Hari Istirahat dan Membaca

Pada 2 Maret, aku terbangun di rumah tuan rumahku di Busselton tanpa rencana untuk bersepeda. Sebagai gantinya, aku menghabiskan sepanjang hari membaca sebuah buku tebal tentang perawatan sepeda yang kutemukan di rumah mereka.
Buku itu berbahasa Inggris, tetapi tetap memikatku. Buku itu membahas semuanya secara mendetail—dari dasar-dasar memperbaiki ban bocor hingga merawat rem cakram, bahkan memeriksa dan memperbaiki rangka karbon.
Pada satu titik, aku berpikir dalam hati, "Aku benar-benar ingin memiliki buku ini." Tapi buku itu setebal 502 halaman, jumlah yang mencengangkan. Itu berarti jika aku membelinya, buku itu akan terlalu berat untuk dibawa dalam perjalananku. Jadi, aku memutuskan untuk tidak membelinya sekarang. Meski begitu, aku berjanji pada diriku sendiri akan membelinya saat kembali ke Jepang.
Bertemu Pesepeda Jepang di Australia

Kemudian di hari itu, aku menerima pesan dari seorang pesepeda Jepang yang sudah beberapa waktu berkomunikasi denganku. Aku pertama kali mengetahui tentangnya beberapa hari sebelumnya saat memeriksa Warmshowers—sebuah platform komunitas bersepeda. Aku melihat sebuah ulasan yang menyebutkan seorang pelancong Jepang baru-baru ini menginap di rumah tuan rumah di dekat situ. Karena penasaran, aku mencarinya di Instagram dan kami mulai berkirim pesan.
Untungnya, waktu kami cocok, dan ia datang ke Busselton untuk menemuiku. Yang membuatku takjub adalah ia sebenarnya sudah bersepeda jauh lebih maju ke depan, tetapi ia berbalik hampir 100 kilometer hanya agar kami bisa bertemu. Kebaikannya meninggalkan kesan mendalam bagiku.
Ia bercerita bahwa tujuannya adalah bersepeda dari Perth ke Esperance—sekitar 1.200 kilometer—selama libur musim semi kuliahnya. Mendengar seorang mahasiswa muda berkata bahwa ia menggunakan masa liburnya untuk menempuh jarak sejauh itu mengingatkanku pada kekuatan rasa ingin tahu dan keberanian di usia semuda itu.
Renungan tentang Pertemuan di Negeri Orang
Aku tidak sering bertemu orang Jepang selama perjalananku, jadi pertemuan ini terasa begitu istimewa. Berbicara dalam bahasa ibu kami sambil berbagi cerita bersepeda membuatku merasa nostalgia sekaligus terinspirasi.
Tekad dan jiwa petualangnya mengingatkanku akan pentingnya tetap memiliki rasa ingin tahu, tidak peduli di tahap kehidupan mana pun kita berada. Pertemuan-pertemuan seperti ini—tak terduga namun penuh makna—adalah hal yang membuat perjalanan ini begitu berharga.
Aku mengakhiri hari itu dengan perasaan bersyukur dan semakin bertekad untuk menghargai setiap pertemuan di sepanjang jalan.
