← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇲🇾 Perjalanan ke Malacca dan Sekitarnya: Pertemuan, Jalan Berlumpur, dan Kebaikan Tak Terduga

Meninggalkan Seremban dengan Rasa Syukur

Pada 20 Desember, aku memulai hariku di Seremban. Awalnya, aku berencana berkemah di halaman rumah tuan rumahku, tapi mereka dengan baik hati menyarankan, "Kau bisa tidur di dalam kamar kalau mau." Berkat kemurahan hati mereka, aku tidur nyenyak di bawah atap.

Keesokan paginya, aku selesai menyesuaikan sepedaku dan menyiapkan perlengkapanku. Sebagian besar barang bawaanku telah dikirim lebih dulu ke rumah ini di Seremban selagi aku masih berada di Kuala Lumpur. Ini karena aku tak bisa menemukan rak depan yang cocok untuk sepeda baruku, sehingga mustahil membawa tas berat di bagian depan.

Tuan rumahku telah dengan hangat menawarkan, "Kalau kau menuju Seremban, kirim saja barang-barangmu ke sini." Berkat kebaikan itu, aku bisa bersepeda dengan ringan dan nyaman sampai titik ini.

Bersepeda Menuju Malacca

Dengan semuanya siap, aku berangkat menuju Malacca, kota bersejarah yang dulu dikenal sebagai titik penting dalam perdagangan Timur–Barat. Secara pribadi, aku sangat suka berjalan menyusuri tempat-tempat yang sejarahnya masih terasa di jalanan. Malacca sudah lama ada di daftar keinginanku.

Namun petualangan selalu datang dengan kejutan. Mengikuti rute GPS, aku mendapati diriku di jalan yang tampak seperti rute terpendek—hanya untuk menemukan jalur berlumpur yang membentang sepanjang dua kilometer.

Aku punya kelemahan pada "jalan pintas tersembunyi." Kata itu sendiri membangkitkan rasa penasaranku. Aku selalu ingin tahu: kenapa tempat ini disebut jalur tersembunyi? Jadi, meski tahu itu mungkin merepotkan, aku tetap masuk.

Dalam hitungan detik, lumpur memercik ke kakiku, dan gelombang rasa tak nyaman muncul dari telapak kakiku. Namun hanya dalam sepuluh detik, tubuhku sudah menyesuaikan diri. Kemampuan adaptasi manusia sungguh luar biasa. Kekhawatiran sesungguhnya bukan pada diriku—melainkan pada sepedaku. Lumpur bisa dengan mudah menyebabkan masalah mekanis. Tapi kali ini, tak ada yang rusak. Sebaliknya, sepedaku terlihat seolah mendapat sedikit "jiwa petualang," dan aku tersenyum melihatnya.

Kesan Pertama tentang Malacca

Setelah sepuluh kilometer lagi, aku tiba di Malacca. Aku membayangkan jalanan bersejarah yang tenang, namun sebaliknya banyak tempat dipenuhi toko-toko yang gencar menjual suvenir kepada wisatawan. Awalnya, ini terasa berbeda dari yang kubayangkan.

Lalu aku mengingatkan diriku sendiri—ini adalah pelabuhan yang berjaya selama berabad-abad sebagai pusat para pedagang dari berbagai bangsa. Keinginan untuk menjual kepada pengunjung pasti telah tumbuh seiring dengan budaya kota ini. Dilihat dari sudut itu, suasana perdagangan yang ramai jadi masuk akal. Ini adalah satu lagi pengingat tentang bagaimana sejarah membentuk masa kini.

Bertemu Sesama Pesepeda

Keesokan paginya, aku meninggalkan Malacca dengan rasa syukur. Desember adalah musim hujan di Malaysia, dan aku sempat khawatir soal cuaca, tapi langit memberkatiku dengan sinar matahari.

Saat mengayuh ke selatan, aku melihat sosok mendekat di jalan—seorang pesepeda jarak jauh lainnya. Jantungku berdebar penuh semangat. Pertemuan seperti ini jarang terjadi, dan sebagai musafir tunggal, aku sangat ingin menjalin koneksi.

Ia juga bepergian sendirian, dengan tujuan bersepeda melintasi 100 negara. Ia telah melewati lebih dari 40 negara. Aku mengagumi keberaniannya. Tapi aku juga percaya—bahkan seseorang yang baru mengunjungi satu negara dengan sepeda pun layak dihormati, hanya karena berani mengambil tantangan itu.

Kami berbincang sekitar sepuluh menit, berbagi pikiran, tujuan masa depan, bahkan ide-ide lokasi berkemah, sebelum berpisah jalan. Pertemuan seperti ini tak pernah pudar. Aku berharap kami bisa bertemu lagi suatu hari nanti.

Hujan, Makanan, dan Tempat Berteduh

Sekitar tengah hari, aku berhenti untuk makan siang—Roti Telur, roti tipis berisi telur. Aku menghargai bahwa warung itu dengan jelas mencantumkan nama hidangan sekaligus harganya. Banyak tempat tidak mencantumkan harga, jadi kau harus bertanya. Detail kecil seperti ini membangun kepercayaan.

Kembali ke jalan, aku menuju Batu Pahat. Jalannya membentang lurus ke depan, tenang dan sederhana, sampai langit pecah setelah tiga jam. Hujan deras turun, lalu berhenti, hanya untuk kembali lagi. Aku berteduh dan memesan nasi, ayam, dan sup di sebuah warung kecil. Pasangan yang mengelolanya begitu baik hati, dan aku merasa tenang.

Akhirnya, hujan mereda. Dengan air yang telah terisi ulang dan energi yang pulih, aku melanjutkan sepuluh kilometer terakhir. Saat itulah takdir turun tangan.

Sebuah mobil putih berhenti di depan, dan pengemudinya keluar untuk mengobrol. Setelah percakapan singkat, ia bertanya, "Apakah kau punya tempat menginap malam ini?"

Meski sebenarnya aku sudah punya rencana, aku menjawab, "Aku belum yakin." Segera, ia menjawab, "Menginaplah di tempatku."

Ini bukan hanya soal membutuhkan tempat bernaung—aku punya keinginan kuat untuk menjalin hubungan dengan warga lokal. Rasanya seperti sesuatu yang baru dan bermakna akan terjadi, jadi aku menerimanya.

Rumahnya punya cukup banyak ruang untuk sepeda dan cucianku, dan kamarnya tenang serta nyaman. Sambil makan malam, aku mengetahui bahwa ia sendiri pernah bersepeda dari Eropa sampai Malaysia—sebuah perjalanan luar biasa. Bertemu orang seperti dia di sini terasa seperti takdir.

Malam itu, aku tidur dengan perasaan sangat bersyukur.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan