← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇲🇾 Perjalanan Tercepatku Sejauh Ini: 140 km Menuju Kuala Lumpur

Meninggalkan JJ Hotel

Pada 26 November, aku berangkat dari JJ Hotel, tempat aku menghabiskan beberapa hari yang nyaman. Setiap pagi, aku mengambil foto profil samping untuk melihat seberapa panjang jenggotku tumbuh—kebiasaan kecil tanpa tujuan nyata, tapi salah satu rutinitas harian yang membuat perjalanan ini terasa menjadi milikku.

Masa tinggal di JJ Hotel mengingatkanku pada sesuatu yang penting: kenyamanan di sebuah hotel bukan hanya soal kamarnya saja, tapi juga soal orang-orang yang bekerja di sana. Kehangatan para stafnya membuatku merasa seperti di rumah sendiri, dan berpisah terasa manis sekaligus pahit. Tapi hari ini, ada lebih dari 100 km menantiku di depan, jadi aku berangkat dengan tekad bulat.

Pisang, Jalanan, dan Penemuan

Tidak jauh dari titik keberangkatan, aku menemukan pisang yang tidak seperti apa pun yang pernah kulihat—besar, ukurannya hampir lucu. Aku bertanya, "Ini beneran bisa dimakan?" dan penjualnya tertawa, berkata, "Tentu saja!" Pisang itu terlalu berat untuk dibawa, jadi aku melewatkannya, tapi momen seperti ini mengingatkanku betapa banyak keberagaman tak terduga yang disimpan dunia.

Aku mengayuh dengan stabil hingga siang hari, sekitar empat jam tanpa henti. Akhirnya, aku menemukan sebuah restoran pinggir jalan dengan kursi merah cerah dan dinding kuning—kombinasi warna yang sering kulihat di Malaysia. Di sana, aku memesan nasi ayam. Saat itu, aku sudah menempuh 80 km, dan dengan sekitar 50 km tersisa, aku butuh bahan bakar untuk dorongan terakhir.

Saat itu juga aku menyadari sesuatu yang mengejutkan: ternyata aku masih bisa menaikkan gigi sepedaku dua tingkat lebih tinggi lagi. Sampai saat itu, aku tidak menyadarinya, padahal aku sudah menempuh semua jarak itu tanpa menyadarinya. Dengan gigi yang lebih tinggi, kecepatanku meningkat drastis.

Terus Melaju dan Menemukan Keseimbangan

Kemudian, aku memanjakan diri dengan CC Lemon pertamaku sejak perjalanan ini dimulai. Aku baru sadar saat itu bahwa CC Lemon ternyata minuman asal Jepang. Penemuan itu membuatku geli—sesuatu yang begitu familiar tapi baru kuketahui sekarang.

Tepat saat aku bersiap untuk kembali mengayuh, hujan deras dan petir datang menggelegar. Aku berhenti dan menunggu. Di jalan, mudah sekali untuk terus berada dalam "mode bertarung," terus maju tanpa jeda. Tapi momen seperti ini mengingatkanku pada nilai dari berhenti, dari mengalihkan otak ke "mode mengamati," membiarkan diriku bernapas dan melihat dunia dengan lebih jernih. Hujan memberiku kesempatan itu.

Tiba Setelah 140 km

Setelah badai berlalu, aku terus mengayuh dan akhirnya tiba setelah hampir 140 km—perjalanan terjauh dan tercepat sejak aku memulai perjalanan ini. Cuaca bersahabat, jalanan sebagian besar datar, dan awan melindungiku dari sengatan matahari. Meski begitu, aku merasa bangga, ingin memberi diriku sendiri penghargaan karena berhasil menyelesaikannya dengan kuat.

Termasuk waktu istirahat, perjalanan ini memakan waktu sekitar 10 jam. Salah satu alasan aku memaksakan diri sejauh itu adalah karena Kuala Lumpur kini hanya berjarak 50 km. Alasan lainnya adalah rasa penasaran: aku ingin mencoba menginap di sebuah guesthouse murah dengan rating buruk untuk melihat seperti apa pengalamannya.

Kenyataannya, jauh lebih baik dari yang kuduga. Para pemiliknya yang berasal dari India dan Sri Lanka tampak sedikit dingin pada awalnya, tapi setelah aku menyapa mereka dengan antusias, "HELLO!!!" beberapa kali, mereka mulai mencair dan tersenyum. Kadang menunjukkan sedikit energi konyol membuat orang lain tertawa, dan hubungan pun terbentuk. Mereka bahkan mengizinkanku membawa sepedaku masuk ke dalam, yang sangat membantu.

Menjelajahi Kuala Selangor

Aku tiba sekitar pukul 6 sore, dengan cahaya matahari yang masih tersisa untuk menjelajahi Kuala Selangor. Kota pelabuhan ini, hanya 50 km dari Kuala Lumpur, dikunjungi bus-bus wisata dan memiliki beberapa daya tarik. Aku mendaki sebuah bukit terdekat yang biasa digunakan penduduk lokal untuk berjalan-jalan dan menemukan monyet-monyet yang jinak di sepanjang jalan setapak. Berbeda dari monyet-monyet agresif yang pernah kulihat di tempat lain, monyet-monyet ini tenang dan mudah difoto.

Dari puncak, aku kembali merasa bersyukur atas Global Wi-Fi milikku. Sesuatu yang tampak biasa seperti akses internet ternyata sama sekali tidak biasa, dan aku merasa berterima kasih sambil memandangi kota di bawah.

Kemudian, aku membeli air di sebuah minimarket. Evian berharga 7,8 ringgit (sekitar 263 yen), jauh lebih mahal dari 1 ringgit yang biasa kubayar untuk merek lokal. Meski begitu, mengetahui alasannya—biaya produksi dan tenaga kerja di luar negeri—membantuku menerimanya.

Untuk makan malam, aku mencoba Goreng Basah dengan harga hanya 8 ringgit (sekitar 280 yen). Rasanya kaya, gurih, dan aku berpikir dalam hati, "Setiap orang Jepang pasti akan menyukai rasa ini." Aku merekomendasikannya untuk siapa pun yang berkunjung.

Saat aku berjalan kembali, Kuala Selangor menunjukkan dirinya sebagai kota yang penuh keindahan, terutama di malam hari. Sebelum datang ke Malaysia, aku tidak punya gambaran jelas tentang negara ini. Tapi sekarang, aku merasa sangat yakin bahwa aku benar telah datang ke sini. Berbeda dari Thailand atau Vietnam, yang sering berada di puncak daftar para pelancong, Malaysia menyimpan harta karun yang tersebar menunggu untuk ditemukan.

Renungan di Penghujung Hari

Kembali di guesthouse, aku memperhatikan keunikan-keunikan kecil: empat stopkontak listrik yang tidak perlu, sebuah jam rusak yang masih tergantung di dinding. Tidak sempurna, tapi punya pesonanya sendiri.

Hari itu adalah hari yang panjang—140 km, rekorku sejauh ini. Tapi lebih dari sekadar jarak, itu adalah hari penemuan: kebaikan orang-orang, kejutan dari makanan, keindahan sebuah kota yang belum pernah kukenal sebelumnya.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan