← Cerita
Diary·Indonesia·23 Agustus 2025·3 menit baca

🇮🇩 Sehari Menuju Bandung: Jalan Berlumpur, Perjumpaan Baik, dan Pemandangan Kereta yang Langka

Terbangun Setelah Pendakian

Setelah pendakian gunung yang melelahkan sehari sebelumnya, aku tidur nyenyak hingga sekitar pukul sepuluh pagi. Malam itu sempat terganggu oleh perburuan kecoa—pertarungan yang tidak menyenangkan namun perlu. Sejak bertahun-tahun lalu aku membaca tentang sebuah kasus tragis di China, di mana seekor kecoa masuk ke telinga seorang pria dan menyebabkan kematiannya, aku menyimpan rasa takut yang diam-diam terhadap mereka. Bukan penampilan mereka yang menakutiku, melainkan pikiran tentang apa yang mungkin mereka lakukan saat aku tidur.

Ketika pagi tiba, aku mulai bersiap untuk berangkat. Sepeda dan perlengkapanku semua dalam kondisi baik, tapi pakaianku masih lembap. Aku mengikatnya pada bawaanku agar kering diterpa angin saat aku bersepeda. Rasanya seperti gambaran sepeda seorang pelancong sejati—berantakan, tapi hidup dengan jejak-jejak jalan. Satu-satunya masalah adalah baunya.

Perpisahan dan Kebaikan-Kebaikan Kecil

Saat aku hendak berangkat, seorang sopir truk menyadari bahwa akan sulit bagiku untuk keluar, dan dengan baik hati menyingkir. Itu adalah gestur yang begitu penuh perhatian, dan aku berterima kasih kepadanya dengan tulus. Aku tidak menyangka ada orang yang cukup peduli untuk memberiku ruang, tapi ia melakukannya.

Aku juga merasa sedikit sedih mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak yang sempat kukenal, meski hanya sebentar. Seorang pria dari rumah sebelah mendoakan perjalananku agar selamat. Kata-kata kebaikan kecil ini terus melekat dalam benakku saat aku terus mengayuh.

Perjuangan di Jalan

Jalan dimulai dengan lima kilometer tanjakan lagi sebelum aku akhirnya bisa menurun. Saat turunan terbentang, aku melihat semakin banyak kereta melintas dan merasakan bahwa Bandung sudah dekat.

Tapi kemudian aku tersesat. Tidak yakin dengan arah jalan, aku meminta bantuan warga setempat. Mereka menunjukkan sebuah jalan tanah berwarna cokelat yang akan menuju jalan utama. Aku memercayai saran mereka dan melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian, masalah muncul—bannya terjebak dalam lumpur pekat di sebuah tanjakan. Butuh hampir sepuluh menit bergulat sebelum aku berhasil membebaskannya. Berlumur tanah dan keringat, aku terus melaju hingga jalan menyempit menjadi lorong-lorong kecil yang berliku. Seorang pejalan kaki menjelaskan bahwa gang-gang ini pada akhirnya akan terhubung dengan jalan utama.

Kehidupan Lokal dan Santapan Cepat

Kota yang kulewati memiliki pesona yang riuh dan semrawut. Bangunan-bangunan setengah jadi berdiri di mana-mana, gang-gang sempit berkelok ke tempat-tempat tak terduga, dan rel kereta tiba-tiba muncul di ujung gang. Semuanya berantakan, namun penuh energi.

Aku berhenti untuk makan bakso di sebuah kedai pinggir jalan. Hidangan itu terdiri dari bakso-bakso kecil, dan mengejutkanku, salah satunya ternyata memiliki telur mungil di dalamnya. Sederhana, panas, dan mengenyangkan—persis seperti yang kubutuhkan.

Di desa-desa yang kulewati, aku melihat anak-anak tak henti-hentinya bermain sepak bola. Demam sepak bola mengakar dalam di Indonesia, dan impian mereka untuk mencapai Piala Dunia terasa hampir nyata dalam tawa dan tekad mereka.

Perjumpaan yang Langka

Saat menjelajahi gang-gang berliku, aku bertemu seorang pemuda dengan sepedanya. Sepedanya adalah POLYGON, sebuah merek yang sungguhan, jadi aku bertanya apakah ia menyukai bersepeda. "Ya," jawabnya sambil tersenyum. Setelah mengobrol sejenak, ia menawarkan untuk membawaku ke suatu tempat yang menarik.

Ia menuntunku ke sebuah tempat tersembunyi di mana kereta dapat dilihat langsung dari atas. Bagiku, penemuan-penemuan langka yang hanya diketahui warga lokal seperti ini adalah harta. Berdiri di sana, menyaksikan kereta menderu di bawah kakiku, aku merasa berterima kasih kepadanya. Aku mengucapkan terima kasih dengan sepenuh hati—perjumpaan-perjumpaan semacam inilah yang membuat perjalanan tak terlupakan.

Tiba di Bandung

Saat aku melanjutkan perjalanan, jalan itu perlahan membawaku masuk ke Bandung. Kota ini, lebih besar dan lebih berkembang dibanding pedesaan yang telah kulewati, membawa ritme kehidupan yang berbeda.

Aku check-in di sebuah hotel bernama Ostel. Tempatnya sangat bersih, modern, dan nyaman—dengan mudah menjadi tempat paling elegan yang pernah kutinggali di Indonesia sejauh ini. Sebagian besar tamu tampaknya adalah warga lokal muda, mungkin mahasiswa.

Mengejutkanku, salah satu staf bisa berbahasa Jepang. Ia bercerita bahwa ia mengagumi Jepang karena kebersihannya dan mengenal anime Jepang. Mendengarkannya, aku menyadari bahwa rasa keteraturan dan perhatian di hotel ini mungkin dipengaruhi oleh kekagumannya itu. Itu membuatku merasa disambut sekaligus terhubung, bahkan jauh dari rumah.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan