Kebaikan Pagi di Tempat Berkemah
Pada 22 Maret, aku bangun di tempat berkemahku sekitar pukul 7 pagi, udara pagi yang sejuk masih menggantung di sekitar area itu. Aku baru saja akan membuat sarapan sederhana ketika seorang pria berjalan menghampiri dari sebuah karavan yang terparkir tak jauh dari situ.
Dengan senyuman, ia menyerahkan secangkir kopi kepadaku dan berkata, "Terus semangat. Aku dulu juga sering bepergian, tapi tidak seperti caramu melakukannya. Aku kagum dengan apa yang kamu lakukan."
Ia kemudian mengajakku melihat bagian dalam karavannya. Semuanya dibangun sendiri—air, listrik, dan ruang ditata sedemikian rupa sehingga ia bisa hidup sepenuhnya secara mandiri. Itu adalah rumah beroda yang mandiri sepenuhnya. Aku tak bisa menahan kekagumanku. Sebagian diriku bahkan merasa sedikit iri, melihat impian "suatu hari nanti" yang ada di kepalaku ternyata sudah dijalani oleh orang lain.
Mengingat Sebuah Janji
Hari itu, aku telah berencana untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Albany. Tapi kemudian aku teringat sesuatu yang penting—sekitar seminggu sebelumnya, aku pernah berjanji pada seseorang, "Ayo kita bertemu lagi."
Aku benar-benar melupakannya sampai saat itu. Perasaan campur aduk antara rasa bersalah dan tekad memenuhiku. Aku tidak ingin mengingkari janji itu, jadi aku berbalik menuju Albany. Jaraknya sedikit lebih dari 10 kilometer—masih bisa ditempuh, tapi berarti harus mendaki tanjakan curam itu lagi. Meski begitu, itu tanggung jawabku. Aku menundukkan kepala dan terus mengayuh.
Di sepanjang jalan, aku berhenti untuk beristirahat dan seseorang menawarkanku segelas jus. Gestur-gestur kecil yang tak terduga ini berulang kali mengingatkanku betapa banyak kebaikan yang ada di jalanan.
Pertemuan Tak Terduga di Perpustakaan

Kembali di Albany, aku singgah di perpustakaan dan bertemu seorang pemuda bernama Eric. Ia sedang bersiap untuk melakukan perjalanan ke Jepang—dengan sepeda. Gaya perjalanannya dan ketertarikannya pada Jepang terasa begitu akrab, seolah jalan kami terhubung secara batin, meski hanya sebentar. Kami tidak bepergian bersama, tapi bertemu dengannya membuat perjalananku terasa lebih kaya.
Kemudian, saat beristirahat di tempat lain, seseorang memberiku es krim dan sosis. Sudah lama aku tidak makan sosis, dan meski rasanya sedikit berbeda dibanding yang kukenal dari Jepang, fakta bahwa itu diberikan kepadaku membuatnya terasa istimewa.
Kembali ke Tempat Berkemah yang Sama

Saat malam tiba, waktu semakin menipis, jadi aku kembali ke tempat berkemah yang sama seperti hari sebelumnya. Makan malam sederhana—hanya nasi—tapi rasa manisnya yang samar memberiku kenyamanan setelah hari yang panjang.
Malam itu, aku mengikuti rutinitas biasa: menata bagian dalam tenda, membuka laptop untuk mengerjakan sesuatu, lalu tertidur.
Pagi hari, bersepeda, makan, tugas-tugas kecil, dan istirahat. Ini adalah ritme yang sederhana, tapi aku menemukan kedamaian di dalamnya. Besok, aku tidak akan kembali lagi ke Albany. Dari sini, jalan baru dimulai, dan aku siap untuk terus melangkah maju.
