Berpindah ke Pusat Kota

Pada tanggal 31 Desember, aku berangkat dari pinggiran kota menuju pusat kota Jakarta. Awalnya aku berencana menginap dua malam lagi di tempatku sebelumnya, tetapi kondisinya terlalu buruk untuk ditahan. Lagipula, ini adalah malam Tahun Baru. Aku ingin menyambut tahun 2025 di tempat yang terasa sedikit lebih baik. Jadi aku memutuskan untuk pindah.
Daerah yang kutinggalkan itu tergolong lingkungan kelas atas, tetapi bahkan di sana aku sering melihat orang-orang mengemis. Mungkin akhir tahun membuat mereka lebih banyak turun ke jalan. Semakin dekat aku bersepeda ke pusat kota, semakin banyak pula mobil dan orang yang kutemui. Pada saat yang sama, semakin banyak pula gang-gang kecil yang bermunculan.
Menemukan Gang-Gang Kecil

Berbeda dengan jalan-jalan utama, gang-gang kecil ini terasa seperti telah menumbuhkan ekosistemnya sendiri. Masing-masing tampak punya karakternya sendiri. Toko-toko berjejer di sepanjang jalan, sebagian menjual barang-barang yang belum pernah kulihat di tempat lain. Bahkan mobil-mobil besar mencoba menyelinap masuk, seolah yakin bisa muat di mana saja.
Gang-gang kecil ini punya daya tarik tersendiri. Begitu mulai menyusurinya, rasanya sulit untuk berhenti. Namun akhirnya aku meninggalkan lorong-lorong sempit itu dan kembali ke jalan-jalan besar yang menuju ke kota.
Tempat Menginap yang Baru
Tak lama kemudian aku tiba di salah satu jalan besar Jakarta, tempat mal-mal, halte bus, dan hotel berdiri berdampingan. Rasanya seperti melangkah ke dunia yang berbeda.
Di hotel baruku, para satpam di pintu masuk terlihat menyeramkan pada awalnya, tetapi ternyata mereka baik hati. Mereka memastikan sepedaku tidak akan dicuri dan menanganinya dengan hati-hati.
Setelah beres-beres, aku menemukan warung kaki lima untuk makan siang—sayur dan telur dengan saus kental, hanya 20.000 rupiah (sekitar 192 yen). Itu mengingatkanku pada Malaysia, tempat warung makan membiarkanmu memilih lauk langsung, tetapi di sini, di Indonesia, menu lebih umum digunakan.
Kembali ke hotel, aku beristirahat sebelum keluar lagi, kali ini untuk menyaksikan kembang api malam Tahun Baru.
Menuju Kembang Api

Karena tahu kerumunan akan sangat padat, aku memutuskan naik kereta. Dari stasiun Manga Besar ke stasiun Cikini hanya 4.000 rupiah (sekitar 39 yen).
Begitu turun, aku melihat gang kecil lain dan tidak bisa menahan diri. Tempat itu bernama Cikini Kramat. Di malam hari, suasananya sangat unik, hampir terasa misterius.
Sekitar pukul 11 malam, aku berjalan menuju lokasi acara. Kerumunannya luar biasa padat—begitu banyak orang hingga aku lega tidak mencoba datang dengan sepeda. Tepat tengah malam, kembang api meletus di langit, menyambut tahun 2025.
Aku membisikkan doa dalam hati: "Semoga tahun ini juga menjadi perjalanan yang indah."
Pertemuan Tak Terduga

Ketika kembang api usai, jalan-jalan dipadati orang-orang yang hendak pulang. Aku bertanya kepada seseorang arah mana yang mungkin lebih sepi dan mengikuti sarannya. Tetapi jalan itu ternyata malah lebih padat dari sebelumnya.
Aku menghela napas dalam hati, "Ini yang terburuk." Namun kemudian aku melihat keributan di depan. Sebuah kerumunan telah berkumpul, dan di tengahnya berdiri sosok yang tampak familier.
Itu adalah presiden.
Aku nyaris tak percaya dengan keberuntunganku. Melihat pemimpin negara di momen-momen pertama tahun baru terasa seperti berkah tak terduga untuk perjalanan yang akan datang.
