Ketenangan Pagi di Tepi Laut

Pagi keduaku berkemah di pesisir Ceduna dimulai, seperti biasa, dengan secangkir kopi.
Aku memegang cangkir yang masih mengepul di depan tendaku, menatap laut yang tenang. Itu terasa bukan seperti kemewahan—melainkan seperti kedamaian.
"Kenapa tidak menginap satu malam lagi saja?"
Ajakan lembut sang ayah membuatku mengangguk tanpa ragu. Pasangan ini telah membantuku tak terhitung banyaknya. Rasa syukur saja tidak cukup untuk menggambarkannya. Mereka telah memberiku kehangatan, kepercayaan, dan begitu banyak hadiah tak kasat mata yang tak dapat diukur.
Sore Hari di Tepi Air
Pagi berlalu dengan tenang, dan di sore hari, kami memutuskan untuk memancing bersama.
Berdiri di atas pemecah gelombang, kami melemparkan kail ke laut.
Aku tidak begitu ingat apa yang kami tangkap, tetapi aku ingat jelas apa yang terjadi setelahnya: berjalan perlahan di samping sang ayah, memandangi punggungnya saat ia bergerak menyusuri pantai.
Angin laut menerpa kami, dan pada saat itu, sesuatu terasa sesak di dadaku.
Kurasa dalam hati aku tahu, ini mungkin menjadi perpisahan kami—setidaknya untuk sementara waktu.
Perpisahan yang Terbungkus Kebaikan

Tentu saja, kami berpisah dengan senyuman, berkata, "Sampai jumpa lagi." Tetapi di dalam hati, aku memahami betapa beratnya momen ini.
Waktu yang kami habiskan di tepi laut. Bantuan yang mereka berikan padaku. Cara mereka memperbaiki sepedaku. Dua hari ini, yang terbungkus kebaikan, telah menjadi harta yang ingin kusimpan baik-baik di sakuku untuk sisa perjalanan ini.
Suatu hari nanti, di suatu tempat di Australia, aku sungguh berharap jalan kita akan bersilangan lagi.
