Perpisahan Hangat Sebelum Hujan

Pada tanggal 14 November, aku kembali mendapati kulitku terbakar matahari. Sinar matahari Thailand punya caranya sendiri untuk meninggalkan bekas, mengingatkanku untuk tidak meremehkannya. Hari ini bukan hari biasa—ini adalah hari aku akan menuju Satun, kota terakhir yang akan kukunjungi di Thailand. Jaraknya sekitar 50 kilometer, tidak jauh dibanding perjalanan-perjalanan lain, jadi aku memutuskan untuk berangkat dengan santai.
Pertemuan di Pagi Hari

Saat aku berkeliling jalanan mencari kedai makanan, seorang pria tiba-tiba memanggilku. "Jenggotmu keren sekali," katanya sambil tersenyum lebar.
Sejak tiba di wilayah ini, aku sudah begitu sering menerima pujian soal jenggotku sampai rasanya hampir aneh. Aku tidak bisa menahan tawa gugup.
Pria itu menjelaskan bahwa banyak kedai di sekitar sana belum buka pada pagi hari. Dia kemudian dengan baik hati menawarkan untuk mengantarku ke salah satu kedai yang direkomendasikannya. Melihat keyakinannya, aku berharap itu adalah sesuatu yang istimewa.
Dan memang benar. Kedai itu menyajikan nasi kuning yang harum dengan ayam—hidangan sederhana namun lezat yang langsung membangkitkan semangatku. Di wilayah ini, tempat banyak orang beragama Islam, aku kadang ragu untuk mengambil foto atau video demi menghormati budaya mereka. Pikiran itu tetap ada dalam benakku saat makan, mengingatkanku bahwa rasa hormat selalu harus didahulukan sebelum dokumentasi.
Setelah selesai makan, pemilik kedai menghampiri dengan sebuah kejutan. "Ini, ambillah," katanya sambil menyerahkan sebuah kantong berisi tiga sandwich. Aku tersentuh oleh kemurahan hatinya. Orang-orang di sini tampak lebih hangat dibanding di kota-kota lain, dan aku merasakan dorongan untuk tinggal lebih lama.
Sebagai pelengkap, dia mengantarku kembali ke guesthouse dengan sepeda motornya. Itu adalah cara sempurna untuk memulai hari.
Perpisahan dengan Teman-teman

Kembali di hotel, aku bersiap untuk berangkat. Boneka dinosaurusku, "Dyna," hadiah dari hari sebelumnya, sudah terikat pada perlengkapanku, siap melanjutkan perjalanan bersamaku.
Aku juga berpamitan dengan staf hotel dan seorang pelancong asal Swedia yang aku temui. Meski hanya singgah sebentar, kebaikan mereka membuatnya berkesan. Aku berterima kasih dengan tulus sebelum berangkat.
Namun saat aku melihat jam tangan, aku sadar waktu sudah lewat pukul 11.30. Itu mengingatkanku—kedai yang aku kunjungi kemarin buka pukul 11. Aku memutuskan untuk singgah sekali lagi untuk berpamitan.
Saat tiba, aku disambut dengan hangat. "Makan siang dulu sebelum pergi," mereka bersikeras. Hidangannya sama seperti kemarin—kaya rasa, gurih, dan tak terlupakan. Menyantapnya membuatku semakin berat untuk pergi. Aku berjanji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti, beberapa tahun ke depan, aku akan kembali.
Saat aku bangkit untuk pergi, mereka memberiku satu hadiah lagi: tiga tusuk sate ayam bakar dan sebuah kaus. Kaus itu bertuliskan "Bike Safety for Kids" di bagian punggung. Sepertinya itu hadiah dari sekolah anak perempuan mereka. Aku benar-benar terharu. Gestur-gestur sederhana yang tulus ini bernilai lebih dari apa pun yang bisa dibeli dengan uang. Aku berjanji pada diriku sendiri akan mengenakannya dengan bangga saat tiba di tujuan berikutnya.
Hujan di Jalan

Akhirnya, tiba waktunya berangkat menuju Satun. Aku mengayuh sepeda meninggalkan kota itu, berseru dalam hati: "Terima kasih, Ligu!"
Namun optimismeku cepat pudar. Di depan, aku melihat gumpalan awan hujan raksasa yang mulai terbentuk. Aku pikir 50 kilometer akan terasa mudah, tetapi aku lupa memperhitungkan cuaca. Di Thailand, badai sore hari adalah hal biasa, dan biasanya yang terbaik adalah menempuh jarak sebelum badai tiba. Kali ini, aku terlambat.
Badai tiba-tiba melepaskan kekuatannya yang menakutkan. Hujan turun deras tanpa henti, membanjiri jalan hanya dalam hitungan menit. Aku bergegas berlindung di sebuah bangunan terbengkalai yang misterius di dalam hutan. Semua yang kubawa basah kuyup, dan aku sekali lagi diingatkan akan dahsyatnya kekuatan hujan di Thailand.
Rasanya seolah badai itu sendiri sedang memperingatkanku: "Berhati-hatilah saat kau tiba di Malaysia."
Tiba di Satun

Meski hujan turun-naik sepanjang jalan, aku berhasil mencapai penginapan untuk malam itu. Aku menggunakan "Warm Showers," sebuah layanan yang mirip dengan Couchsurfing, yang menghubungkan pelancong dengan penduduk lokal yang bersedia menjadi tuan rumah.
Setelah beristirahat sebentar, tuan rumahku mengajakku mengunjungi pasar malam. Suasana yang ramai, penuh warna, aroma, dan suara, adalah persis jenis pemandangan yang paling aku sukai dari bepergian.
Sambil berjalan di antara kios-kios, aku diam-diam mengulangi rasa syukurku: "Terima kasih telah mengajakku."
Besok, secara kebetulan, aku akan berkesempatan menyaksikan Loy Krathong, salah satu festival paling ikonis di Thailand. Momen itu terasa seperti sebuah keajaiban. Apa pun yang akan dibawa hari esok, aku tahu itu akan menjadi sesuatu yang tak terlupakan.
