Pagi di Laut

Pada tanggal 29 Desember, aku mendapati diriku berada di atas kapal dari Batam menuju Jakarta, yang perlahan melintasi lautan terbuka yang luas. Sekitar pukul tujuh pagi, awak kapal mulai membagikan sarapan. Untuk mendapatkan makanan, kamu harus menunjukkan secarik kertas kecil—tanpa itu, tidak ada makanan yang akan diberikan.
Sarapannya sendiri sesederhana yang sudah kuduga, persis seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya. Meski begitu, mengingat harga tiketnya, sungguh luar biasa bahwa makanan saja sudah termasuk. Dengan nampan di tangan, aku menuju ke arah sepedaku, berniat makan di dekatnya. Di sana, aku bertemu seorang pria yang lebih tua, dan kami akhirnya menikmati makanan itu bersama-sama.
Dia bercerita bahwa dia sudah berada di kapal selama dua malam, melakukan perjalanan dari sebuah pulau dekat Batam, dan juga menuju Jakarta. Sambil mengobrol, dia mengusulkan agar kami makan siang bersama nanti di dek, menikmati udara terbuka. Itu adalah ajakan yang dengan senang hati aku terima.
Kehidupan di Atas Kapal

Sejujurnya, tidak banyak yang bisa dilakukan di atas kapal. Memandangi laut menenangkan pada awalnya, tapi setelah satu jam, tidak banyak lagi kesan baru yang tersisa. Menjelang makan siang, aku sudah siap untuk ditemani.
Aku mengambil makananku dan naik ke dek paling atas. Pria itu sudah menunggu, dan kami duduk bersama di luar, di mana udaranya terasa lebih lega dibandingkan kabin yang penuh sesak. Di sekeliling kami, ruangnya penuh sesak—bagaimanapun, ada sekitar seribu orang dalam perjalanan ini—tapi suasananya meriah.
Kami membicarakan tentang perjalanan, tentang Jakarta, dan tentang kehidupan kami masing-masing. Bagiku, ini adalah kesempatan langka untuk melakukan percakapan panjang dalam bahasa Inggris dengan seseorang selama perjalananku. Dia bahkan membelikanku secangkir kopi. Sama seperti di Malaysia, kopi Indonesia sangat manis, dengan gula yang sudah dicampurkan kecuali kamu secara khusus meminta sebaliknya. Ampasnya sering tersisa di dasar, membuat setiap tegukan terasa berat namun akrab.
Kami berpisah dengan janji untuk bertemu lagi di malam hari.
Pengamatan di Sekitar Kapal

Setelah makan siang, aku berjalan-jalan mengelilingi dek untuk melihat lebih banyak bagian kapal. Satu hal yang mencolok—jumlah perokok yang begitu banyak. Rasanya lebih dari 90% penumpang merokok, memenuhi udara dengan kepulan asap tebal. Bagi seseorang sepertiku yang tidak merokok, sulit untuk menghindarinya. Meski begitu, itu adalah bagian dari suasana, bagian dari cara orang-orang menghabiskan waktu di ruang yang begitu padat ini.
Kemudian, aku kembali ke ranjangku untuk tidur siang. Tidur di tempat tidur bertingkat itu tidak buruk sama sekali, meskipun tidak adanya bantal membuatnya sedikit tidak nyaman. Menjelang malam, tibalah waktu makan malam: seporsi ikan, beberapa sayuran, dan sebuah hidangan mirip bakso. Jumlahnya tidak banyak, tapi rasa ikannya ternyata mengejutkan enaknya.
Dari tempat tidurku, aku menonton TV di sudut ruangan. Salah satu aktor di layar mengingatkanku pada Dr. Hosoi dari program "Reiwa no Tora" asal Jepang. Penasaran, aku menontonnya sejenak, tapi karena tidak banyak yang terjadi dalam acara itu, aku menyerah setelah sepuluh menit.
Percakapan Malam
Pada pukul sembilan malam, aku bertemu kembali dengan pria dari saat makan siang tadi. Kami berdiri di luar lagi, mengobrol seiring malam yang semakin gelap. Dia menjelaskan bahwa begitu kami tiba di Jakarta, dia harus segera bergegas ke bandara untuk terbang ke Labuan Bajo, tempat yang lebih tenang daripada Bali, di mana dia menghabiskan setiap Tahun Baru. Aku mengagumi tradisi itu, membayangkan pantai-pantai tenang yang dia gambarkan.
Sebelum naik kapal, aku sempat khawatir—tentang kebisingan, tentang barang-barangku, tentang apakah aku bisa tidur. Tapi kekhawatiran itu cepat memudar. Bahkan, karena akses internet terbatas di atas kapal, aku malah jadi lebih banyak mengobrol dengan orang-orang, berbagi cerita dan tawa.
Dua hari di atas kapal ini menjadi kenangan yang akan aku bawa selamanya, bukan karena kenyamanan atau kemewahan, tapi karena hubungan antarmanusia yang terjalin. Besok pagi, akhirnya, kami akan tiba di Jakarta.
