โ† Cerita
DiaryยทIndonesiaยท23 Agustus 2025ยท4 menit baca

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Perjalanan ke Yogyakarta: Hari Penuh Hujan, Jalan, dan Rasa Syukur

Berangkat Pagi dari Kebumen

14 Januari. Hari ini adalah hari aku akhirnya akan bersepeda menuju Yogyakarta, yang sering disebut sebagai "Kyoto-nya Indonesia."

Sebelum berangkat, aku meluangkan waktu untuk melakukan peregangan dengan saksama. Aku selalu percaya bahwa mengabaikan rutinitas kecil seperti ini bisa menyebabkan cedera seperti otot tertarik, jadi aku memastikan melakukannya dengan tuntas.

Tempat aku menginap semalam adalah sebuah ruang terbuka yang luas, hampir seperti gudang. Mungkin terdengar tidak biasa, tetapi rasanya tenang, aman, dan memberiku tidur yang ternyata sangat nyenyak.

Saat hujan mulai mereda, tibalah waktu untuk berangkat. Beberapa murid dari tuan rumahku, seorang guru bahasa Inggris, bahkan datang untuk melepas kepergianku. Kehadiran mereka, senyum mereka, dan kata-kata hangat mereka mengisiku dengan energi.

Sarapan di Tepi Jalan

Tak lama setelah berangkat, aku berhenti di sebuah warung untuk sarapan. Sekali lagi, aku memesan Bakso. Yang menarik bagiku adalah bagaimana cita rasa hidangan yang sama ini berubah dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah salah satu kesenangan bepergian dengan roda dua โ€” menyadari perbedaan-perbedaan halus dalam makanan yang sudah familier.

Saat sedang makan, sekelompok perempuan menghampiriku, meminta foto bersama. Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya โ€” mengapa begitu banyak orang ingin berfoto denganku? Suatu hari, aku harus bertanya langsung kepada mereka. Meski begitu, kehangatan dan rasa ingin tahu mereka membuatku merasa disambut.

Dengan perut kenyang dan cuaca yang lebih baik, aku berangkat lagi menuju Yogyakarta.

Jalan di Depan

Jalan membentang lurus, seakan tak berujung. Melihat ke sisi kiri dan kanan, aku memperhatikan ladang-ladang kecil dan pasar-pasar lokal yang menawarkan buah dan sayuran khas daerah itu. Bersepeda mengungkap detail-detail yang mudah terlewat oleh mobil atau bus.

Rasa haus akhirnya mendorongku masuk ke sebuah kafe bernama Jumbo. Mengejutkanku, seseorang di sana menyapaku dalam bahasa Jepang. Sekali lagi, aku menyadari betapa banyak orang Indonesia yang sedang mempelajari bahasa Jepang โ€” hal itu meninggalkan kesan yang mendalam bagiku.

Kembali di jalan, aku menyaksikan sebuah jembatan yang terlihat seolah bisa runtuh kapan saja. Pemandangan itu terasa mengganggu, mengingatkanku betapa rapuhnya kehidupan dan infrastruktur.

Namun kemudian, hanya 15 kilometer dari Yogyakarta, aku mendapati diriku berada di jalan yang bisa kugambarkan sebagai jalan paling indah dalam perjalananku sejauh ini. Mulus, sunyi, dan dihiasi kehijauan di kedua sisinya โ€” jalan itu sepenuhnya mengangkat semangatku.

Cita Rasa Yogyakarta

Di sepanjang jalan yang sempurna itu, aku berhenti di sebuah kios jus kecil. Dengan 20.000 rupiah (sekitar $1.70), aku menikmati segelas jus buah yang begitu kaya dan manis hingga terasa seperti energi murni.

Namun begitu aku pergi, awan gelap segera bergulung datang. Dalam hitungan menit, aku mengayuh sepeda sekencang mungkin untuk menghindari tembok hujan yang mengejar. Saat aku tiba di hotel, aku sudah basah kuyup dan kelelahan.

Di sana, seorang satpam yang baik hati melihat sepedaku yang berlumpur dan, tanpa ragu, membantuku mencucinya. Aku sudah berpikir selama berhari-hari bahwa aku perlu membersihkan sepedaku, dan kebaikan tak terduganya menyentuh hatiku secara mendalam. Tindakan-tindakan kecil seperti ini mengingatkanku betapa aku bergantung pada kebaikan hati orang-orang asing.

Hotel itu sendiri berharga sekitar 2.000 yen ($18). Dengan harga itu, aku bisa beristirahat, memulihkan diri, dan membasuh kelelahan dari perjalanan โ€” kenyamanan sejati bagi seorang pelancong.

Kerja dan Renungan

Setelah menetap, aku beralih ke pekerjaan. Sekilas, menyeimbangkan perjalanan dan pekerjaan mungkin terlihat melelahkan, tetapi sebenarnya, tidak memiliki pekerjaan akan jauh lebih berat. Sebagian besar pelancong menabung uang sebelum berangkat, mungkin sekitar tiga juta yen. Namun dana hanya akan berkurang setiap harinya, dan menyaksikan tabungan menyusut bisa membebani pikiran.

Bagiku, perjalanan ini akan berlangsung dalam jangka panjang. Tanpa kemampuan untuk bekerja di sepanjang perjalanan, aku akan segera terpaksa pulang. Itulah sebabnya aku begitu bersyukur kepada perusahaanku karena mengizinkanku untuk terus bekerja dari jarak jauh. Kepercayaan mereka adalah bagian dari apa yang membuat petualangan ini mungkin terwujud.

Malam di Kota

Kemudian, aku keluar untuk menjelajah. Yogyakarta, yang dikenal dengan seni dan sejarahnya, menampakkan dirinya dalam detail-detail kecil โ€” mural, patung, dan pajangan-pajangan jalanan yang memadukan tradisi dengan kreativitas.

Ketika rasa lapar melanda, aku melihat "ramen ala Jepang" di sebuah menu. Karena penasaran, aku memesannya. Yang kuterima adalah semangkuk mi instan, yang ternyata sangat pedas meski kemasannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda itu. Rasanya begitu membakar sampai aku tidak bisa memakannya, dan harus memesan yang lain.

Bahkan setelah meminta "tanpa pedas," makanan itu tetap datang dengan rasa yang membakar. Itu membuatku bertanya-tanya apa sebenarnya yang harus kupesan jika aku benar-benar menginginkan sesuatu yang tidak pedas di kota ini.

Untuk meredakan rasa pedas di mulutku, aku membeli segelas jus buah segar seharga 5.000 rupiah (sekitar 49 yen). Jus telah menyelamatkanku berkali-kali di negara ini. Meski begitu, dengan banyaknya gula yang kukonsumsi setiap hari, aku tidak bisa menahan diri untuk khawatir bahwa pada saat aku meninggalkan Indonesia, berat badanku akan bertambah cukup banyak.

Memories of the Road โ€” Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road โ€” Indonesia

Bagikan