← Lifestyle
Lifestyle·Indonesia·5 menit baca

Pantai Kamali: Tepi Pantai Baubau yang Ternyata Menjadi Kejutan Sesungguhnya

Kota yang Hanya Saya Lihat dari Atas Bukit

Di antara Istana Malige dan skala mentah Benteng Keraton, sebagian besar waktu saya di Baubau habis untuk menatap sejarah, bukan kotanya sendiri. Saya sebenarnya belum benar-benar menyadari bahwa Baubau juga merupakan kota pelabuhan yang masih aktif di pesisir barat daya Pulau Buton, sampai akhirnya saya turun ke tepi air. Apa yang saya temukan di sana ternyata menjadi salah satu kejutan terbaik dari seluruh perjalanan ini.

Ekspektasi Rendah yang Cepat Terkoreksi

Saya akui saya datang dengan ekspektasi yang sederhana. Di banyak kota besar Indonesia, air di dekat pusat kota cenderung menjadi bagian yang paling kurang menarik, keruh, agak terabaikan, lebih terasa sebagai infrastruktur ketimbang pemandangan. Saya mengira tepi pantai Baubau akan mengikuti pola yang sama. Ternyata tidak. Air di sini cukup jernih untuk benar-benar bisa ditembus pandangan, dan berdiri di tepinya sementara matahari perlahan turun, saya sungguh-sungguh dibuat terkejut oleh betapa indahnya pemandangan itu.

Tepi pantai Baubau saat matahari terbenam, air jernih berdebur lembut di pemecah gelombang berbatu di bawah pohon-pohon kelapa.

Jantung Kota: Pantai Kamali

Pantai yang tanpa sengaja saya masuki ini adalah Pantai Kamali, tepat di pusat kota, dan terbagi menjadi tiga bagian yang berbeda. Sisi barat menampung area parkir dan deretan panjang kios makanan. Sisi timur baru hidup setelah gelap dengan para pedagangnya sendiri. Bagian tengah menyimpan patung naga yang oleh warga setempat disebut sebagai simbol kekuatan dan ketangguhan Kesultanan Buton lama, dan sekaligus menjadi tempat orang-orang datang untuk bersantai di malam hari sambil menikmati segelas sarabba, minuman hangat khas daerah ini yang dibuat dari jahe dan rempah-rempah. Seluruh kawasan ini buka dari pukul empat sore hingga tengah malam, yang kebetulan pas dengan waktu kedatangan saya.

Tiba Tepat Saat Pasar Mulai Terjaga

Saya tiba saat cahaya mulai meredup, sekitar pukul lima, yang ternyata bertepatan persis dengan saat kios-kios makanan mulai bersiap untuk malam. Motor dan becak berjajar di pinggir jalan, sebuah gerobak Martabak Bandung menyala di bawah deretan pohon kelapa yang menjulang tinggi, langit di belakangnya membentang dari jingga menuju biru pekat. Makan sambil berkeliling pasar semacam itu, dengan matahari yang benar-benar tenggelam tepat di depan saya, bukan sesuatu yang terjadi cukup sering untuk dianggap biasa saja.

Pasar jalanan yang mulai hidup saat senja di Baubau, kios-kios makanan dan sepeda motor di bawah pohon kelapa yang menjulang, berlatar langit jingga dan biru.

Pelabuhan yang Masih Bekerja, Bukan Sekadar Pantai

Tepat setelah kawasan pasar, pelabuhannya sendiri mulai terlihat, kapal-kapal kecil pengangkut penumpang dan nelayan berjajar bertambat di dermaga, sebuah bangunan pasar tua menjadi jangkar garis pantai di belakangnya. Mudah saja terlupa, saat memandang matahari terbenam yang seindah kartu pos, bahwa jalur pesisir ini juga bekerja sungguhan setiap harinya, mengangkut orang dan barang antara Buton dan wilayah nusantara lainnya, sama seperti yang dilakukan kapal-kapal PELNI dalam skala yang lebih besar di tempat lain di negeri ini.

Perahu-perahu kecil yang bertambat di sepanjang dermaga pelabuhan Baubau, sebuah bangunan pasar terlihat di garis pantai di belakangnya.

Gerbang Penanda Kota

Dekat pelabuhan berdiri sebuah gapura bertuliskan Kota Baubau, berfungsi bukan sebagai pos pemeriksaan keamanan melainkan lebih sebagai penanda, jenis struktur yang memberi tahu Anda bahwa Anda telah resmi tiba di suatu tempat, bukan sekadar melewatinya. Sepeda motor terus mengalir di bawahnya dari dua arah sepanjang waktu saya berdiri di situ.

Gapura bertuliskan Kota Baubau berdiri dekat pelabuhan, sepeda motor melintas di bawahnya dalam cahaya senja.

Bangunan Tua yang Masih Berdiri di Tepi Air

Lebih jauh di sepanjang garis pantai, sebuah bangunan tiga lantai yang lapuk dengan cat merah dan krem yang mulai memudar berdiri tepat di tepi air, bergaya kolonial meski belum tentu berusia setua itu, sebuah truk pengangkut berwarna hijau dan mobil hatchback biru kecil terparkir di depannya. Bangunan semacam ini cukup sering muncul di sepanjang kota-kota pelabuhan Indonesia hingga terasa seperti warisan arsitektur bersama, bukti betapa lamanya tepi-tepi pantai ini sudah menjalankan bisnisnya.

Bangunan bergaya kolonial berwarna merah dan krem yang lapuk berdiri di tepi air di Baubau, sebuah truk dan mobil terparkir di depannya.

Sepi di Siang Hari, Ramai di Malam Hari

Saya juga sempat melewati plaza yang sama di siang hari, deretan kursi plastik hijau dan cokelat bertumpuk di sekeliling meja, sebuah kios Bakso berdiri sepi di bawah pohon-pohon kelapa, menunggu keramaian malam yang akan kembali memenuhinya beberapa jam lagi. Melihat ruang yang sama dalam keadaan kosong membuat kontrasnya dengan versi pasar malamnya terasa semakin tajam, meja-meja yang sama yang tadinya dipenuhi orang kini hanya duduk diam di bawah terik matahari, sabar menunggu.

Plaza yang kosong berisi meja dan kursi di samping kios makanan Bakso di bawah pohon kelapa di Baubau pada siang hari.

Air yang Lebih Baik dari Sebagian Tempat yang Pernah Saya Bandingkan

Menoleh kembali ke sepanjang perjalanan ini, air di Baubau ternyata lebih baik dari dugaan saya jika dibandingkan dengan beberapa persinggahan pesisir lain yang pernah saya kunjungi. Garis pantai Ambon juga sempat membuat saya terkesan, sementara Palu lebih saya ingat karena anginnya yang tak henti-henti bertiup ketimbang airnya sendiri. Baubau, yang saya datangi dengan ekspektasi paling rendah di antara ketiganya, justru menjadi yang tampak paling bersih dan paling tenang begitu matahari akhirnya terbenam.

Garis Pantai yang Lebih Panjang dari Waktu yang Saya Punya

Apa yang tidak sempat saya jangkau, dan baru saya ketahui setelahnya, adalah betapa lebih luasnya garis pantai ini di luar Pantai Kamali. Pantai Nirwana, sekitar 10 kilometer ke selatan di kawasan Sula'a, rupanya menjadi persinggahan pertama yang lazim bagi kebanyakan pengunjung Baubau, berpasir putih dengan matahari terbenam yang cukup dipuji, dengan Gua Moko di dekatnya bagi siapa pun yang ingin menggabungkan keduanya. Pantai Batu Sori, sekitar setengah jam berkendara ke arah Kecamatan Bungi, dikenal khusus karena dermaga kayunya yang dibangun tepat untuk jenis foto yang Anda bayangkan dari tempat semacam itu. Lakorapu Puma, jauh melewati Kecamatan Kokalukuna, menjadi tuan rumah Festival Pulau Makassar tahunan dan bisa dijangkau dari Pantai Kamali sendiri dengan perahu motor kecil dengan biaya yang nyaris tak berarti. Ada pula Bukit Wantiro, sebuah puncak bukit dengan papan tanda Baubau raksasanya sendiri yang menghadap ke seluruh kota dan pesisirnya, serta hutan bakau di sepanjang pesisir Lakorogu yang rupanya telah menjadi bagian dari upaya kota ini merambah ekowisata.

Kota Benteng yang Juga Kota Pantai

Saya datang ke Baubau untuk sebuah benteng dan sebuah istana, dan saya bersyukur tinggal cukup lama untuk menemukan tepi pantainya juga. Mudah saja membiarkan satu pemandangan dramatis mendefinisikan seluruh persinggahan dalam perjalanan semacam ini, dan Benteng Keraton cukup dramatis untuk melakukan persis itu. Tapi Pantai Kamali saat matahari terbenam, asap kios makanan yang mengambang melewati pohon-pohon kelapa dan sebuah pasar yang terjaga seiring langit berganti warna, adalah bayangan Baubau yang sesungguhnya terus saya ingat kembali.