← Cerita
Diary·Cambodia·21 Agustus 2025·2 menit baca

🇰🇭 Orang Asing Berjenggot di Kamboja

Keberangkatan Pagi

Pada 1 September, aku meninggalkan sebuah tempat yang indah dan mulai mengayuh menuju Phnom Penh, kota terbesar di Kamboja. Di tepi kawasan ekonomi khusus, aku sarapan. Sejak tiba di Kamboja, rasa ketumbar terasa jauh lebih kuat, tetapi hidangan dagingnya tetap lezat.

Mampir ke toilet ternyata kurang menyenangkan. Seorang penjaga yang baik hati memberitahuku bahwa aku bisa menyiram semuanya, tapi toiletnya tidak berfungsi seperti seharusnya. Ia pun membersihkannya sambil tersenyum, dan aku merasa tidak enak hati sekaligus berterima kasih. Setelah itu, aku menyiapkan diri menghadapi panas dan berangkat lagi.

Jalan dan Pemandangannya

Bangunan-bangunan unik muncul di sepanjang jalan, jenis yang tak akan pernah kulihat di Jepang. Namun di atas sepeda, begitu kecepatan sudah didapat, sulit untuk berhenti. Itulah salah satu kekurangan bepergian dengan sepeda—kadang kau melewati begitu saja tempat-tempat yang ingin kau jelajahi lebih dalam.

Di perhentian pertama, aku memperhatikan monumen-monumen yang dihiasi ukiran ular dan gajah, simbol penghormatan. Berada di sana secara langsung membekas di hatiku lebih dalam daripada foto mana pun. Itu membuatku berpikir—andai aku lebih banyak mengambil kesempatan belajar langsung di lapangan sewaktu masih muda, mungkin minatku akan tumbuh jauh lebih luas.

Perjumpaan di Sepanjang Jalan

Akhirnya aku menemukan Sprite seharga sekitar 100 yen. Minuman soda di Asia Tenggara hampir selalu Sprite atau Coke. Seorang pria di dekatku ingin difoto, jadi aku memotretnya—di sini tak perlu khawatir soal hal-hal kecil semacam itu.

Semakin jauh aku mengayuh, aku melihat banyak orang memakai ponsel OPPO. Aku juga membawa satu, jadi mungkin akan mudah diperbaiki di sini. Sebaliknya, Apple jarang terlihat—kadang hanya namanya saja yang dipinjam.

Berhenti di sebuah warung, aku mengetahui rokok berharga sekitar 105 yen. Sangat murah dibandingkan Jepang. Aku tidak merokok, tapi itu membuatku kembali sadar betapa berbedanya biaya hidup sehari-hari di sini. Hidangan daging di warung-warung jarang mengecewakan.

Seorang anak laki-laki ingin mencoba jaket festivalku. Ternyata sangat cocok dikenakannya. Aku juga membagikan stiker anime, dan melihatnya dengan bangga menempelkannya di buku catatannya menghangatkan hatiku. Kami berfoto bersama—ia bahkan mengenakan kaus Demon Slayer.

Ketika aku meminta izin memakai toilet, anak laki-laki yang sama menuntunku dengan hati-hati, memperingatkanku soal anak tangga di sepanjang jalan. Kebaikan seperti itu menyentuh hatiku. Mungkin suatu hari nanti ia akan membantu pelancong lain, sebagaimana ia membantuku.

Hujan dan Tempat Berteduh

Langit menggelap, dan hujan deras pun turun. Aku berteduh di sebuah warung. Di Asia Tenggara, aku perlahan belajar merasakan kapan hujan akan datang, tapi kali ini hujannya tak kunjung reda.

Menjelang malam, pemilik warung menelepon pengelola penginapan untukku. Namun sang pemilik terlihat ragu—"Kami tidak terlalu tahu soal orang asing, dan rasanya kurang pasti." Aku pun memahaminya. Jika seorang pria asing berjenggot muncul di Jepang meminta tempat berteduh, bukankah banyak orang juga akan merasa waswas? Apalagi ketika berita sering memuat kisah-kisah kejahatan.

Meski begitu, aku sangat tersentuh karena ia tetap berusaha, menelepon ke sana kemari demi aku. Akhirnya, satu penginapan bersedia menerimaku. Saat aku tiba di sana, aku sudah kelelahan. Malam itu, aku hanya berbaring, bersyukur atas semua orang yang telah membantuku sepanjang perjalanan.

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Vietnam & Cambodia

Bagikan