Perpisahan dan Awal yang Baru

Pada 22 Desember, tibalah waktunya untuk berpamitan dengan pria yang dengan baik hati menawarkan tempat tinggal untukku di Batu Pahat. Biasanya, ia bekerja di Kuala Lumpur dan hanya sementara berada di sini. Keramahannya lebih dari yang bisa kuharapkan, dan aku merasakan rasa syukur yang mendalam saat mengemasi barang-barangku. Tujuanku hari itu adalah Kulai, sebuah kota tepat sebelum Johor Bahru.
Pertemuan Tak Sengaja di Jalan
Baru sepuluh menit setelah berangkat, saat mengayuh di sepanjang jalan kecil, sebuah skuter berhenti di sampingku. Pria yang mengendarainya bertanya, "Kamu dari mana?" Pertanyaan itu sederhana dan santai, tapi membuka pintu menuju sesuatu yang istimewa.
Saat kami tiba di titik di mana jalan kami akan berpisah, aku berterima kasih padanya. Lalu, tanpa kuduga, ia mengajakku, "Mau sarapan bersamaku?" Tanpa ragu, aku mengiyakan dan mengikutinya.
Kami tiba di sebuah restoran ramai yang dipenuhi warga lokal yang menikmati sarapan mereka. Ia mentraktirku mi goreng dan roti. Aku mengetahui bahwa ia seorang guru sekolah yang senang bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang kehidupan. Kebaikannya—menyapaku, mengajakku, bahkan membelikanku sarapan—memenuhiku dengan rasa syukur.
Rumah Sang Guru

Setelah berpamitan, aku melanjutkan bersepeda selama sekitar sepuluh menit sebelum mendengar seseorang berteriak, "Hei!" dari dalam halaman sebuah rumah. Penasaran, aku mendekat, dan ternyata mengejutkanku, itu adalah pria yang sama lagi. Rumahnya tepat berada di sepanjang rute perjalananku.
Ia mengajakku masuk dan mengenalkanku pada keluarga besarnya, yang tinggal bersama di rumah besar itu. Mereka menyuguhkan kopi dan buah, dan aku menghabiskan waktu satu jam beristirahat di rumah mereka. Ketika tiba waktunya pergi, putranya melepasku dengan senyum dan lambaian tangan. "Datang lagi ya," kata pria itu padaku. Undangan sederhana itu menghangatkan hatiku.
Terik Matahari dan Makan Siang Tak Terduga

Kembali di jalan, matahari semakin terik. Panasnya menguras tenagaku, dan aku harus tidur siang selama satu jam sebelum melanjutkan perjalanan. Namun ketika berangkat lagi, aku menyadari hanya kendaraan konstruksi yang menggunakan jalan itu. Khawatir, aku berhenti untuk meminta saran dari seorang pengemudi.
Ia memperingatkanku, "Kalau kamu lanjut lebih jauh, kamu bisa dapat masalah. Lebih baik ambil jalan lain." Aku pun setuju meski dengan enggan. Kemudian datang kejutan lain—pria ini fasih berbahasa Jepang. Ia pernah belajar dan bekerja di Jepang 35 tahun lalu, mempelajari teknik pertanian sebelum kembali ke Malaysia.
Kami pun akhirnya makan siang bersama. Ia mengenalkanku pada hidangan ikan lokal dari sebuah warung pinggir jalan—pertama kalinya aku berani mencobanya di sini. Aku sebelumnya menghindari makanan semacam itu, khawatir bisa mengganggu perutku, tapi ternyata lezat. Berbagi hidangan itu dengannya menjadi bagian lain yang tak terlupakan di hari itu.
Tiba di Kulai

Dengan petunjuk arah darinya, aku menemukan jalan lurus yang ramah bagi pesepeda dan membawaku dengan lancar menuju Kulai. Setelah dua jam lagi mengayuh, aku akhirnya tiba di penginapanku untuk malam itu.
Tempat itu memiliki desain unik bertema luar angkasa. Lokernya terlihat seperti langsung diambil dari Star Wars, dan kamar-kamar asramanya luas, dengan pencahayaan yang bisa diubah tamu ke berbagai warna. Meski desainnya futuristik, harganya hanya sekitar 1.500 yen—sebuah tawaran murah untuk semua yang ditawarkan.
Di ruang bersama, aku bertemu banyak pekerja migran dari India, Pakistan, Indonesia, dan Bangladesh. Bahkan rak sepatu di pintu masuk menceritakan kisah orang-orang yang datang dari berbagai penjuru, masing-masing dengan impian dan alasan mereka sendiri berada di sini.
