Udara Pagi dan Aroma Kopi

Aku bangun di sebuah area perkemahan yang sunyi. Napasku memutih di udara yang dingin, dan saat aku memenuhi paru-paruku dengan angin pagi yang segar, kelelahan hari kemarin terasa mereda.
Aroma kopi membantu melarutkan sisa kantukku. Setelah sarapan sederhana, aku singgah di resepsionis untuk mengucapkan satu kalimat saja.
"Terima kasih. Mungkin suatu hari nanti kita akan bertemu lagi."
Dengan kata-kata itu, aku mulai mengayuh pedal sekali lagi.
Tertarik pada Laut

Tak lama setelah berangkat, aku merasakan tarikan tiba-tiba—bukan dari peta, melainkan dari hatiku. Aku ingin melihat laut.
Jadi aku mengambil sedikit jalan memutar, dan di sanalah lautnya: air biru jernih, ombak bergulung masuk dan keluar dengan tenang. Pikiranku menjadi tenang, dan kebisingan yang kubawa dalam diriku pun lenyap.
Laut, aku sadari, adalah semacam titik awalku.
Jalan Lurus Menuju Kejauhan

Kembali ke jalan pedalaman, aku mengayuh melewati udara dingin dan kesunyian yang kosong. Jalannya membentang tanpa akhir, tak lain hanyalah garis-garis lurus.
Setelah sekitar 50 kilometer, sebuah kota kecil muncul—Robe.
Angin Laut yang Dingin dan Ketenangan Kota

Robe sungguh indah.
Suhu udara sekitar 16 derajat, tetapi angin dari laut begitu tajam hingga terasa jauh lebih dingin. Namun bahkan rasa dingin itu diperhalus oleh keindahan lautan.
Suara ombak di kejauhan terasa menenangkan.
Aku mencari tempat berkemah di kota itu tetapi tidak menemukannya, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh.
Akhirnya aku menemukannya—sebidang tanah terbuka yang kecil, dikelilingi pepohonan, sunyi dan diam.
Di sinilah aku mendirikan tenda untuk bermalam. Dalam perjalanan, seringkali "tempat-tempat kebetulan" seperti inilah yang meninggalkan kenangan paling dalam.
Aku memasak makan malam, menatap langit yang tanpa bintang, dan berpikir dalam hati: besok, aku akan kembali mengayuh lurus ke depan.
