Perpisahan dengan Tree Sleep

Setelah berhari-hari merasakan kenyamanan dan keakraban, tibalah waktunya untuk berpamitan dengan Tree Sleep. Setiap pagi selalu dimulai dengan rutinitas sederhana yang sama: semangkuk cornflakes dan beberapa lembar roti. Itu menjadi bagian dari ritmeku, sepotong kecil rumah di negeri asing. Namun dalam perjalanan, perpisahan tak terelakkan.
Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya, pukul lima. Ternyata itu keputusan yang tepat. Aku akhirnya menyelesaikan sesuatu yang sudah kutunda berminggu-minggu—membagikan perjalananku dalam bahasa Inggris. Pagi hari yang awal benar-benar membawa berkah tak terduga. Setelah itu selesai, aku berkemas, menyesuaikan sepedaku, dan bersiap untuk jalan.
Hari ini akan menjadi perjalanan terpanjang sejak memulai perjalanan keliling dunia ini: lebih dari 90 kilometer. Namun dengan cuaca yang baik dan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan, aku merasa siap dan bersemangat.
Jalan yang Terbentang

Jalanannya mulus, dan pemandangannya menggoda. Namun baru dua puluh menit berjalan, aku sudah basah kuyup oleh keringat. Keringat di jalan bisa berbahaya—begitu didinginkan oleh angin, tubuh cepat menggigil. Aku teringat hari pertamaku bersepeda keluar dari Bangkok, ketika sakit menyerangku dengan keras. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengulangi penderitaan itu.
Tepat saat aku fokus menjaga kondisi tubuh, rasa sakit menjalar di kakiku. Sesuatu telah menyengatku. Gatal yang tajam itu tak tertahankan, jauh lebih parah dari gigitan nyamuk mana pun. Aku mengatupkan gigi dan terus melaju, mengingatkan diri sendiri bahwa ketidaknyamanan pun adalah bagian dari perjalanan.
Di sebuah kedai pinggir jalan, aku berhenti untuk sarapan. Awalnya, kupikir hidangan itu terlalu ringan, hanya bubur nasi. Tapi saat kusantap, kutemukan bakso lembut tersembunyi di dalamnya. Hangat, mengenyangkan, dan memberiku kekuatan yang kubutuhkan. Aku berterima kasih kepada staf dengan senyuman, sungguh bersyukur atas kebaikan mereka.
Pemandangan Baru, Perjumpaan Baru

Setelah bersepeda sekitar 50 kilometer, aku menyadari betapa istimewanya rute ini. Pegunungan membentang di cakrawala, berdiri dekat seakan mengawasiku. Lanskapnya berbeda dari yang pernah kulihat sebelumnya, dan itu mengisiku dengan energi.
Ada hal lain yang juga menarik perhatianku—tidak ada anjing menggonggong. Di banyak kota, anjing liar selalu menjadi sumber ketegangan yang konstan, tetapi di sini, keheningan menggantikan rasa takut itu. Lebih dari itu, orang-orang di sini menyambutku dengan senyum hangat dan lambaian tangan. Sepertinya ada lebih sedikit kecurigaan, lebih sedikit jarak. Banyak penduduk lokal yang beragama Muslim, dan aku memperhatikan betapa umumnya jenggot di sini. Entah bagaimana, kehadiran mereka membuat suasana terasa lebih tenang, lebih lembut.
Tak lama kemudian, muncul sebuah tanda: "Cave." Penasaran, aku mengambil jalan memutar singkat. Pintu masuknya sepi, tak berpenjaga, mungkin hanya buka pada musim-musim tertentu dalam setahun. Meski begitu, aku mengagumi bebatuan tajam yang menggantung dari langit-langit, diterangi samar oleh cahaya siang. Rasanya misterius, seolah gua itu menyimpan rahasianya sendiri. Lain kali, aku berjanji pada diriku, aku akan memeriksa musimnya dan kembali.
Santapan di Jalan

Untuk makan siang, aku berhenti di kedai lain untuk mi. Sekilas, kuahnya terlihat sangat kaya, tapi ketika kucicipi, rasanya justru ringan. Aku terkekeh sendiri, bertanya-tanya bumbu apa yang digunakan—atau tidak digunakan. Meski begitu, aku menghabiskan semangkuk penuh dengan penuh rasa syukur dan berterima kasih kepada perempuan yang menjaga kedai itu.
Makanan di jalan tak pernah sekadar soal mengisi perut. Itu juga soal koneksi antarmanusia. Setiap mangkuk, setiap piring, datang dengan senyuman, sebuah isyarat perhatian.
Tiba di Guesthouse

Menjelang sore, aku akhirnya tiba di guesthouse-ku. Kamarnya luas, dan Wi-Fi-nya lebih cepat dibanding tempat mana pun yang pernah kutinggali sejauh ini. Kenyamanan kecil seperti ini terasa begitu besar saat menempuh perjalanan jauh.
Aku memperhatikan sesuatu selama perjalananku: meski sebuah hotel terlihat "tidak tersedia" di Google Maps, berjalan masuk langsung sering kali berhasil. Mungkin para pemilik lebih memilih untuk tidak membayar komisi ke situs pemesanan. Bagaimanapun, aku belajar untuk lebih percaya pada perjumpaan langsung ketimbang label digital.
Tapi ada hal yang lebih mendesak untuk dipikirkan—uang. Dengan hanya tersisa 240 baht, dan perjalanan feri di depan, aku tidak yakin apakah itu cukup.
Hadiah Tak Terduga
Sebelum keluar untuk menukar uang, aku menjemur cucianku di taman. Tepat saat itu, aku bertemu sebuah keluarga yang menjalankan kedai makanan di dekat sana. Mereka menawarkan untuk mengantarku ke ATM. ATM terdekat berjarak lima menit dengan sepeda motor—jarak yang mustahil ditempuh dengan berjalan kaki di tengah panas. Kebaikan mereka sungguh menyelamatkanku.
Saat kami kembali, putri kecil mereka mengejutkanku dengan kata-kata yang tak akan pernah kulupakan. Di Jepang, aku sering diberi tahu bahwa jenggotku membuatku kurang menarik. Tapi gadis kecil ini, yang usianya belum lebih dari anak sekolah dasar, memandangku dan mengatakan sesuatu yang positif tentang jenggot itu. Mendengar kata-katanya membuatku sangat bahagia.
Dan kemudian, kejutan terbesar dari semuanya: ia memberiku sebuah boneka dinosaurus sebagai hadiah. Aku tak bisa berkata-kata. Sebuah gestur yang begitu tulus dan tak terduga, memenuhiku dengan kebahagiaan. Aku berjanji untuk membawanya dalam perjalananku sebagai harta.
Memberi Sesuatu sebagai Balasan

Kembali di guesthouse, aku merasakan dorongan kuat untuk memberi sesuatu sebagai balasan. Aku memeriksa barang-barangku dan mataku tertuju pada sebuah yukata—pakaian tradisional Jepang—yang diberikan nenekku. Aku telah membawanya sepanjang perjalanan ini namun jarang memakainya.
Aku berpikir: suatu hari, ia mungkin rusak terkena hujan, atau begitu saja tertinggal. Tapi jika kuberikan sekarang, dan itu bisa membawa senyuman, maka nilainya akan terus hidup.
Maka aku menawarkan yukata itu kepada keluarga tersebut. Ini bukan soal uang atau label "harta". Ini soal berbagi sesuatu yang bermakna, menciptakan lingkaran rasa syukur dan kebahagiaan.
Pada momen itu, aku kembali menyadari bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat, tetapi tentang manusia—dan hadiah, besar atau kecil, yang kita pertukarkan di sepanjang jalan.
