Pagi Tanpa Anjing

27 September. Dari sebuah wild camp jauh di dalam sebuah desa di Thailand, aku menyambut pagi. Yang paling mengejutkanku adalah keheningan malam itu—tidak ada anjing liar. Biasanya, berkemah di daerah pedesaan berarti setidaknya ada satu anjing yang muncul. Tapi semalam, tidak ada satu pun gonggongan. Ketenangan itu terasa aneh, tapi menyenangkan.
Langit menyuguhkan pemandangan yang indah, dan aku merasa bersyukur atas kenyamanan langka berupa istirahat tanpa gangguan. Setelah tendaku dikemas, aku menargetkan perjalanan panjang: Bangkok masih berjarak 180 kilometer. Targetku hari ini adalah menempuh setidaknya 100 kilometer.
Mencari Makanan

Jalanannya mulus, cuacanya bersahabat. Namun bagian tersulit setelah wild camping selalu soal makanan. Tentu saja aku bisa membawa sedikit persediaan, tapi bau yang menyengat bisa menarik perhatian anjing liar di malam hari, jadi aku lebih memilih untuk tidak membawa banyak. Itu artinya pagi ini dimulai dengan pencarian warung makan.
Berbeda dengan Kamboja, Thailand tidak memiliki warung makan di setiap sudut jalan. Terkadang, kau bisa bersepeda sejauh sepuluh kilometer tanpa melihat satu pun toko. Tepat saat aku mulai gelisah, aku melihat sebuah 7-Eleven di kejauhan. Rasa lega pun menyelimutiku.
Sarapanku sederhana: nasi yang sedikit pedas dan sebotol air. Air, pada kenyataannya, telah menjadi pengeluaran terbesar dalam perjalanan ini. Bagi seorang cyclist, air adalah bahan bakar yang lebih penting daripada apa pun. Setelah "mesin"-ku terisi kembali, aku melanjutkan perjalanan.
Jalan Sempit dan Hadiah Tak Terduga

Jalanan berubah menjadi keras. Sama seperti perbatasan Kamboja-Thailand di dekat Poipet, area konstruksi mempersempit jalan hingga terasa berbahaya. Kadang, jalanan itu terasa nyaris hanya cukup untuk satu setengah mobil. Bagi seorang cyclist, setiap truk yang lewat terasa seperti ancaman.
Kemudian, saat haus lagi, aku berhenti di sebuah toko kecil. Dua orang pria duduk di luar. Sebelum aku sadar, mereka menyodorkan air, jus, dan beberapa camilan padaku. Awalnya, aku curiga dengan niat mereka, mengira mereka ingin aku membeli barang-barang yang tidak perlu. Tapi ternyata tidak—mereka hanya murah hati. Aku merasa malu atas kecurigaanku, dan sangat berterima kasih atas kebaikan mereka.
Pasar, Makanan, dan Lebih Banyak Kebaikan

Menjelang siang, aku tiba di kota Prachinburi. Namanya terpampang besar di papan-papan tanda, bukti bahwa itu bukan tempat kecil. Karena lapar, aku berhenti di sebuah warung di pinggir pasar.
Perempuan yang menjaga warung itu mengejutkanku dengan memberikan semangkuk mi instan, lalu minuman yogurt, bahkan roti pizza—tanpa meminta imbalan apa pun. Kebaikannya benar-benar menyentuhku. Sebelum aku pergi, ia tersenyum dan berkata, "Pakai toiletnya dulu sebelum berangkat." Ia memperhatikan setiap detail kenyamananku.
Pagi itu, Thailand sudah memberiku lebih banyak kebaikan daripada yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Ban Bocor dan Orang Asing yang Menolong

Jalanan membentang lurus, mengingatkanku pada Kamboja. Keuntungan dari jalan seperti ini adalah aku tidak perlu terus-menerus memeriksa Google Maps, sehingga menghemat baterai ponselku.
Tiba-tiba, sebuah patung besar muncul di pinggir jalan—patung Buddha, dan mungkin Gandhi di sebelahnya. Permukaan jalan mulai kasar, dan kemudian terjadilah: ban bocor. Bukan sembarang bocor, tapi di roda trailer—tempat terakhir yang aku inginkan untuk bermasalah, dengan 20 kilometer yang masih harus ditempuh.
Kemudian, keberuntungan muncul dalam wujud seorang pria yang lebih tua. Ia keluar, sedikit berbau alkohol, dan awalnya tidak berkata apa-apa. Aku sempat khawatir ia mungkin tidak bisa diandalkan. Tapi kemudian, dengan tangan yang percaya diri, ia mulai memperbaiki banku. Punggungnya kokoh, gerakannya mantap. "Serahkan saja padaku," seolah begitu yang dikatakan oleh sikap tubuhnya.
Dan ia berhasil memperbaikinya. Sempurna. Keraguanku pun lumer menjadi rasa syukur. Ia bukan sekadar membantu—ia bisa diandalkan, bahkan patut dikagumi. Aku berterima kasih padanya berkali-kali. Fanta yang kuminum setelahnya rasanya seperti kemenangan itu sendiri.
Hujan dan Tempat Berteduh

Tidak lama kemudian, hujan deras turun. Dalam hitungan menit, jalanan tergenang, dan bergerak pun jadi mustahil. Tapi aku tidak melihatnya sebagai kemunduran. Perjalananku tidak memiliki tenggat waktu yang ketat. Hujan berarti tempat berteduh, dan tempat berteduh berarti kesempatan baru untuk bertemu orang-orang.
Jadi aku menunggu, menulis blog ini sambil badai berlalu. Dalam waktu satu jam, hujan mereda, dan aku berangkat lagi dengan hati-hati. Jalan basah berarti bahaya—terpeleset, tergelincir, atau ban bocor lagi. Aku memperlambat laju, fokus pada keselamatan.
Kebetulan yang Tak Terpercaya
Dan kemudian, sebuah keajaiban kebetulan terjadi. Sebuah mobil melambat di sampingku. Sopirnya ternyata berasal dari hotel yang sama, tempat aku berencana menginap malam itu. Ia menawarkan untuk membawa bawaanku. Lalu ia tertawa dan berkata, "Pakaianmu bau—ayo kita cuci dulu."
Tak lama kemudian, aku sudah berada di sebuah laundromat, menunggu sambil pakaianku kembali segar. Sambil menunggu, aku membeli sate dan roti sosis dari warung terdekat. Satu lagi kebaikan kecil dari orang asing lainnya.
Akhirnya, aku tiba di hotel. Tempatnya indah—luas, bersih, dengan tempat tidur besar yang menjanjikan istirahat yang sesungguhnya. Setelah hari yang panjang penuh bersepeda, perbaikan, badai, dan kebaikan hati, rasanya seperti surga.
Wajahku di cermin mengatakan yang sebenarnya: lelah, letih. Tapi hatiku penuh.
Selamat malam.
