← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·3 menit baca

🇲🇾 Hari Perpindahan, Pertemuan, dan Rasa Syukur di Kuala Lumpur

Pindah ke Tempat Baru

Hari ini adalah hari aku pindah ke hotel baru di Kuala Lumpur. Jauh di dalam hati, aku ingin segera kembali melanjutkan perjalanan, tapi sampai komputerku dikembalikan, aku harus bertahan melewati hari-hari yang sunyi dan penuh penantian ini.

Meski begitu, ada satu hal yang membuat hatiku tenang—hotel ini mengizinkanku menyimpan sepedaku di dalam kamar. Mengetahui sepedaku aman tepat di sampingku memberiku kelegaan yang luar biasa, apalagi karena sepeda itu baru saja kubeli. Kehilangannya karena pencurian adalah sesuatu yang bahkan tak bisa kubayangkan.

Hotel itu sendiri mengejutkan karena luas dan nyaman. Jika harus menyebut satu kekurangan, itu adalah saluran air di kamar mandi yang buruk, meninggalkan bau samar. Tapi ini hal yang umum selama perjalanan. Gagasan tentang "kebersihan yang terjamin" bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan di mana-mana. Sebaliknya, yang ada di sini adalah standar budaya yang berbeda: bukan kesempurnaan yang benar-benar bersih, melainkan "cukup baik untuk kehidupan sehari-hari."

Perjalanan telah mengajarkanku hal ini berulang kali. Ketika kau melemparkan dirimu ke dalam budaya lain, penting untuk beradaptasi dengan aturan dan caranya. Bahkan di dalam negeri sendiri, menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berbeda bisa sulit. Melakukannya di luar negeri bahkan lebih menantang. Tapi dengan setiap kali menginap di hotel, guesthouse, dan asrama, aku mulai menerima ini sebagai bagian dari perjalanan.

Rasa yang Tetap Membekas

Setelah beres-beres, aku berjalan keluar mencari makan siang. Tak jauh dari situ ada warung makan lokal kecil dengan suasana hangat dan ramai. Aku duduk dan memesan, dan yang datang adalah hidangan yang tak akan kulupakan.

Satu hidangan berisi daging empuk bertekstur seperti tulang rawan dengan kerenyahan tersendiri. Yang lain adalah sup kental berisi bakso dan sayuran, rasanya seperti versi Malaysia dari pot-au-feu. Rasanya meresap dalam ke tubuhku. Aku langsung tahu—jika suatu saat aku kembali ke daerah ini, aku akan memakannya lagi tanpa ragu. Tubuhku telah menghafal rasanya.

Dengan energi yang baru, aku melanjutkan perjalanan menuju akomodasi berikutnya—sebuah hostel bergaya asrama.

Kamar yang Tak Biasa

Tempat itu terlihat seperti "penjara bergaya." Sempit dan ringkas, tapi mengejutkanku, tempat itu nyaman. Bahkan dengan tinggi badanku 183 cm, aku bisa meluruskan kakiku dengan mudah. Satu-satunya kesulitan adalah barang bawaanku, yang membatasi ruang untuk berbalik di tempat tidur. Tanpa barang bawaan itu, kamarnya pasti terasa cukup luas.

Setelah memeriksa kamar, aku memutuskan untuk menjelajahi lingkungan sekitar sambil menunggu bertemu seorang pengikut dari media sosial.

Teman Baru di Kota

Selama dua jam, aku berjalan-jalan melewati area hijau sampai akhirnya, aku bertemu dengannya untuk pertama kali. Kami memutuskan langsung pergi makan ramen bersama.

Dia sedang kuliah di Kuala Lumpur, dan sejak awal, cara bicaranya menarik perhatianku. Setiap pemikiran dan setiap kata terasa orisinal dan penuh pertimbangan. Aku mendapati diriku terpikat.

Ramen itu berharga 15,8 RM, sekitar 556 yen—sedikit lebih murah daripada di Jepang. Namun, rasanya terasa jauh lebih ringan. Meski begitu, yang membuatku tersenyum adalah melihat irisan naruto mengambang di mangkuk. Aku sadar sudah lama sejak terakhir kali aku melihat naruto di dalam ramen. Di Jepang, sepertinya kini semakin jarang.

Berjalan di Antara Cahaya Biru

Setelah makan malam, dia mengajakku ke sebuah jalan setapak di sepanjang sungai. Sepanjang sekitar satu kilometer, jalan itu diterangi cahaya biru yang berpendar, seperti sebuah "Gua Bercahaya." Itu mengingatkanku pada Blue Cave di Shibuya, tapi di sini jalannya lebih panjang, lebih tenang, dan tanpa kerumunan.

Kerumunan adalah sesuatu yang selalu sulit kuhadapi, baik di Jepang maupun saat bepergian. Kerumunan mengaburkan indraku. Bahkan jika pemandangannya indah, kepadatan orang meredam kemampuanku untuk merasakannya sepenuhnya. Pemandangan yang seharusnya dinikmati 100% sering kali hanya menjadi 70% karena tekanan dari keramaian.

Namun malam itu, aku bisa menikmati keindahannya tanpa gangguan. Cahaya yang tenang, aliran sungai yang tenteram, dan waktu yang kuhabiskan bersama teman baru—semuanya terasa pas.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan