjing liar yang agresif. Tapi dengan berjalan kaki, aku bisa masuk dengan aman. Arsitektur kuilnya membuatku takjub—ukiran rumit, warna-warna berani, dan sudut-sudut tenang yang biasanya kulewatkan saat melaju cepat dengan roda dua.

Meluangkan waktu untuk berkeliling kota secara perlahan mengingatkanku mengapa hari istirahat itu penting. Ini bukan hanya soal pemulihan—ini tentang menyadari apa yang biasanya kulewatkan.

Kejutan Artistik

Berjalan ke arah timur, aku melihat sebuah papan tanda: "Dari sini, kamu akan melihat jalan seni." Rasa penasaran menarikku untuk terus maju.

Tak lama kemudian, aku dikelilingi tembok-tembok yang dilukis dengan gambar-gambar jenaka—anjing, pola-pola cerah, dan desain-desain yang unik. Seni jalanan punya caranya sendiri untuk menarikmu masuk, membuatmu berjalan lebih jauh dari yang kau rencanakan. Namun, ketika aku melihat lebih jauh dari mural-mural itu, aku juga melihat momen-momen kehidupan nyata—jalanan yang tampak indah dalam ketidaksempurnaannya, kadang semarak, kadang sepi.

Aku tersadar betapa kedua sisi itu—seni dan kenyataan—memiliki keindahannya masing-masing.

Makanan, Sahabat, dan Tawa

Rasa lapar akhirnya membawaku ke sebuah warung yakitori kecil. Dengan 20 baht (kurang dari satu dolar), aku membeli satu tusuk. Ternyata isinya kebanyakan kulit ayam, tapi gigitan renyahnya membuatku tertawa memikirkan betapa sederhananya jajanan kaki lima bisa terasa.

Saat aku makan, takdir kembali mengejutkanku—aku bertemu lagi dengan pesepeda lain yang pernah kutemui sebelumnya di pantai. Pertemuan kembali kami terasa seperti sebuah hadiah. Bersama-sama, kami menjelajahi pasar-pasar jalanan, mampir ke sebuah bar unik yang di pintu masuknya ada patung Joker, dan saling berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing.

Dia lebih tua dariku, tetapi masih bersepeda berkeliling. Melihatnya, aku merasakan harapan yang dalam: bahwa aku pun bisa terus bergerak maju, dalam bentuk apa pun, untuk bertahun-tahun yang akan datang.

Malam Tiba di Surat Thani

Bahkan setelah berpisah, aku tidak ingin malam itu berakhir. Aku kembali ke pasar, yang kini bersinar di bawah lampu-lampu. Energinya berbeda dari siang hari—lebih hidup, lebih semarak, namun tetap sama mengundangnya.

Saat aku berjalan menyusuri jalanan malam, dikelilingi warung makan dan musik, aku menyadari betapa penuhnya hari itu. Kebaikan di pagi hari, pertemuan kebetulan di jalan, tawa bersama sesama pelancong, dan keindahan tenang dari menjelajah secara perlahan.

Surat Thani telah memberiku lebih dari yang kuharapkan, dan aku tahu esok hari—hari istirahat lainnya—akan membawa kegembiraannya sendiri.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan