Perpisahan yang Penuh Kebaikan
18 Januari, Yogyakarta. Pagi ini aku meninggalkan hotel tempat aku menginap selama beberapa waktu. Alasan aku tinggal begitu lama, tentu saja, adalah permohonan visaku. Percobaan terakhirku gagal karena sistemnya bermasalah, sehingga aku tidak punya pilihan selain menunggu sampai sistemnya berfungsi lagi.
Dekat hotel, ada sebuah kedai jus buah yang hampir setiap hari kukunjungi. Sebelum berangkat, aku meminta untuk berfoto bersama pemuda yang bekerja di sana. Ia sungguh baik, selalu menyambutku dengan senyuman. Yang mengejutkanku, sebagai hadiah perpisahan, ia memberiku segelas jus nanas.
Itu adalah gestur yang sederhana, tapi menyentuh hatiku begitu dalam. Kebaikannya adalah sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan. Meski mungkin suatu hari aku akan kembali ke daerah ini, kenangan ini akan selalu tinggal bersamaku.
Bersiap untuk Perjalanan ke Depan

Sebelum menuju penginapan baruku, aku mencari beberapa barang yang masih kurang untuk perjalananku. Di sebuah toko kecil, aku menemukan kompor camping portabel seharga sekitar 500 yen. Itu adalah tawaran murah, dan aku tahu itu akan berguna begitu aku sampai di Australia, tempat aku berencana untuk lebih sering berkemah.
Dari toko perlengkapan camping itu, aku kembali menyusuri jalanan dan segera menemukan diriku di sebuah warung makanan.
Makan di Samping Rel Kereta

Warung yang satu ini dibangun tepat di sepanjang jalur rel kereta. Orang-orang bilang daya tarik makan di sana adalah menyaksikan kereta lewat sambil menikmati makananmu.
Aku memesan ayam dengan nasi, membayangkan serunya makan sambil kereta melintas kencang. Tapi ternyata, tidak ada kereta yang lewat sama sekali selama aku makan. Pada akhirnya, itu hanya sepiring makanan sederhana, tapi aku tidak keberatan. Terkadang perjalanan memang seperti itu—kau mengikuti sebuah gagasan, dan ia tidak terjadi seperti yang diharapkan, tapi momen-momen kecil itu tetap berharga.
Sambutan Hangat dari Warm Showers

Malam harinya, aku menuju penginapanku untuk malam itu. Kali ini, aku menginap lewat Warm Showers, sebuah komunitas tempat warga lokal membuka rumah mereka untuk para pesepeda. Bagi seseorang yang berkeliling dunia dengan sepeda, ini adalah jaringan yang sangat berharga.
Tuan rumahku menyambutku dengan hangat dan menawariku tempat yang istimewa untuk menginap—di dalam sebuah ruang salat kecil di rumahnya. Tempatnya sunyi, damai, dan terasa seperti tempat perlindungan setelah perjalanan hari itu.
Saat aku berbaring malam itu, aku merasa bersyukur. Dari kebaikan pemilik kedai jus, hingga kegembiraan kecil dari jajanan kaki lima, hingga kemurahan hati seorang asing yang menawarkan tempat berteduh—Yogyakarta terus mengajarkanku bahwa kebaikan muncul dalam banyak bentuk di sepanjang jalan.
