← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Ban Kempes, Matahari Terbenam, dan Kebaikan di Jalan Menuju Cowaramup

Sarapan Sederhana namun Penuh Kehangatan

Pada tanggal 7 Maret di Busselton, aku memulai hariku dengan sarapan yang disiapkan tuan rumahku: bacon, telur, dan secangkir kopi segar. Daging bukanlah sesuatu yang mudah kubawa selama perjalanan bersepedaku, jadi disuguhi makanan seperti ini terasa seperti hadiah istimewa.

Setelah sarapan, aku mengganti ban baruku—Schwalbe G-ONE All Round—yang kubeli di Bali. Aku menyelesaikan persiapan sepedaku, dan meskipun sebagian besar perlengkapanku masih sama, aku selalu takjub bahwa semuanya masih bertahan setelah menempuh begitu banyak kilometer.

Lalu tiba saatnya berpamitan. Hanya semalam, tapi waktu yang kuhabiskan bersama tuan rumahku sangat berarti. Aku sangat terkejut mengetahui bahwa seorang pesepeda Jepang lain yang pernah kudengar kabarnya—yang juga berkeliling dunia—pernah menginap di sini sebelum aku. Dunia para pelancong sering terasa kecil dengan cara yang menyenangkan.

Menyusuri Jalan-Jalan yang Tenang

Dengan perlengkapan siap dan semangat yang terangkat, aku berangkat menuju Cowaramup. Tak jauh dari Busselton, aku berhenti sejenak untuk makan roti yang sudah kudapat sebelumnya, menikmati ketenangan jalan pesisir. Laut terbentang di sampingku saat aku bersepeda dengan santai.

Di suatu titik, barang bawaan yang terikat di bagian depan sepedaku bergeser sedikit. Bahkan ketidakseimbangan kecil pun mengganggu saat aku bersepeda—rasanya salah, seolah sepeda itu sedang bicara padaku—jadi aku berhenti untuk membetulkannya. Koreksi-koreksi kecil semacam ini adalah bagian dari ritme bersepeda.

Di selatan Busselton, jalan terbuka menuju ladang-ladang tempat kanguru mungkin muncul. Meski tak bisa memotretnya, aku melihat beberapa dari kejauhan. Sebatang pohon yang berdiri sendirian di tengah ladang menarik perhatianku. Entah bagaimana, kehadirannya yang menyendiri terasa simbolis bagi keindahan liar tanah ini.

Jalan yang kupilih bukanlah jalan utama. Aku sudah diperingatkan bahwa jalan barat menuju Margaret River ramai dengan lalu lintas wisatawan, jadi aku memilih jalur yang lebih sepi ini. Dengan begitu sedikit mobil, perjalanan terasa damai dan aman—persis seperti yang diharapkan seorang pesepeda pengembara.

Ban Kempes yang Tak Terduga

Tepat ketika aku sedang menikmati jalan-jalan yang sepi, sebuah masalah muncul: ban kempes lagi. Aku tak menyangkanya, apalagi di jalan seperti ini. Masalahnya, seperti yang kukhawatirkan, ada pada ban dalamnya. Aku hanya punya dua bersamaku, dan keduanya sudah ditambal berulang kali hingga mencapai batasnya.

Meski begitu, aku berhasil melakukan perbaikan sementara dan melanjutkan perjalanan menuju rumah tuan rumahku untuk bermalam. Aku lelah ketika tiba, tapi begitu sampai, tuan rumahku menyambutku dengan ajakan tak terduga:

"Ayo kita pergi menonton matahari terbenam."

Tanpa sempat beristirahat, aku pun ikut bersama mereka.

Matahari Terbenam yang Tak Terlupakan

Kami berkendara ke pesisir, tempat ombak menghantam bebatuan dan matahari meleleh di cakrawala. Tak ada siapa pun di sana—hanya kami, laut, dan langit yang membara. Setelah stres akibat ban kempes tadi, momen keindahan yang tiba-tiba ini terasa seperti hadiah.

Kembali ke rumah, makan malam pun tersaji. Hidangannya berpusat pada sayuran segar, sederhana dan disiapkan dengan sempurna. Duduk di sana, aku memikirkan bagaimana setiap hari dalam perjalanan ini selalu berbeda. Beberapa hari membawa masalah, yang lain membawa kejutan, tapi bersama-sama semuanya membentuk sebuah kisah yang tak akan pernah kulupakan.

Meski ada masalah dengan sepedaku, hari ini berakhir sebagai salah satu yang terbaik—penuh dengan kebaikan, keindahan, dan rasa syukur.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan