← Cerita
Diary·Cambodia·21 Agustus 2025·2 menit baca

🇰🇭 Sehari di Antara Pasar, Sauna, dan Angkor Wat

Pagi di Pasar

Hari itu dimulai di jantung sebuah pasar, hidup dengan warna, aroma, dan suara yang menarikku dari segala penjuru. Lapak-lapaknya penuh sesak dengan sayuran, buah-buahan, rempah, dan barang-barang asing, bertumpuk dalam kekacauan yang indah. Aku selalu menyukai suasana seperti ini—begitu tak sempurna, begitu manusiawi. Berbeda dari tempat-tempat tertata di mana aturan dan cita-cita mendominasi, kekacauan pasar terasa jujur. Ia menyingkap sesuatu yang alami, sesuatu yang mentah tentang diri kita sebagai manusia.

Saat berjalan menyusuri lorong-lorong yang padat, aku memikirkan betapa aku menikmati membenamkan diri di ruang-ruang seperti ini. Duduk diam, mengamati bagaimana orang-orang mengalir, tawar-menawar, tertawa, bergerak mengikuti insting alih-alih struktur—rasanya seperti pengingat tentang apa artinya benar-benar hidup.

Dengan tas-tas penuh bahan segar, aku meninggalkan suasana ramai itu dan kembali ke guesthouse.

Sauna dan Kenyamanan Sederhana

Di guesthouse, aku masuk ke sauna. Panel-panel kayu, panas yang tenang, rasa terkurung dalam ruang yang entah bagaimana mengingatkanku pada Jepang—semuanya membuatku merasa nostalgia. Udara di dalamnya terasa berat namun menenangkan, membawaku kembali ke hari-hari yang telah lampau.

Setelahnya, aku turun untuk makan siang. Mereka menyajikan kari, dan meski sederhana, rasanya lezat. Sambil makan perlahan, aku merasa kembali membumi. Ada semacam kedamaian khusus dalam makanan sesederhana ini; rasanya bukan hanya ada pada bumbu, tetapi juga pada momen itu sendiri.

Berkendara Menembus Alam

Menjelang sore, seorang staf yang kutemui di sebuah kafe menepati janjinya: mengajakku berkeliling Siem Reap. Kami berkendara dengan sepeda motor, meliuk-liuk melewati kehijauan, dengan angin menerpa wajahku. Jalan membentang melalui ladang terbuka, pepohonan melengkung pelan tertiup angin.

Aku tersadar betapa pentingnya sentuhan dengan alam seperti ini. Tanpanya, ketika hanya dikelilingi beton dan kota, tubuh terasa dua kali lebih lelah, jiwa terkuras. Namun saat terbungkus hijau, dalam lanskap yang belum tersentuh dan tak dipoles, ada sesuatu dalam diriku yang mengendap tenang. Mungkin karena DNA kita menyimpan ingatan akan ruang-ruang semacam ini—ingatan yang lebih tua daripada kota itu sendiri.

Bagiku, perjumpaan dengan alam semacam ini adalah harta. Ia tak bisa direkayasa, tak bisa dibangun terlebih dahulu. Ia hanya ada ketika kita menemukannya secara kebetulan, dan di hadapannya, aku merasakan syukur.

Bobot Sunyi Angkor Wat

Perjalanan itu akhirnya membawaku ke Angkor Wat. Di gerbang masuk, pemandangan batu-batu kuno itu memenuhiku dengan kekaguman yang sunyi. Berbeda dari riuhnya pasar, di sini kesunyian terasa begitu kuat. Dinding-dindingnya seolah memikul beban berabad-abad, sejarah yang tak pernah perlu diucapkan.

Aku memikirkan betapa kecilnya kemungkinan aku bisa sampai ke sini dengan sepeda. Berkat kebaikan hati temanku, aku bisa menyaksikan tempat ini. Rasa syukur melandaku—jenis syukur yang membuatmu berhenti sejenak dan sekadar menarik napas.

Perjalanan punya caranya sendiri merajut momen-momen semacam ini menjadi satu: pasar yang riuh, sauna yang akrab, udara terbuka alam, dan batu-batu khidmat Angkor Wat. Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah ritme yang terasa seperti kehidupan itu sendiri.

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Bagikan