Pagi Keberangkatan

Halo dari Hiro, pesepeda yang mengelilingi dunia.
Akhirnya, waktu untuk meninggalkan Siem Reap pun tiba. Sambil mengemas tas-tas berat ke sepedaku, aku merasakan campuran akrab antara semangat dan kegelisahan. Sudah lama sejak terakhir kali aku membawa beban seberat ini menuju hal yang tak diketahui. Tapi begitulah sifat perjalanan—kau harus terus melangkah maju, apa pun yang menanti di jalan.
Kemarin, aku sudah mengucapkan perpisahan besar yang penuh haru: "Terima kasih banyak! Aku akan kembali lagi setelah menyelesaikan putaran dunia ini!" Kukira itu sudah menjadi akhirnya. Namun di sinilah aku, melangkah kembali ke kafe yang kucintai. Sedikit malu, memang—tapi lebih banyak rasa bahagia bisa melihat orang-orang yang telah kudekati sekali lagi. Perjalanan penuh dengan kontradiksi semacam ini.
Rantai Pertemuan dan Perpisahan yang Pahit Manis

Sambil menyeruput kopi, aku merenungkan bagaimana perjalanan ini adalah rantai pertemuan dan perpisahan. Setiap hubungan baru membawa beban perpisahan yang pada akhirnya harus terjadi. Itulah yang membuatnya begitu indah, sekaligus begitu menyakitkan.
Aku menyadari betapa besar rasa cintaku pada tempat ini. Perasaan itu mengejutkanku sendiri. Lalu, entah dari mana, sebuah ide cerita—hampir seperti adegan dari sebuah novel—jatuh ke dalam benakku, seolah tercurah dari langit-langit. Judulnya, alurnya, tokoh-tokohnya—semua muncul sekaligus. Aku segera meraih ponselku dan mengetiknya di catatan LINE pribadiku sebelum ide itu menghilang.
Perjalanan mengajarkanku pentingnya menangkap momen. Manusia mengira akan selalu ingat, tapi tiga menit kemudian kita sudah lupa. Kita tidak boleh terlalu percaya pada ingatan diri kita yang tak sempurna ini.
Berangkat dalam Keadaan Lapar

Setelah semua perpisahan itu, keberangkatan yang sesungguhnya pun dimulai. Aku mengayuh menjauh dari kota, baru menyadari bahwa aku belum sarapan. Tak lama, aku menemukan warung makan dan mengisi perutku dengan nasi dan daging. Kehangatan makanan itu terasa seperti bahan bakar yang mengalir langsung ke otot-ototku, mempersiapkanku untuk jalan panjang di depan.
Awan gelap berkumpul di kejauhan, tapi aku berkata pada diri sendiri: Nikmati saja. Hujan adalah bagian dari perjalanan.
Perhentian Sederhana

Setelah tiga jam bersepeda, aku berhenti di sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan. Aku memesan air putih dan Coke, menikmati kenyamanan bangku-bangku kayu di bawah keteduhan.
Toiletnya buatan tangan—kasar, tapi penuh karakter. Pemiliknya bercerita bahwa mereka membangunnya sendiri. Percakapan itu membuatku berpikir: kadang lebih mudah menyerahkan pekerjaan semacam itu kepada orang lain dan fokus pada prioritas sendiri. Namun, ketika kau mengerjakannya sendiri, kau menemukan kegembiraan tak terduga—seperti menyadari, "Ternyata aku menikmati pekerjaan seperti ini." Hidup terus-menerus meminta kita memilih antara efisiensi dan penemuan.
Makan siangku ayam dan ikan segar hasil tangkapan. Di balik meja, aku melihat sesuatu yang tampak seperti kodok—dan mungkin juga tikus. Sekilas, aku teringat hidangan yang pernah kumakan yang terlihat serupa. Rumah makan pinggir jalan selalu mengejutkan dengan apa yang mereka sajikan, dan sebagian keseruannya justru ada dalam rasa penasaran itu.
Badai Datang

Setelah sekitar 35 km bersepeda, aroma di udara membenarkan dugaanku: hujan akan turun. Tak lama kemudian, hujan pun tercurah deras.
Aku buru-buru mencari perlindungan dan berakhir di sebuah tukang cukur kecil. Nama tukang cukur itu Det. Celananya sobek di bagian selangkangan, dan ia bercanda soal itu, membuat kami berdua tertawa. Ia periang, hangat, dan mengejutkanku—usianya sama persis denganku.
Dan kemudian, ia melakukan sesuatu yang tak kuduga: ia menawarkan tempat untukku tidur.
Keramahan di Tukang Cukur

Malam itu, aku menggelar tikar di lantai batu tokonya. Aku terkejut betapa nyamannya rasanya. Det, sambil tersenyum, berkata ia akan senggang sampai pekerjaannya selesai pukul 6 sore, jadi ia mulai mengajariku bahasa Khmer.
Frasa pertama yang benar-benar kupelajari adalah "Aku cinta kamu." Siapa tahu? Mungkin suatu hari nanti aku akan bertemu perempuan Kamboja yang ingin kuucapkan kata itu kepadanya.
Kemudian, aku menyiramkan air dari sebuah ember ke kepalaku—mandi dadakan ala aku sendiri. Setelah bersepeda puluhan kilometer, tidak ada yang lebih nikmat daripada membersihkan keringat dan debu.
Malam Tiba dan Bekerja di dalam Tenda

Ketika malam tiba, aku berterima kasih kepada Det dan istrinya, lalu merangkak masuk ke dalam tenda untuk bekerja dengan laptopku. Perjalanan membuat waktu terasa terbatas. Kau tidak pernah tahu kapan lagi akan menemukan Wi-Fi, listrik, atau fokus untuk duduk bekerja. Jika aku tidak menyelesaikan pekerjaanku saat itu juga, mungkin butuh berhari-hari sebelum kesempatan itu datang lagi.
Dalam artian tertentu, jalanan adalah guru paling keras bagiku—ia terus-menerus mengingatkanku untuk memanfaatkan waktu dengan bijak, membangun kebiasaan bahkan dalam kondisi yang tidak menentu.
Pada pukul 8 malam, dalam keadaan kelelahan, aku pun tertidur.
Kunjungan dari Polisi
Namun pada pukul 10 malam, aku terbangun mendadak. Cahaya senter menyorot ke dalam tenda. Petugas polisi telah datang.
Awalnya, kukira ini akan menjadi akhir malamku di luar ruangan—bahwa mereka akan mengusirku. Namun, mereka hanya bertanya, "Apakah barang-barangmu lengkap? Apakah kamu aman?" Mereka datang bukan untuk menghukumku, melainkan untuk memastikan aku baik-baik saja. Kebaikan mereka menyentuh hatiku.
Mungkin itu semua gara-gara Det—dengan baik hati ia memasang lampu terang di atas tendaku, yang membuatku mustahil untuk tidak terlihat. Tapi berkat dirinya, dan berkat para petugas itu, aku mengakhiri hari itu dengan rasa syukur, bukan rasa takut.
Sungguh hari yang luar biasa: perpisahan, hujan, tempat berteduh, tawa, dan kebaikan. Satu hari penuh dalam kehidupan seorang pelancong.
