Memberanikan Diri Masuk ke "Extreme Market" Tomohon
13 Agustus, hari keduaku di Manado.
Misi hari ini cukup besar: pergi ke kota dataran tinggi bernama Tomohon. Kenapa? Untuk menyusup ke "Extreme Market" yang terkenal itu. Persis seperti namanya—pasar lokal yang keras di mana mereka menjual daging anjing, monyet, dan ular. Aku sedikit gentar, tapi aku tahu aku harus melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
Rintangan pertama: cara ke sana. Aku pergi ke terminal bus, tapi mereka menerapkan aturan klasik lokal—"bus besar tidak berangkat sampai penuh." Karena tidak ingin menunggu selamanya, aku akhirnya berhasil menyetop taksi bersama lokal. Perjalanan singkat dengan ongkos 20.000 rupiah (sekitar $1.30 USD), dan aku pun berangkat.

Tomohon sendiri terletak di pegunungan, jadi udaranya sejuk luar biasa. Kota ini sebenarnya terkenal dengan bunga-bunganya, dan suasananya sangat tenang dan santai. Tunggu, benarkah ini tempat asal Extreme Market itu? pikirku.

Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan seorang anak lokal yang ramah di dekat pintu masuk pasar.

Setelah bertanya-tanya, aku mengetahui bahwa tidak semua bagian pasar itu "extreme"—hanya satu bagian jagal tertentu yang tersembunyi di bagian belakang.

Melangkah masuk ke bagian tersebut, akhirnya aku menemukannya.

Yup, ular. Bukan yang masih hidup, tapi sudah diproses dan dijual layaknya daging lain di tempat jagal. Pemandangan yang cukup surreal.

Kelelawar juga ada.

Dan hewan-hewan kecil yang bahkan tidak bisa kukenali sama sekali.

Uji Rasa: Daging Ular dan Anjing
Karena sudah terlanjur di sana, aku memutuskan untuk mencobanya sekalian di sebuah kantin di dekat situ.

Aku memesan daging ular dan daging anjing.

Pertama, ular. Jujur? Tidak buruk sama sekali. Teksturnya cukup kenyal—meski tidak sekeras alligator—dan rasanya cukup enak.
Daging anjing, di sisi lain... itu perjuangan tersendiri. Bau amisnya sangat menyengat! Dagingnya dilapisi semacam pasta kental mirip hati yang membuatnya cukup intens dan jujur saja agak sulit untuk ditelan. Kalau tidak dibumbui dengan sangat kuat, mungkin aku tidak akan bisa menghabiskannya. Meski begitu, ini adalah pengalaman yang sangat nyata menyelami budaya kuliner lokal.
Woloan: Desa Rumah-Rumah Kayu yang Indah
Setelah makan siang yang intens itu, aku berjalan ke arah barat dari Tomohon menuju sebuah kawasan bernama Woloan.
Tempat ini terkenal karena memproduksi rumah kayu tradisional dengan metode "knockdown" (prefab).

Berjalan menyusuri jalan utamanya sungguh menakjubkan. Rumah-rumah kayu berwarna cokelat yang indah berjejer di kedua sisi jalan seperti museum hidup. Aku bahkan bisa menyaksikan langsung para pengrajin sedang membangun dan merakit rumah-rumah tersebut di tempat. Ini adalah kontras yang indah dan tenang dari energi liar Extreme Market.
Minuman Keras Lokal yang Membara: "Cap Tikus"
Menjelang malam, aku kembali ke Manado.

Saat makan malam di tempat yang sudah familiar, sebuah keluarga lokal mengajakku mengobrol.

Mereka sangat menyukai Jepang, dan setelah mengobrol sebentar, mereka bersikeras agar aku mencoba minuman yang mereka bawa, bernama "Cap Tikus."

Ini adalah minuman keras hasil sulingan tradisional yang terkenal di Sulawesi Utara, dan sungguh—kadar kekuatannya di luar nalar! Ini pada dasarnya adalah "air api" lokal.

Tapi ini juga menjadi sebuah penyadaran yang besar. Saat memikirkan Indonesia, aku biasanya membayangkan pulau-pulau yang mayoritas Islam seperti Jawa, tempat alkohol sangat jarang ditemukan. Karena Manado dan Tomohon memiliki populasi Kristen yang besar, minum secara terbuka adalah hal yang benar-benar normal di sini. Ini adalah pergeseran budaya yang sangat menarik untuk kualami secara langsung.
Apa Selanjutnya?
Besok, 14 Agustus, dimulai dengan misi ke kantor pos untuk mengirim beberapa barang kembali ke Jepang. Setelah itu, aku berencana menjelajahi lebih banyak sudut Manado dan mencari tahu terminal bus untuk tujuan berikutnya: sebuah kota bernama Bitung. Petualangan berlanjut!
