Rencana yang Berubah

Pada tanggal 14 Desember di Kuala Lumpur, aku sudah berencana bertemu seorang teman. Aku menemukan sebuah kedai makanan, memesan roti hangat, dan duduk menunggu. Aroma rotinya, ringan dan renyah, menemaniku sambil menantikan pertemuan kami.
Tapi kemudian, sebuah foto masuk ke ponselku. Itu dari temanku. Mobilnya baru saja ditabrak dari belakang, dan ia sedang berada di kantor polisi. Untungnya, ia tidak terluka, tapi mobilnya rusak parah. Rencana kami pun batal. Rasa lega datang lebih dulu, karena tahu ia aman. Namun tiba-tiba, hari itu terbuka lebar tanpa jadwal.
Berjalan Tanpa Tujuan
Tanpa tujuan, aku memutuskan untuk berkeliling ke bagian kota yang belum pernah kukunjungi. Satu hal yang kutemukan menarik tentang Kuala Lumpur adalah betapa tajamnya lanskap kota ini berubah. Di satu arah, gedung-gedung pencakar langit dan apartemen modern menjulang berkelompok, simbol kota yang sedang berkembang pesat. Tapi hanya beberapa langkah jauhnya—mungkin seperti jarak antara Shinjuku dan Shibuya di Tokyo—kau menemukan lingkungan yang terasa terhenti waktunya.
Saat aku berjalan mendekati menara-menara itu, kontrasnya semakin kuat. Di antara gedung-gedung kaca dan apartemen mewah berdiri area-area kecil yang tampak terlupakan. Bangunan-bangunan yang termakan usia, jalanan yang terasa terlalu sepi, dan sudut-sudut yang tampak jauh dari kota modern di sekitarnya.
Berdiri di sana, aku perlahan berputar satu lingkaran penuh, menyerap pemandangan 360 derajat. Rasanya seperti dua dunia yang saling berdempetan—satu meraih ke atas dengan ambisi, yang lain berpijak pada kesederhanaan dan kemerosotan.
Kota yang Penuh Kontras

Tokyo, kota asalku, juga penuh dengan gedung-gedung tinggi. Tapi di sana, perbedaan antar distrik tidak begitu mencolok. Di Kuala Lumpur, kontras antara "ultra-modern" dan "hampir terbengkalai" begitu jelas dan tampak dengan cara yang terasa mentah. Menemukan tempat-tempat seperti ini membuat pengembaraan tanpa arah terasa sangat berharga, setiap belokan menawarkan perspektif baru tentang kota ini.
Kembali ke Pasar

Setelah berputar kembali, aku kembali ke pasar yang sering kukunjungi. Di sana, di tengah-tengah lapak-lapak, sesuatu yang mengejutkan menarik perhatianku: kepala seekor sapi, diletakkan seolah menjadi persembahan untuk sebuah ritual sakral. Hidungnya masih mengilap seolah baru saja dipotong.
Aku terdiam sejenak. Berkelana keliling dunia sering membawaku lebih dekat pada kenyataan hidup dan mati. Pertemuan-pertemuan seperti ini mengingatkanku betapa rapuh dan berharganya hidup.
Pada saat itu, aku kembali teringat pada rasa syukur. Aku sering mengingatkan diriku, "Aku harus bersyukur." Tapi suatu hari, aku berharap rasa syukur itu akan mengalir dengan sendirinya, tanpa perlu diingatkan, seperti bernapas.
