← Cerita
Diary·Cambodia·21 Agustus 2025·3 menit baca

🇰🇭 Meloloskan Diri dari Pengawasan Anjing-Anjing dan Menyusuri Kamboja

Malam yang Gelisah dan Pagi yang Baru

Pada 31 Agustus, aku terbangun setelah malam yang gelisah di dalam tenda di luar sebuah restoran Korea. Tengah malam, sekawanan anjing mengelilingiku, menggonggong keras dan membuatku tak bisa tidur. Meski begitu, aku tetap aman.

Menjelang fajar, kota itu sudah hidup. Orang Kamboja tampaknya memulai hari mereka lebih awal—pukul 5 pagi, para pedagang sudah menata lapak dan berteriak menarik pembeli dengan energi yang mengagumkan. Sementara teman seperjalananku yang masih muda tertidur, aku bekerja sejenak di dekat tenda. Tak pernah kubayangkan aku akan bekerja di luar sebuah restoran di Kamboja setelah semalaman tidur beralaskan tanah.

Pergulatan dengan Makanan dan Penemuan-Penemuan Kecil

Aku mencoba minuman berenergi untuk membangkitkan semangat, tetapi rasanya begitu tidak enak sampai aku nyaris tak bisa menelannya. Sarapan di sebuah warung pinggir jalan juga tak berjalan mulus—rasa-rasanya bertabrakan begitu buruk hingga aku kesulitan makan. Namun, dengan 70 kilometer di depan, aku memaksakan diri menghabiskan sebagian besarnya.

Setelah ia bangun, kami berterima kasih kepada pengelola restoran atas kebaikannya dan mulai bersepeda lagi. Di sepanjang jalan, kami melewati sapi-sapi yang berkeliaran bebas. Tatapan polos mereka seolah bertanya, "Kenapa kalian bersepeda di sini?" Itu terasa lucu sekaligus menenangkan.

Tak lama, aku berhenti di sebuah lapak pinggir jalan tempat seorang perempuan yang lebih tua menjual es loli. Aku membeli rasa kelapa dan stroberi, hanya untuk mendapati keduanya sama-sama terasa kuat kelapa. Rasa-rasa tak terduga semacam ini sering mematahkan asumsiku, dan aku menghargainya.

Langit cerah, sempurna untuk bersepeda. Aku tahu tantangan akan datang, tetapi jalan itu mengundangku untuk terus maju.

Perjumpaan di Sepanjang Jalan

Setelah beberapa puluh kilometer, aku berhenti untuk beristirahat. Ketika aku meminta "minuman yang enak," mereka membawakanku bir. Bersamanya datang camilan pedas membara, semacam mi kering yang dilapisi bumbu. Rasanya membakar mulutku, tetapi cocok sempurna dengan minumannya. Aku akhirnya tertidur siang selama satu setengah jam dalam kenyamanan tempat itu.

Tak lama kemudian, aku terseret ke dalam sebuah pesta minum warga setempat. Mereka menyambutku dengan hangat, menyajikan makanan dan mengangkat gelas untuk bersulang. Di antara hidangannya ada katak, yang rasanya mengejutkan mirip ayam—empuk dan gurih. Kelompok lain ikut bergabung, dan suasananya penuh semangat muda, dipenuhi tawa dan suara-suara yang mengalahkan musik. Aku pernah mendengar bahwa orang Kamboja sering mengajak para musafir bergabung dalam kumpul-kumpul mereka, dan sekarang aku tahu itu benar.

Akhirnya, Tempat untuk Beristirahat

Hari itu berlalu dengan cepat. Meski aku telah minum bir lebih dari seharusnya, aku sadar aku hanya makan sangat sedikit. Untungnya, aku menemukan sepotong besar ayam goreng, kira-kira dua kali ukuran yang ada di kampung halaman, seharga setara satu dolar. Itu memberiku tepat tenaga yang kubutuhkan.

Menjelang malam, aku mencari tempat aman untuk berkemah. Seorang penjaga keamanan yang baik hati menawarkanku sebuah tempat, meyakinkanku bahwa itu aman—ini adalah zona ekonomi khusus, bebas dari masalah bahkan dari anjing sekalipun. Hujan mulai turun saat aku mendirikan tenda. Makan malamku semangkuk sup mi sederhana, tetapi itu benar-benar memulihkanku.

Berdiri di bawah hujan, aku membasuh kelelahan hari itu dari tubuhku. Rasanya seperti berkah, hadiah untuk membersihkan dan mempersiapkanku untuk esok hari. Dengan hati yang penuh, aku terlelap, percaya bahwa hari berikutnya akan sama baiknya.

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Bagikan