← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Pagi di Merapi: Perjumpaan, Belimbing, dan Jalan Menuju Sragen

Pagi di Gunung Merapi

26 Januari, di area perkemahan dekat Gunung Merapi. Sekitar pukul 5 pagi, suasana sekitar mulai ramai, dan aku terbangun dengan pemandangan yang menakjubkan. Lanskap pagi itu tak terlukiskan dengan kata-kata, dan bahkan dari kejauhan, aku bisa melihat tanda-tanda aktivitas vulkanik.

Aku bertemu lagi dengan para pemuda yang dengan baik hati berbagi makan malam mereka denganku semalam. Kami berfoto bersama untuk mengenang momen itu. Mereka bercerita bahwa di akhir pekan, mereka sering bepergian keliling Indonesia dengan sepeda motor. Mendengar itu membuatku merasa ada ikatan—kami semua adalah pelancong dengan cara masing-masing.

Saat mereka berkemas, salah satu dari mereka berteriak, “Kami berangkat dulu ya!” Kami berjanji satu sama lain bahwa jika suatu saat aku kembali ke Indonesia, kami akan melakukan perjalanan bersama lagi. Dengan itu, aku pun mulai bersiap untuk berangkat.

Jalan Menurun

Aku menantikan kebebasan turun setelah tanjakan curam kemarin. Namun kondisi jalan buruk, dan kemiringannya terlalu tajam. Alih-alih melaju kencang, aku harus terus menahan rem dan bergerak perlahan.

Itulah salah satu kontras dalam bersepeda: perjuangan melelahkan mendaki, diikuti oleh kelegaan murni saat menuruni jalan. Namun hari ini, aku tidak bisa sepenuhnya menikmati kelegaan itu. Meski begitu, perjalanan ini tetap punya daya tariknya sendiri.

Kira-kira di tengah perjalanan, aku melihat pohon belimbing. Menemukan buah dan tanaman yang belum kukenal selalu membuat semangatku bangkit. Seorang perempuan tua di dekat situ tersenyum dan berkata, “Ambil saja, kamu boleh makan ini.” Ia bahkan menunjukkan arah jalan selanjutnya. Kebaikan seperti ini selalu membuatku bersyukur.

Perjumpaan di Sepanjang Jalan

Melanjutkan perjalanan, aku menjumpai mural di dinding pinggir jalan. Gayanya berbeda dari apa pun yang pernah kulihat sebelumnya, dan aku berhenti sejenak untuk mengamatinya.

Kemudian aku berhenti untuk makan Bakso, sup bakso khas Indonesia. Itu memberiku energi yang kubutuhkan untuk 10 kilometer terakhir. Di pinggiran Sragen, aku bertemu sesama pesepeda. Kami saling menyapa dan bersepeda bersama sebentar sebelum berpisah.

Saat aku tiba di tujuan, aku sudah siap untuk beristirahat. Sebelum makan malam, aku bergabung dengan sebuah keluarga untuk camilan ringan. Kami duduk di atas tikar yang digelar di tanah dan makan bersama dengan cara yang sederhana dan membumi. Keramahan hangat mereka menyentuh hatiku dalam-dalam.

Malam di Sragen

Akhirnya aku tiba di tempat menginap. Aku kembali menyadari betapa banyak orang Indonesia yang mengenakan jersey Manchester United atau Chelsea. Sepak bola ada di mana-mana di sini.

Untuk makan malam, aku menyantap nasi dengan jamur di warung terdekat. Saat makan, seorang pemuda yang duduk di sebelahku mulai mengobrol. Sebelum aku sadari, ia menawarkanku sepotong kue. Warnanya terlihat seperti pewarna buatan, tapi rasa manisnya nyata, dan aku menikmati setiap gigitannya.

Lalu ia berkata, “Kalau besok kamu masih di Sragen, aku akan mengajakmu ke tempat yang bagus naik motor.” Dengan tawaran seperti itu, mustahil untuk tidak tinggal satu hari lagi.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan