Perpisahan di Pronojiwo

9 Februari, Pronojiwo. Setelah tertunda satu hari karena hujan, langit akhirnya cerah. Kali ini, aku tahu aku tak perlu berbalik arah lagi.
Perpisahan ini tidak mudah. Aku telah menginap bersama keluarga Chandra selama empat malam lima hari. Dari saat pertama hingga terakhir, mereka menunjukkan kebaikan dalam berbagai cara, besar maupun kecil. Menyiapkan makanan, berbagi tawa, memperlakukanku seperti keluarga sendiri. Aku menundukkan kepala dengan rasa syukur saat bersiap untuk pergi.
Dengan keringat cepat bercucuran di bawah teriknya matahari, aku memulai perjalanan panjang menuju Jember, sejauh hampir 100 kilometer. 10 kilometer pertama seluruhnya menanjak, tanjakan curam yang menguji kekuatanku. Namun aku tahu begitu melewati bagian ini, sisanya akan menurun. Aku terus mendorong diri maju.
Pertemuan-Pertemuan di Sepanjang Jalan
Di sebuah jembatan besar, aku berpapasan dengan sekelompok pesepeda lokal. Energi dan senyum mereka mengingatkanku betapa banyak kegembiraan yang bisa dibawa oleh jalan terbuka.
Tak lama kemudian, seorang pria memanggilku, memberi isyarat seolah bertanya, "Sudah makan belum?" Aku melambai balik dan melanjutkan perjalanan, tapi beberapa kilometer kemudian, dia sudah menungguku. Yang mengejutkan, dia menawariku segelas air kelapa segar.
Saat kami mengobrol, aku tahu bahwa dia mengenal keluarga Adi—orang yang menampungku hanya seminggu sebelumnya. Yang luar biasa, dia bahkan mencoba menghubungkan kami lewat panggilan video. Adi terlalu sibuk membuat pancake-nya untuk menjawab, tapi kebetulan itu membuatku takjub. Pertemuan seperti ini membuat jalan terasa membawa benang-benang koneksi yang tak terlihat.
Bersepeda Melewati Sawah

Semakin jauh aku mengayuh, rumah-rumah semakin jarang. Tak lama, tinggal aku, jalan terbuka, dan hamparan sawah tanpa akhir yang membentang ke segala arah.
Jalannya sendiri kasar, jauh dari ideal untuk bersepeda, tapi ada kedamaian dalam kesunyiannya. Hanya sedikit mobil yang lewat, dan untuk sesaat, aku merasakan kesendirian perjalanan solo yang sesungguhnya. Di sepanjang jalan, aku menemukan rel kereta tua, yang jelas sudah tak terpakai selama bertahun-tahun. Rel itu menjadi pengingat bahwa beberapa penemuan hanya terjadi ketika kau mengambil jalan yang lebih lambat.
Setelah melewati sawah, 20 kilometer terakhir lurus di sepanjang jalan utama. Saat itu, aku sudah haus dan lapar, jadi aku berhenti untuk minum jus nanas dan semangkuk Soto Ayam. Makanan sederhana, tapi setelah berjam-jam bersepeda, rasanya seperti kenyamanan itu sendiri.
Kemudian, aku memesan jus buah naga untuk kuminum sambil terus mengayuh. Tak lama setelah itu, hujan deras turun lagi. Aku mencari tempat berteduh, dan seorang pria baik hati memberi isyarat agar aku beristirahat di tempatnya sampai badai reda. Satu lagi tindakan kemurahan hati dari orang asing di jalan.
Menginap di Rumah Pohon di Jember

Menjelang malam, aku tiba di Jember. Tempat menginapku malam itu tak seperti tempat mana pun yang pernah kutinggali sebelumnya: sebuah rumah pohon yang dikelilingi kehijauan.
Di dalamnya, dinding-dinding kayu memberi rasa kehangatan dan keajaiban masa kecil. Rasanya seperti markas rahasia yang dulu kuimpikan waktu masih kecil. Kakiku yang lelah melupakan rasa sakitnya seiring hatiku terangkat oleh kegembiraan.
Ketika malam tiba, awalnya aku berpikir akan mencari makan di luar, tapi malah aku diundang untuk makan malam bersama sekelompok orang. Mungkin karena aku belum banyak makan sejak siang, aku akhirnya makan lebih banyak dari siapa pun—cukup untuk tiga atau empat orang, canda mereka.
Di sekitar meja, banyak sesama pesepeda ikut bergabung, berbagi cerita dan tawa. Meski lelah setelah perjalanan 100km, hari itu berakhir bukan dengan keletihan, tapi dengan kegembiraan dan rasa syukur.
Ini adalah hari perpisahan, tantangan, kebetulan, dan kebaikan hati—segala hal yang bisa dikandung sebuah perjalanan dalam satu hari.
