← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·3 menit baca

🇲🇾 Berpindah Hotel dan Menemukan Pertemuan Baru di Kuala Lumpur

Pagi di Kota yang Sibuk

Tanggal 12 Desember dimulai dengan perpindahan dari satu hotel dekat Kuala Lumpur ke hotel lainnya. Sampai perbaikan komputerku selesai, rasanya aku akan berkeliling kota ini dari satu hotel ke hotel lain.

Pagi hari di Kuala Lumpur selalu dipenuhi kemacetan—baik di jalan-jalan besar maupun gang-gang sempit, mobil tampak memadati setiap sudut. Namun sekitar pukul 10 pagi, kebisingan dan kekacauan akhirnya mereda, dan aku berangkat menuju hotel berikutnya. Pada pukul 11 pagi, aku sudah berada di sekitar sana, meski check-in baru bisa dilakukan pukul 1 siang. Itu memberiku sedikit waktu untuk berjalan-jalan.

Menemukan Chow Kit Market

Di depan hotel berdiri sebuah blok apartemen raksasa, tua dan lapuk dimakan usia. Warnanya yang memudar mengingatkanku pada bangunan-bangunan di Kowloon Walled City, yang dulu ada di Hong Kong. Hanya dengan berjalan kaki lima menit di sepanjang jalan utama, aku sampai di Chow Kit Market.

Pasar itu terbentang di depan, penuh dengan kehidupan. Dari buah-buahan dan sayuran hingga ikan, setiap jenis makanan terpampang di sana. Bagian sayuran terbentang sejauh yang terasa seperti 150 meter, dengan kios-kios berjajar di kedua sisi. Bagian buah sama panjangnya.

Satu buah menarik perhatianku—rambutan. Bentuknya mirip leci tetapi rasanya sedikit lebih asam. Bagian terbaiknya adalah para pedagang sering mengizinkan kita mencicipi sebelum membeli. Dengan begitu, bahkan makanan yang asing pun menjadi lebih mudah didekati.

Seorang pekerja asal Indonesia menawariku sampel demi sampel hingga aku sudah mencoba hampir semua buah di kiosnya. Dia bilang dia meninggalkan Indonesia karena upah di Malaysia jauh lebih tinggi. Di kampung halamannya, orang-orang berpenghasilan sekitar 20.000 hingga 30.000 yen per bulan, tetapi di Malaysia, dia bisa mendapatkan hampir dua kali lipatnya. Mendengarkan ceritanya, aku memahami mengapa begitu banyak pekerja dari Indonesia, Brunei, dan Bangladesh datang ke sini.

Menetap di Cross Roads Hotel

Setelah menjelajahi pasar, aku kembali ke hotel. Kali ini adalah Cross Roads Hotel, tempat sederhana dengan biaya menginap semalam sekitar 2.000 yen. Seperti biasa, begitu aku melangkah masuk, rasa tenang langsung menyelimutiku. Aku beristirahat dengan tenang hingga malam tiba, menunggu untuk bertemu seorang teman.

Reuni dengan Teman Sesama Pelancong

Malam itu, aku bertemu kembali dengan seorang teman yang pertama kali kukenal di Thailand. Sejak itu, dia telah melakukan perjalanan melalui Filipina dan Indonesia sebelum tiba di Malaysia. Bertemu kembali dengan seseorang di negara yang sama sekali berbeda terasa begitu istimewa—sebuah pengingat betapa perjalanan menghubungkan orang-orang lintas batas negara.

Kami tertawa, berfoto bersama di depan sebuah toko aneh dengan tanda "18+" yang mencolok dan sebuah sapu yang dipajang di luar, lalu berangkat menjelajahi jalanan malam Kuala Lumpur.

Jajanan Kaki Lima dan Kejutan Sehari-hari

Berkeliling kota, kami berhenti di kedai-kedai pinggir jalan untuk makan malam. Asia Tenggara tidak pernah mengecewakan soal makanan—hampir semuanya tampak cocok dengan lidah orang Jepang. Aku bahkan melihat sebuah sayuran raksasa yang terlihat seperti edamame berukuran jumbo dan tidak bisa berhenti bertanya-tanya sayuran apa itu sebenarnya.

Saat menyeberang jalan, aku memperhatikan lampu lalu lintas dengan tombol tekan. Awalnya, aku pikir itu rusak, tetapi ternyata lampunya memang tidak akan berubah kecuali tombolnya ditekan. Detail kecil, tetapi cukup membuatku tersenyum.

Kemudian, kami menemukan 7-Eleven Café yang menawarkan promosi es krim lembut rasa mangga hanya seharga 1 RM. Anehnya, staf 7-Eleven lain sebelumnya sempat memberitahuku bahwa tidak ada promosi semacam itu, tetapi ketika aku kembali satu jam kemudian, promosi itu ternyata ada. Mungkin itu hanya bergantung pada suasana hati stafnya.

Bersyukur atas Perspektif Baru

Berkat teman ini, aku menemukan sisi lain dari Kuala Lumpur. Terlalu lama tinggal di satu tempat bisa menciptakan rasa nyaman dan keterbiasaan, tetapi berpindah lagi membuka pintu bagi pertemuan dan pengalaman baru.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan