Mencari Kegiatan di Bitung
Saya berada di Bitung tanpa banyak rencana, jenis persinggahan yang biasanya hanya berarti menunggu feri, jadi saya bertanya ke sana kemari mencari sesuatu yang layak dilakukan. Seseorang menyebut sebuah pasar ikan di tepi air, tempat di mana perahu-perahu benar-benar merapat dan hasil tangkapannya ditangani tepat di depan mata. Itu sudah cukup untuk membuat saya bergerak. Saya tidak menyangka momen ini akan berubah menjadi salah satu bagian paling berkesan dari seluruh perjalanan saya.
Melewati Kampung dalam Perjalanan
Untuk sampai ke sana, saya harus melewati jalan kampung terlebih dahulu, bendera merah-putih terpasang berjajar di sepanjang jalan, sebuah truk melintas di depan deretan toko di kedua sisinya. Tidak ada yang dramatis dari bagian perjalanan ini, hanya jalan kampung biasa di Bitung, tetapi justru pemandangan selingan semacam inilah yang kadang bercerita lebih banyak tentang bagaimana sebuah tempat benar-benar hidup, dibandingkan tujuan akhirnya sendiri.

Sebuah Monumen di Gerbang Kampung
Tepat di titik jalan itu berubah menjadi kampung nelayan, sebuah bangunan kayu tua berkaki panggung berdiri di samping papan bertuliskan Titik Nol, dengan patung ikan terpasang di bawahnya. Bangunan ini berfungsi sebagai penanda kampung nelayan, jenis penanda yang diletakkan tepat di tempat yang seharusnya, persis di titik di mana Anda berhenti berada di Bitung secara umum dan mulai memasuki bagian Bitung yang benar-benar hidup dari perikanan.

Pelabuhan yang Dipenuhi Perahu
Melewati monumen itu, pelabuhan pun terbentang, sebuah dermaga beton panjang dengan perahu-perahu kayu kecil yang ditambatkan berjajar, pagar pipa biru membentang di sepanjang tepinya, sepeda motor terparkir di mana pun ada ruang. Lebih jauh lagi, kapal-kapal ikan yang lebih besar berlabuh berkelompok, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan untuk sebuah kota yang selama ini hanya saya anggap sebagai persinggahan feri. Hanya dengan melihat berapa banyak perahu yang benar-benar beroperasi dari sini saja sudah menyampaikan sesuatu yang tidak pernah ditunjukkan oleh terminal feri.

Kota Cakalang
Tidak butuh waktu lama untuk mendengar julukan yang dipakai penduduk setempat untuk tempat ini: Kota Cakalang. Perekonomian Bitung sangat bertumpu pada cakalang, bersama tuna berukuran penuh, spesies tuna yang lebih kecil yang secara kolektif disebut tongkol, dan ikan kecil sejenis makarel yang disebut layang. Tempat ini rupanya sudah cukup mapan sebagai pusat spesies-spesies tersebut sehingga namanya muncul dalam tulisan akademis tentang sektor perikanan Indonesia, sebagai kota yang berada dalam posisi baik untuk mengembangkan industri pengolahan di seputar hasil tangkapan ini. Berdiri di pelabuhan itu, semua itu tidak lagi terasa seperti sekadar angka di atas kertas. Rasanya seperti menyaksikan bahan mentah bagi seluruh perekonomian lokal dipanggul lewat begitu saja di depan mata saya.
Menyaksikan Hasil Tangkapan Turun
Yang tidak saya rencanakan adalah bertepatannya kunjungan saya dengan proses bongkar muat yang sedang berlangsung. Sebuah perahu baru saja merapat, dan saya menyaksikan ikan-ikan dipindahkan dari geladaknya ke truk yang sudah menunggu, tali-temali dan rangka derek menggantung di atas, awak kapal bekerja cepat di tengah teriknya udara. Saya jarang mendapat kesempatan untuk berdiri sedekat ini pada momen persis ketika hasil tangkapan berpindah tangan dari laut ke darat, dan ada semacam irama dalam prosesnya yang sulit dijelaskan lewat cerita orang lain, semua orang bergerak dengan efisiensi yang hanya bisa didapat dari melakukan hal yang sama setiap hari.

Kehidupan Pelabuhan yang Biasa, di Kejauhan
Memandang lebih jauh ke sepanjang garis pantai, perahu lain sedang ditarik menyusuri pesisir, tidak ada yang mendesak darinya, hanya satu lagi bagian dari koreografi harian yang sama, berlangsung sedikit lebih jauh dari tempat saya berdiri. Mudah sekali untuk terpaku pada satu momen dramatis di depan mata dan lupa bahwa sebuah pelabuhan yang sibuk seperti ini memiliki beberapa operasi kecil semacam ini yang berjalan bersamaan, sebagian besar tanpa sedikit pun ditujukan untuk ditonton.

Lebih Kecil dari Bayangan Saya, dan Sebuah Nama yang Belum Pernah Saya Dengar
Saya selalu membayangkan tuna sebagai ikan yang sangat besar, tetapi yang turun dari perahu ini berukuran lebih sederhana, hampir bisa dipegang dengan satu tangan, dan seseorang yang ada di sana menjelaskan sebabnya: ini adalah tongkol, kategori tuna yang lebih kecil, mencakup jenis-jenis yang kurang lebih setara dengan marusouda dan hirasouda di Jepang. Bukan berarti ikan yang lebih kecil ini kalah kelas, hanya berbeda jenis saja, dan memiliki nama untuk melekatkan apa yang saya lihat membuat seluruh pemandangan itu tiba-tiba masuk akal, dengan cara yang tidak akan terjadi hanya dengan menontonnya saja. Ikan itu sendiri turun dari perahu langsung ke atas es, tanpa upacara, tanpa jeda, persis kesegaran yang menjadi ciri khas pasar ini.

Murah Karena Dekat
Salah satu alasan yang membuat pasar ini layak dikunjungi, selain sekadar menyaksikan prosesnya, adalah betapa murahnya harga kesegaran itu. Para pelancong yang pernah singgah di sini menggambarkannya sebagai tempat di mana ikan yang baru ditarik dari laut dijual dengan harga nyaris tidak berarti, dan berdiri di sana tidak sulit untuk memahami sebabnya: tidak ada rantai pendingin yang harus dibayar, tidak ada distributor yang mengambil untung, hanya sebuah perahu, sebuah dermaga, dan pembeli yang cukup dekat untuk berjalan kaki ke sana.
Pelabuhan yang Lebih Besar di Baliknya
Aertembaga, pasar dan pelabuhan yang saya masuki tanpa sengaja, berdiri dalam bayang-bayang sesuatu yang jauh lebih besar: PPS Bitung, pelabuhan perikanan samudra berskala nasional yang pembangunannya pertama kali diumumkan pada tahun 2001 di bawah Presiden Abdurrahman Wahid saat itu, kemudian resmi ditingkatkan menjadi status PPS penuh pada tahun 2008. Apa yang saya saksikan di pasar yang lebih kecil terasa seperti ujung eceran, berskala manusia, dari sebuah operasi yang, tidak jauh dari situ, juga berfungsi sebagai infrastruktur nasional yang serius. Dua skala berbeda dari industri yang sama, berjalan berdampingan.
Bitung Lebih dari Sekadar Persinggahan
Saya sudah nyaris mencoret Bitung dalam pikiran saya sebagai sekadar kota yang dilewati dalam perjalanan menuju feri, dan ternyata saya keliru, dengan cara yang seharusnya sudah bisa saya duga sejak lama. Bagian-bagian menarik dari tempat seperti ini jarang memperkenalkan diri dari terminal; mereka muncul karena seseorang kebetulan menyebutkannya, sama seperti saat saya pertama kali mendengar tentang masjid terapung Palu atau berdiri di dalam Sou Raja tanpa pernah merencanakan kunjungan ke keduanya sebelumnya. Saya berterima kasih kepada siapa pun yang memberi info itu, dan sama berterima kasihnya kepada Bitung sendiri, karena ternyata menyimpan lebih banyak hal daripada yang pernah ia repot-repotkan untuk diperlihatkan.