← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Ban Hadiah, Pohon Tumbang, dan Perjalanan Hujan Menuju Margaret River

Kopi Pagi dan Taman yang Indah

Pada 8 Maret di Cowaramup, aku memulai hari dengan ajakan yang ramah: "Ayo kita minum kopi bersama." Itu gestur yang sederhana, tapi menentukan suasana pagi yang baik. Aku sudah memutuskan untuk menghabiskan satu hari lagi di sini sebelum melanjutkan perjalanan.

Pemandangan dari pintu depan sungguh menakjubkan. Di Australia, banyak orang bermimpi memiliki taman, dan mereka sangat bangga dalam merawatnya. Setiap kali aku menginap dengan seorang host, aku sering diajak melihat taman mereka, dan masing-masing taman bercerita tentang perhatian dan semangat pemiliknya.

Kunjungan ke Pasar Margaret River

Kemudian, kami menuju pasar mingguan Margaret River. Pada pukul delapan pagi, tempat itu sudah dipenuhi orang. Lapak-lapak berjejer dengan produk buatan rumahan—sayuran segar, buah-buahan, kue-kue panggang, dan hidangan-hidangan kreatif.

Salah satu sorotannya adalah arancini, kroket nasi khas Italia. Yang kucoba dibuat dengan pasta tomat, dan rasanya lezat. Berjalan-jalan di pasar itu, aku merasakan energi yang hidup dari sebuah komunitas yang berkumpul bersama.

Ban yang Mengubah Segalanya

Kembali di rumah, hostku menunjukkan koleksi sepedanya. Banyak host di Australia tampaknya memiliki beberapa sepeda, sering kali dimodifikasi dengan penuh perhatian. Mendengarkan dia menjelaskan setiap komponennya, aku bisa merasakan kecintaannya pada bersepeda, dan aku berpikir betapa beruntungnya sepeda-sepeda itu dikendarai oleh seseorang yang peduli sedalam itu.

Lalu datanglah sebuah kejutan: dia menawariku sepasang ban Schwalbe Marathon—nama yang terkenal di kalangan pesepeda jarak jauh. Alasannya sederhana: "Ini akan membuat perjalananmu lebih lancar."

Aku sebenarnya ingin membeli ban ini di Bali, tapi sudah habis terjual, jadi aku memilih G-ONE All Round, yang lebih cocok untuk medan off-road. Meski G-ONE sudah melayaniku dengan baik, Marathon jauh lebih andal untuk perjalanan jarak jauh. Menerima ban itu terasa seperti diberi kunci menuju kilometer-kilometer yang lebih aman dan lancar di depan. Rasa terima kasihku tak terungkapkan dengan kata-kata.

Jalan Hujan dan Rintangan Tak Terduga

Sebelum berangkat, hostku menyiapkan makan siang yang mengenyangkan: pizza, alpukat, dan telur—perpaduan sempurna antara energi dan nutrisi. Dengan bekal itu, aku berangkat menuju Margaret River.

Tak lama, hujan mulai turun, dan jalan menjadi semakin kasar. Bersepeda di jalan tanah saat hujan itu berbahaya—lumpur bisa dengan cepat menghentikan sepeda di tempat. Aku ingin terus maju sebelum kondisinya makin memburuk.

Tapi kemudian, muncul sebuah tantangan: sebatang pohon besar tumbang menghalangi jalan. Rasanya hampir seperti sengaja diletakkan di sana untuk menghentikan siapa pun yang ingin lewat.

Mengangkat sepeda yang dibebani lebih dari 50 kilogram perlengkapan bukanlah tugas yang ringan. Aku pertama-tama memindahkan tas-tasku satu per satu, lalu meringankan sepeda dengan melepas muatan bagian depan. Perlahan, dengan usaha dan kehati-hatian, aku berhasil mengangkat rangka sepeda melewati pohon itu dan menyusun ulang semuanya di sisi seberang.

Rasanya melelahkan. Hujan dingin dan perjuangan untuk menata ulang perlengkapanku menguras tenagaku, tapi akhirnya, aku berhasil melewatinya. Ini adalah salah satu momen yang mengingatkanku: perjalanan bukan hanya soal jalan yang mulus dan pemandangan yang indah—tapi juga soal menghadapi rintangan dengan tekad.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan