← Cerita
Diary·Indonesia·23 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Perjalanan dari Bandung ke Tasik: Kebaikan di Sepanjang Jalan

Meninggalkan Bandung

Pada tanggal 10 Januari, aku berangkat dari Bandung menuju Tasik. Aku meninggalkan Ostel Hotel, tempat aku menghabiskan malam yang nyaman. Hotel itu menonjol karena kebersihannya, sesuatu yang jarang kutemui selama perjalananku di Indonesia.

Rencananya aku akan menempuh sekitar 100 kilometer hari ini, dan aku lega melihat cuaca cerah. Bandung memiliki jalur sepeda yang layak, dan meskipun tidak banyak pesepeda, keberadaan jalur itu memberikan rasa aman yang sulit dijelaskan.

Kemacetan muncul di banyak tempat, tapi aku perlahan mulai terbiasa. Untuk menghindari sebagian kepadatan itu, aku memutuskan untuk mengambil jalan memutar.

Memasuki Gang-Gang Sempit

Jalan-jalan kecil itu jauh lebih sempit, tapi memperlihatkan lingkungan yang unik. Setiap blok punya karakternya sendiri, wajahnya sendiri, dan aku menikmati merasakan suasana yang terus berubah.

Melintasi sebuah jembatan kecil, pemandangannya berubah lagi. Terkadang jalan berakhir tiba-tiba, tapi selalu ada seseorang yang membantu. "Ini rumah saya, Anda tidak bisa lewat lebih jauh. Seberangi jembatan dan ambil sisi yang satunya," jelas seorang warga lokal yang ramah. Petunjuk sederhana seperti itu membuat perjalanan jauh lebih mudah.

Pertemuan Kecil, Kejutan Kecil

Bersepeda melewati pemandangan yang makin hijau, aku sudah bisa melihat siluet pegunungan di depan. Tubuhku dipenuhi rasa antusias sekaligus tantangan, mengetahui bahwa itulah jalur yang akan segera kudaki.

Ketika rasa lapar menyerang, aku singgah di sebuah warung buah. Aku bertanya apakah ada tempat untuk makan siang di dekat situ. "Coba dulu buah saya," kata penjualnya sambil tersenyum, menawarkanku mangga. Tapi yang mengejutkanku, dia melumurinya dengan saus pedas.

Rasa pedasnya sama sekali tidak tersembunyi. Manisnya mangga langsung menghilang oleh rasa pedas itu. Aku tidak sanggup menghabiskannya, dan dengan sedikit rasa bersalah aku berterima kasih padanya dan bertanya lagi soal makanan. Untungnya, toko dua pintu dari situ menjual Mie Goreng. Seandainya saja aku berjalan sedikit lebih jauh sejak awal!

Setelah makan siang, aku memperhatikan ada syuting video TikTok yang sedang berlangsung di dekat situ, yang memberi jalanan itu suasana meriah. Tak lama kemudian, aku melanjutkan perjalanan, meski jalannya berubah menjadi terjal seperti jalur pegunungan.

Hujan, Tanjakan, dan Bantuan dari Anak-Anak

Aplikasi navigasi mengarahkanku ke jalan yang lebih kecil. Tidak yakin apakah itu benar, aku bertanya kepada beberapa ibu-ibu tua di sekitar situ. Mereka dengan ramah menunjukkan arah yang benar, dan aku mengikutinya. Jalan-jalan kecil seperti ini selalu membangkitkan semangatku—penuh dengan penemuan.

Akhirnya, aku mencapai turunan yang curam. Kemiringannya begitu ekstrem hingga topi dan kacamata hitamku terlepas terbang. Jika ada mobil tepat di belakangku, itu bisa saja berbahaya.

Kemudian awan hujan datang bergulung. Aku beristirahat di bawah tempat berteduh, meregangkan tubuh sambil menunggu. Dalam sepuluh menit, hujan deras turun. Di Asia Tenggara, cuaca berubah begitu tiba-tiba, tapi setelah berminggu-minggu perjalanan, aku mulai bisa membaca irama langit.

Ketika hujan reda, aku menemukan warung di pinggir jalan dan makan mi untuk makan malam. Saat aku kembali mendaki tanjakan, kelelahan mulai menghampiri. Tiba-tiba, sekelompok anak-anak muncul.

Yang membuatku takjub, mereka berlari mendekat dan mulai mendorong sepedaku dari belakang. Tangan-tangan kecil dan tawa mereka memberiku kekuatan yang sudah tidak lagi kumiliki. Aku merasakan rasa syukur yang murni.

Keramahan di Desa Kamasri

Mereka mengantarku ke desa mereka. Sekitar tiga puluh warga desa keluar untuk melihatku. Satu keluarga mengundangku untuk menginap semalam, memperingatkan bahwa melanjutkan perjalanan dalam gelap akan berbahaya.

Aku akhirnya menginap bersama pemuda yang pertama kali kuajak bicara. Keluarganya menyambutku dengan hangat, menyajikan hidangan tradisional. Ketika ditanya makanan apa yang kusukai, aku menjawab "udang." Yang mengejutkanku, mereka benar-benar menyiapkan udang goreng khusus untukku. Aku terkejut dan sangat tersentuh.

Malam itu, sekitar pukul 10, warga desa berkumpul di luar untuk api unggun. Udaranya lebih dingin dari yang kuperkirakan, dan api itu menghangatkan kami semua. Aku duduk di sana dikelilingi tawa, kebaikan hati, dan bara yang berpijar.

Warga Desa Kamasri, dalam perjalananku menuju Tasik, memberiku malam yang tak akan pernah kulupakan. Kemurahan hati mereka mengubah hari yang berat menjadi hari yang penuh kehangatan dan rasa syukur.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan