Senyum yang Berkata "Enak"

18 September, salam dari Siem Reap.
Sejak tiba di sini, aku mulai merasa semakin nyaman. Irama kata-kata bahasa Khmer yang mengalun di udara, hiruk-pikuk tuk-tuk yang berderak lewat, aroma makanan panggang yang naik dari sudut-sudut jalan—semuanya meresap ke dalam diriku saat aku berusaha menyerap sebanyak mungkin setiap harinya.
Pagiku dimulai lebih awal. Sebelum kota ini terbangun, aku menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan dari Jepang. Sejujurnya, itu melelahkan. Namun bahkan di tengah kelelahan itu, aku merasakan denyut mentah dari kehidupan. Perasaan itulah yang membawaku terus maju.
Menjelang siang, jalanan pun memanggil.
Makan Siang di Warung Baru

Warung yang kupilih hari ini masih baru bagiku, asapnya pekat dengan aroma minyak dan rempah. Di atas meja terhampar ikan bakar tusuk yang berkilau terkena matahari, telur dadar yang penuh sayuran cincang, dan tumisan sayuran hijau yang bercampur dengan irisan daging. Rasanya kaya, mengenyangkan—hangatnya hampir seperti masakan Jepang.
Sebagian orang bilang warung kaki lima itu tidak aman, tapi bagiku, kenyataannya lebih sederhana. Reputasi mereka lebih banyak dirugikan oleh penampilan daripada oleh kenyataan. Meski begitu, aku pernah mendengar peringatannya: minyak daur ulang, dipakai berulang-ulang hingga rasanya menjadi tengik. Para pelancong membicarakannya dengan campuran kewaspadaan dan rasa hormat, sebab tak seorang pun benar-benar tahu kapan keberuntungan akan meninggalkannya.
Aku memercayai instingku dan makan. Suap demi suap, hingga piringnya bersih tak bersisa. Ketika aku mendongak dan berkata "Chigyan" (enak), seluruh wajah pedagang itu langsung berseri. Satu kata itu seolah melunakkan jarak di antara kami. Itu mengingatkanku betapa kuatnya rasa syukur yang sederhana—lebih dari sekadar gestur, lebih dari sekadar senyuman, kata-kata membawa bobotnya sendiri.
Wajah-Wajah dan Percakapan

Setelah itu, aku singgah di sebuah toko kecil untuk membeli topi dan beberapa pakaian untuk perjalanan. Sang pemilik mencondongkan tubuhnya sambil menyeringai dan bertanya, "Menurutmu aku berasal dari mana?"
Aku memperhatikan wajahnya, bingung. Georgia? Ia menggelengkan kepala. "Turki," katanya dengan bangga. Aku tertawa atas kesalahanku sendiri, menyadari betapa masih banyak yang perlu kupelajari. Pertemuan-pertemuan seperti ini—singkat, ringan, namun begitu manusiawi—menjadi pelajaran-pelajaran kecil dalam perjalanan ini.
Toko itu penuh sesak dengan barang-barang, sebagian besar di bawah sepuluh dolar. Banyak hal yang sebenarnya tidak kubutuhkan, tapi topi itu akan menemani perjalananku.
Kejutan di Malam Hari

Makan malam di guesthouse membawa lebih banyak kejutan. Di Kamboja, botol-botol bir kadang menyembunyikan hadiah di bawah tutupnya. Malam itu, seseorang di dekatku memenangkan dua puluh dolar. Orang-orang setempat menyebutnya langka—"selangka bertemu seorang pria yang menarik gerobak melintasi negara." Beberapa bahkan bilang kau bisa memenangkan sepeda motor atau mobil.
Tontonan sesungguhnya datang ketika sebuah kepala buaya tiba di meja kami. Hidangannya hanya lima dolar, tapi pemandangannya saja sudah tak terlupakan. Dagingnya padat, keras dikunyah, dengan rasa yang hanya samar-samar. Garam sedikit membantu, tapi ini bukan pesta untuk lidah. Ini adalah sebuah pengalaman, mentah dan nyata, jenis yang membentuk kenangan perjalanan.
Sambil makan, aku berpikir: betapa beruntungnya aku. Bisa duduk di sini, berbagi meja ini, mencicipi sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Perjalanan tidak selalu mudah, tapi momen-momen seperti inilah yang mengingatkanku—inilah kebahagiaan.
